
"Pergilah, Ais. Kamu minta pulang ke rumah karena kangen orang tua kamu, kan? aku bisa sendiri," terang Malvyn menenangkan karena sedari mereka tiba di rumah ini Aisyah terus berada bersamanya.
"Beneran, nih?" tanya Aisyah karena ia benar-benar ingin melepas rindu bersama orang tua nya. Tetapi karena hubungan suami dan papi nya belum membaik, Aisyah tidak berani mendekati papi Askar.
Malvyn tersenyum kemudian mengacak rambut dan membawa Aisyah dalam dekapan nya. Tidak lupa pula memberikan kecupan-kecupan kecil di pucuk kepala sang istri. "Iya, pergilah."
Aisyah tersenyum disertai anggukan. Sebelum pergi, ia membuatkan teh hangat untuk ke dua orang tua nya. Jangan tanya bagaimana dirinya mahir dalam hal ini, tentu saja karena ada Malvyn di sisinya.
Aisyah melangkahkan kaki menuju teras depan rumah. Dimana papi Askar akan membaca koran dan mami Adzilla menyulam kain. Sementara Sania sudah berangkat bekerja.
"Papi..," seru Aisyah langsung berhambur dalam pelukan setelah menaru dua gelas teh hangat buatan nya di atas meja.
"Ais... Suami di dapur lagi masak kenapa kemari? bantuin, gih!" usir mami Adzilla karena sedari tadi menahan rasa tidak enak hati kepada menantunya itu.
Aisyah mengurai pelukan dan menoleh ke arah mami Adzilla dengan wajah cemberut. "Mi.. Suamiku yang menyuruhku untuk menemui papi dan mami. Kata nya, aku pulang untuk melepas rindu dengan kalian."
Lagi-lagi papi Askar merasa cemburu. "Cari muka," cicitnya. Rasanya masih belum terima jika gadis kecilnya sudah menikah.
Mami Adzilla menggeleng kecil mendengar apa yang baru dikatakan papi Askar. "Papi kamu cemburu kalau kamu sudah menikah," ungkap beliau menatap anak bungsunya.
Aisyah menarik kursi bahan plastik agar mendekat pada papi Askar. "Kenapa cemburu? papi harus tahu, cinta pertama anak perempuan itu papi nya. Papi tetap teristimewa, terbaik, dan ternomor satu. Jangan cemburu lagi," katanya menenangkan papi Askar dengan menggenggam dan mengecup punggung tangan papi nya itu.
Mami Adzilla tersenyum bahagia melihat suami dan anak nya itu. Pandangan seperti ini lah yang sering sekali dilihatnya jika kedua orang ini bersama. Ia pun bangkit hendak membantu anak menantu nya di dapur.
"Mami bantu suami kamu di dapur. Nikmatilah waktu kebersamaan kalian sebelum waktu nya sarapan," kata mami Adzilla memperingatkan.
Aisyah mengangguk lalu beralih menatap papi Askar. Wajahnya berubah serius karena ada sesuatu yang ingin ditanyakan nya.
"Pi. Boleh Ais tanya sesuatu?" tanya Aisyah pelan-pelan.
Papi Askar menatap Aisyah yang memasang wajah serius. Beliau pun mengangguk.
"Ada apa dengan Ais delapan tahun lalu, Pi?" tanya Aisyah membuat tubuh papi Askar menegang seketika.
Aisyah melihat reaksi papi Askar semakin yakin bila ada sesuatu yang disembunyikan. Tetapi, ia tidak tahu akan hal itu. Bahkan mengingatnya saja tidak mampu.
__ADS_1
"Pi. Tolong kasih tahu Ais yang sebenarnya," bujuk Aisyah menggenggam tangan papi Askar.
Papi Askar tersadar kemudian menghela nafas panjang. Rasanya enggan menceritakan kejadian masa lalu. "Yang papi tahu dan itu kebodohan papi. Kamu main ke sawah dan kamu di culik," ungkapnya menjeda ucapan nya karena Aisyah terkejut.
"Satu Minggu kamu menghilang. Papi sudah laporkan kejadian itu ke kantor Polisi. Dua hari setelah itu, ternyata kamu di rawat di Rumah Sakit. Papi dan Mami di jemput orang asing dan di bawa ke rumah Sakit. Disana ada Malvyn dan seorang perempuan. Perempuan itu mengancam buat enggak laporkan kejadian ini ke polisi. Malvyn pernah bilang ke papi saat kami sedang berdua agar menjaga mu untuknya."
