Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 86


__ADS_3

Malvyn menatap tajam iPad nya yang menampakkan aksi penembakan yang diberitakan peluru nyasar. Padahal dilihat dengan mata kepala nya sendiri bila penembak itu memang mengarah kepada Aisyah.


Tentu saja ia tahu siapa pelaku dari si penembak itu. Beruntung peluru tersebut meleset hingga hanya mengenai lengan Aisyah.


Malvyn bangkit mendekati tempat tidur dimana Aisyah baru saja tertidur. Dikecup kening dan dibenarkan nya posisi selimut. Setelah itu ia keluar dari Villa menuju ke Villa Jesica.


Ingin sekali rasanya ia melenyapkan wanita itu dan hidup dengan damai bersama Aisyah. Selang beberapa waktu, mobilnya terhenti tepat di depan sebuah Villa yang tak jauh dari Villa yang ditempatinya.


Ketika hendak keluar, Malvyn mengambil senjata api yang dibawanya dan disembunyikan di balik celana panjangnya.


"Honey.. Kamu datang," pekik Jesica berjalan cepat hendak memeluk Malvyn.


Tetapi pria itu mundur ketika Jesica hendak memeluknya. Rasanya sudah tak ingin lagi berhubungan dengan wanita ini.


Jesica menipiskan bibirnya mengerti. Tetapi ia tak ingin membuang kesempatan ini. Bagaimana pun, hati nya masih mencintai Malvyn.


"Aku buat minum sebentar," kata Jesica kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.


"Aku gak akan lama," kata Malvyn dingin.


Jesica menoleh kebelakang disertai senyuman. "Hanya segelas jus gak akan memakan waktu lama," katanya seakan tahu tujuan Malvyn datang ke tempatnya.


Penembakan itu ia lakukan bukan untuk melenyapkan Aisyah melainkan membuat Malvyn mendatanginya. Dan lihat, rencana nya berhasil bukan?


Jesica membawa dua gelas jus jeruk dan menghidangkan di hadapan Malvyn. "Minumlah. Setelah itu kita bicara," katanya lembut.


"Aku hanya meminta kamu jangan tinggalkan aku. Aku enggak perduli kamu sudah menikah atau belum. Aku mencintaimu, Vyn. 10 tahun aku memendam perasaan ini, 2 tahun aku mencintai mu dalam diam dan akhirnya aku bisa bersamamu 8 tahun ini. Apa enggak ada sedikit saja kamu memikirkan perasaanku?"


Malvyn hanya diam saja. Ia tahu bagaimana Jesica begitu menginginkan nya. Namun, perasaan tidak dapat dipaksa karena sedari dahulu hatinya sudah terikat oleh gadis kecil yang sekarang sudah menjadi istrinya.


*


*


Tengah malam Aisyah terbangun. Dilihat sisi tempat tidur tidak mendapati Malvyn disana. Tangan nya terulur menyentuh tempat tidur sisi sebelahnya terasa dingin. Itu berarti Malvyn tidak ada di kamar sejak lama.

__ADS_1


Ia pun beringsut turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar mencari Malvyn di seluruh ruangan Villa. "Dia kemana?" gumam Aisyah lalu kembali ke kamar mengambil sweater pergi keluar Villa.


Aisyah berjalan menuju Villa Mario ternyata lampu sudah padam. Ia menghela nafas panjang tak ingin lagi mencari Malvyn. Memilih mendatangi Restoran di pinggir pantai yang memang tersedia di Villa itu.


Ia pun memesan makanan karena merasa sangat lapar. Malam tadi ia tidak sempat makan malam karena sudah tidur lebih awal.


Mengingat pelaku yang menembaknya, dari tatapan mata itu ia mengenalinya karena sama persis seperti saat dirinya di dorong di dalam rumah hantu kala itu.


Ingin sekali ia membalas semua perbuatan mereka, tetapi tak mampu karena dirinya memanglah gadis desa yang tidak tahu menahu tentang kehidupan orang kota yang kaya raya. Baginya kehidupan orang kaya begitu kejam, tidak memiliki hati nurani dan dapat melakukan apapun demi mewujudkan keinginan nya tanpa memikirkan resiko juga akan berimbas kepada siapa saja.


Tanpa terasa air matanya luruh membuat Aisyah menyandarkan kepala ke meja demi menyembunyikan tangis nya.


Aisyah mengusap air matanya kemudian menegakkan kepala ketika mendengar sesuatu di taruh di atas mejanya. Ia berpikir jika pelayan sudah menyajikan pesanan nya. Namun, ia terkejut melihat Jerolin duduk di seberang mejanya.


"Hai," sapa Jerolin tersenyum canggung. Sungguh, ini bukan rencana nya. Ia tidak sengaja melihat Aisyah yang tertunduk dan mendengar sedang menangis. Tanpa diketahui wanita muda itu, ia duduk tepat di sebelah mejanya.


