
Aisyah langsung berdiri ketika kedatangan kedua pengawalnya dan memasang wajah tegang.
"Ada apa, pak?" tanya Aisyah membuat Gio dan Meta juga memerhatikan John dan Johan.
John menggerakkan lengan nya dengan menunjuk kebelakang membuat mata Aisyah melebar karena tahu yang dimaksud oleh John.
Aisyah mencari ponselnya yang ia simpan di dalam tas ransel nya. Mulutnya menganga ketika panggilan tak terjawab dari Malvyn sudah sangat banyak.
Aisyah menutup mulutnya dengan telapak tangan seraya menatap John dan Johan bergantian. "Maaf. Ponsel aku
silent, sudah berapa lama menunggu?" ia sedikit takut menemui Malvyn karena sudah yakin bila suaminya itu telah marah.
"Sudah satu jam lebih. Lebih baik anda segera pulang karena beliau sudah lama menunggu," jawab John membuat Aisyah meringis.
Gio yang khawatir jika Aisyah akan dimarahi oleh orang tuanya langsung mencekal pergelangan tangan gadis pujaan hatinya itu saat hendak meninggalkan Meta dan dirinya.
Aisyah menghentikan langkah dan membalikkan badan. Matanya terus menatap pergelangan tangannya yang dicekal Gio.
"Kak," kata Aisyah tanpa menatap gio karena fokus pada pergelangan tangan nya. Tetapi sepertinya pemuda itu mengerti sehingga cekalan itu terlepas.
"Maaf," kata Gio merasa tidak enak. Apalagi dengan tatapan kedua pengawal Aisyah tampak menyeramkan.
Aisyah hanya mengangguk.
"Maaf, pak. Tolong katakan kepada orang tua Ais, agar tidak memarahi Ais. Ini salah saya karena mengajak Ais untuk berada disini lebih dahulu," ucap Gio tulus karena tidak ingin Aisyah dimarahi oleh orang tua gadis itu.
John dan Johan menatap Gio begitu intens karena memuji keberanian pemuda itu untuk melindungi Aisyah.
"Baiklah. Kalau begitu biarkan Aisyah pergi. Permisi," ucap Johan membuat Gio tersenyum lega.
__ADS_1
Meta menepuk lengan Gio yang masih menatap punggung Aisyah yang sudah menjauh. "Beneran suka Ais?" tanyanya penasaran.
Gio tersenyum lagi. "Dia sangat menarik, Ta. Tapi aku masih penasaran siapa orang tua nya? apa salah satu kolega papa? atau saingan Perusahaan papa?" tanyanya beruntun karena hingga kini belum juga mengetahui identitas Aisyah sebenarnya.
Meta mengedikkan bahu. "Aku harap kamu bisa mendapatkan cintamu dan melupakan masalalu mu," ungkapnya kemudian mengajak Gio pergi dari sana.
*
*
"Apa suamiku marah, pak?" tanya Aisyah saat berjalan beriringan bersama John dan Johan.
"Nyonya pasti tahu gimana tuan muda," sahut Johan meyakinkan bila pertanyaan Aisyah itu benar.
Aisyah meringis mendengarnya. Johan membukakan pintu mobil dan ia masuk ke dalam sana.
Sementara Malvyn begitu kesal karena Aisyah tidak langsung pulang justru bermain dengan pemuda yang pernah menjenguk istrinya di Rumah Sakit.
"Berarti selama ini kamu sering pulang terlambat, kan?" tanya Malvyn dingin.
Aisyah menggeleng. "Bu-bukan begitu," ia merutuki dirinya yang menjadi gugup di tanya dan di tatap seperti itu oleh Malvyn.
"Sepertinya selama ini aku terlalu membebaskanmu, Ais!"
Aisyah menggeleng takut.
Rahang Malvyn mengeras mengingat tangan Aisyah di sentuh oleh Gio. "Aku gak suka kamu disentuh pria lain, Ais. Kamu harus tahu kalau aku setakut itu kehilanganmu," ia meraih tangan yang disentuh Gio.
Di kecup berulang kali pergelangan tangan Aisyah yang membuat sang empu terhenyak.
__ADS_1
Aisyah bertanya-tanya benarkah Malvyn setakut itu?
"Maaf," gumam Aisyah lirih yang masih dapat di dengar oleh Malvyn.
Malvyn menegakkan badan seraya tatapan nya terkunci oleh tatapan Aisyah. Tanpa berpikir panjang, Malvyn langsung memagut bibir ranum Aisyah yang telah menjadi candu baginya.
Begitu juga Aisyah yang sudah mulai terbiasa membalas ciuman itu ikut hanyut dalam permainan bibir dan lidah Malvyn
Bahkan tanpa disadari Aisyah telah berada di pangkuan dengan kedua tangan melingkar di leher Malvyn.
Jangan tanyakan dimana John dan Johan karena keduanya tengah berdiri di depan mobil dimana Malvyn dan Aisyah tengah bermesraan di dalam sana.
"Apa mereka akan melakukan di mobil?" tanya John penasaran.
"Terserah mereka, John. Ingat! jangan bangun atau bersiaplah pedang mu akan di rebus tuan muda," kata Johan sedari tadi mencoba menahan diri karena sempat melihat majikan mereka sedang bercumbu.
"Nanti malam aku harus jajan, Han. Kamu mau ikut?" tawar John dan disetujui oleh Johan.
Di dalam mobil Malvyn masih menikmati bibir kesayangan nya karena tidak pernah merasa bosan sedetikpun.
"Aahh.. Vyn..," Aisyah melenguh menyebut nama Malvyn membuat gaiirah pria itu semakin menggebu.
"Kenapa harus pakai hoodie, sih?" sungut Malvyn ketika hendak menikmati buah dadaa yang belum pernah dilihatnya karena ia sekeras itu berusaha agar tidak menyentuh Aisyah.
"Bukannya kamu yang melarang ku untuk memakai pakaian lain?" tanya Aisyah masih duduk di pangkuan Malvyn.
Malvyn menatap Aisyah lagi karena merasa senang melihat Aisyah menurut padanya. Emosi yang sedari tadi ditahan sudah tak menampakkan wujudnya.
"Aku sudah gak tahan, Ais. Ayo kita buat anak!"
__ADS_1