"Hanya itu yang papi tahu, Ais. Saat kamu sadar, kamu sudah enggak ingat tentang kejadian penculikan itu," imbuh papi Askar menjelaskan apa yang di ketahui nya.
Saat Malvyn datang melamar Aisyah, ketakutan akan terjadi sesuatu pada Aisyah menyelimuti hatinya. Karena itulah ia masih bersikap acuh tak acuh kepada Malvyn.
Papi Askar takut bila peristiwa penculikan itu terjadi lagi dan membahayakan nyawa Aisyah.
Aisyah diam menyermati penjelasan dari papi Askar. Ingin rasanya ia mengingat peristiwa penculikan itu. Tetapi benar-benar tak mampu mengingatnya.
*
*
"*Beruntung kami melepaskan anak anda karena saya dapat yang lebih menguntungkan."
"Terimakasih Nyonya," ucap papi Askar menunduk tidak berani menatap wanita muda di hadapan nya.
Bagaimana pun, ada rasa takut karena ada 4 orang berbadan besar berpakaian serba hitam.
"Saya peringatkan untuk tidak melaporkan kejadian ini ke pihak polisi. Jika saja kami mengetahui hal ini, maka bukan hanya anak itu yang akan mati. Tapi kamu, istrimu, dan kedua anaknya yang lain. Ingat itu!!!" ancam Jesica kemudian ia mengambil ponselnya yang berada di tas lalu menerima panggilan telepon tersebut.
Ada rasa takut menyelimuti Papi Askar, karena itu pula ia hanya mampu berdiri dengan kepala menunduk.
Papi Askar semakin takut ketika pria muda itu mendekatinya.
"Saya mohon, jaga gadis itu untukku."
Sontak kalimat yang didengar papi Askar membuatnya berani menatap pria muda itu. "Apa maksud anda, tuan?"
"Saya menginginkan gadis kecil itu. Suatu saat saya akan menjemputnya setelah menyelesaikan masalah ini kepada wanita tadi."
__ADS_1
Papi Askar mematung mendengar ucapan Malvyn. Bahkan ia tidak menyadari bila orang-orang tersebut telah meninggalkan nya seorang diri.
Sejak saat itu pula, ucapan Malvyn menjadi ketakutan tersendiri bagi papi Askar*.
*
*
Di meja makan telah tersedia nasi goreng spesial, tumis bunga kol campur sosis, dan sandwich telur.
Mami Adzilla tersenyum menatap menu sarapan yang disajikan anak menantunya yang terlihat sangat lezat. Namun, perut mereka tak akan kenyang dengan makan seperti ini.
Jadi, papi Askar dan mami Adzilla memilih memakan nasi goreng dan juga tumis bunga kol campur sosis untuk menambah isi perut.
Sementara Malvyn memilih sarapan sandwich saja begitu juga dengan Aisyah. Agaknya istri kecil Malvyn mulai terbiasa sarapan sepertinya.
Aisyah hanya diam saja semenjak mengetahui kejadian 8 tahun lalu. Seperti ada yang mengganjal dihatinya. Tetapi ia tidak tahu apa itu yang mengganggu hatinya.
Diam nya Aisyah dirasakan oleh Malvyn. Sesekali ia melirik ke arah Aisyah yang diam berfokus pada makanan nya saja.
Bahkan sedari tadi Malvyn mencoba membuka obrolan dengan istrinya itu hanya di tanggapi dengan dua kata saja. 'Ya' atau 'tidak', saja.
Selesai sarapan, Malvyn mengajak Aisyah masuk ke dalam kamar. Ingin rasanya ia segera menyelesaikan masalah mereka walau dirinya sendiri tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Malvyn memegang kedua lengan Aisyah.
Aisyah menggeleng pelan tidak mampu menatap mata Malvyn.
"Ais.. Bukankah kita sepakat untuk membicarakan apapun masalah kita?" tanya Malvyn lembut mengerti bila istrinya tidak sedewasa dirinya.
"Apa yang kamu lakukan padaku 8 tahun lalu, Vyn? kenapa aku gak mengingat kejadian itu?"
Malvyn mengerti sekarang. Pastilah Aisyah telah menanyakan kejadian itu kepada papi Askar. "Setelah pulang ke Jakarta aku akan memberi tahukan apa yang terjadi padamu sampai enggak bisa mengingatnya. Jangan pikirkan lagi, aku enggak mau bulan madu kita terganggu karena masa lalu!" ungkapnya memeluk Aisyah.
Ucapan nya berhasil membuat Aisyah mencubit perut kotak-kotak Malvyn. "Mesum," sungutnya.
__ADS_1
"Enak, sayang. Kamu juga keenakan 'kan?"