Aisyah menghela nafas panjang. "Hai, om."


Jerolin mencebik kesal karena Aisyah masih saja memanggilnya dengan sebutan 'om'. "Kenapa tengah malam keluar sendiri? kemana suami mu?" tanya nya terbersit amarah kepada Malvyn karena membiarkan Aisyah keluar sendiri. Mengingat Jesica begitu menggebu ingin membahayakan Aisyah.


Aisyah diam sejenak seraya menatap Jerolin. Matanya masih berkaca-kaca kemudian ia membuang muka ke sembarang arah. "Dia sudah tidur dan aku kelaparan. Jadi aku sendirian saja kesini," katanya berbohong karena tak ingin Jerolin tahu jika Malvyn sedang tidak berada di Villa.


Jerolin mencebik saja. "Aku masih lajang," jawabnya jujur.


Aisyah menatap Jerolin, "masa?" tanyanya seakan tidak percaya dengan jawaban pria di hadapan nya.


Tetapi setelah itu ia memakan pesanan nya begitu juga dengan Jerolin.


Pria itu tampak tersenyum melihat Aisyah yang makan dengan lahap tanpa jaim sedikitpun. Rasanya tak adil bila wanita muda di hadapan nya harus menjadi korban dari ambisi adik semata wayang nya.


"Apa om orang jahat?" tanya Aisyah polos membuat Jerolin menegang.


Bayangan dimana dirinya menjadi penjahat bahkan hampir menyelakai Aisyah 8 tahun silam.


"Kenapa om tegang begitu? aku hanya bercanda," kilah Aisyah hanya ingin melihat reaksi Jerolin ketika dipertanyakan seperti itu. Ada rasa takut itu pasti. Namun, ia beruntung sedang berada di tempat umum sehingga tidak perlu terlalu khawatir bila pria dihadapan nya akan mencelakai nya.

__ADS_1


"Om mau coba?" Aisyah menyodorkan sepotong daging kepada Jerolin. Tujuan nya melakukan hal ini agar pria di hadapan nya tidak akan berbuat jahat kepadanya dan kepada yang lain.


Jerolin menatap Aisyah sejenak lalu menatap potongan daging yang disodorkan kepadanya. Hatinya berdesir menerima perlakuan manis wanita muda di hadapan nya. Sedetik kemudian ia menerima suapan tersebut.


Jerolin mengunyah daging itu seraya menatap Aisyah yang tengah tersenyum kearahnya tapi tatapan mata itu menyiratkan luka.


Ah!! Jerolin semakin merasa bersalah kepada Aisyah.


"Kapan kamu kembali?" tanya Jerolin memberanikan diri bertanya walau sebenarnya mampu mencari tahu tentang hal kecil seperti ini.


"Besok.. Besok malam," jawab Aisyah jujur.


"Ais.. Apa boleh kita berteman?" tanya Jerolin pelan dan sangat ragu akan hal itu. Entah mengapa baru kali ini ia merasa takut berteman dengan seseorang.


Aisyah tersenyum disertai anggukan. "Bukankah kita sudah berteman dan suapan barusan itu untuk teman baruku," sahut Aisyah tulus.


Jerolin tersenyum dan merasa lega mendengar ucapan Aisyah.


Setelah makanan mereka habis, Aisyah pamit kembali ke Villa lebih dahulu. Tetapi, Jerolin memaksa untuk mengantarnya walau dengan berjalan kaki saja.


"Om sangat terlihat gugup," kata Aisyah jujur kemudian ia meraih kedua telapak tangan Jerolin dan terkekeh.


"Ya ampun.. Tangan om sangat dingin sekali," Aisyah tergelak dan semakin membuat wajah Jerolin merona.


❤️


Hai gaes.. Sambil menunggu bab selanjutnya, yuk mampir di novel teman emak ya..


Gabriel Arshaka, pria dengan sejuta pesona yang digilai banyak wanita. Tak ada satupun wanita yang memiliki tahta tinggi dihatinya selain kekasihnya.


Namun karena sebuah kesalahan, ia terpaksa menikahi Jingga, wanita yang menjadi sahabat adiknya dan juga sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


"Aku tidak akan berhenti mengejarmu, sebelum aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku kak" ~ Jingga Oceana.


"Berhentilah melakukan hal sia-sia, tidak ada dalam kamusku jatuh cinta pada bocah ingusan sepertimu" ~ Gabriel Arshaka.

__ADS_1


Akankah cinta tumbuh di hati Gabriel untuk Jingga? Bagaimana caranya Jingga menaklukkan hati Gabriel yang selalu menganggapnya seperti anak kecil?



__ADS_2