
Aisyah memejamkan mata ketika Malvyn telah selesai berbicara di ponsel dan memasukkan benda tersebut ke dalam saku celana.
Malvyn mendekati brankar dan duduk disamping benda itu. Dimana istrinya terbaring lemah disana. Digenggam tangan tangan Aisyah lalu dikecupnya berulang kali.
Masih dalam posisi menunduk, punggung Malvyn terlihat bergetar dan Aisyah dapat merasakan air mata Malvyn yang menetes.
Aisyah yang sedang berpura-pura tidur juga tak kuasa menahan air matanya. Isakan tangis keduanya terdengar lirih dan memilukan.
Tanpa mengatakan apapun, sepasang suami istri itu menangis seakan tahu bila kedua nya sama-sama merasakan kehilangan.
Malvyn bangkit dan segera memeluk Aisyah yang masih dalam keadaan menangis. Lagi-lagi pasangan itu menangis sesegukan merasakan kehilangan anak yang tidak pernah diketahui justru harus pergi.
"Apa ini karma untukku karena belum menginginkan kamu hadir, nak?" gumam Aisyah dalam hati mengingat dirinya sempat meminum obat pencegah kehamilan.
Masih dalam dekapan Malvyn, mata Aisyah terbuka dan terdapat kilatan amarah dari tatapan wanita itu mengingat siapa dalang yang membuat harus kehilangan calon anak mereka.
"Suamiku," kata Aisyah terbata-bata membuat Malvyn melonggarkan pelukan.
Kedua pasang mata itu saling bertemu. Dapat dilihat bahwa suaminya begitu kehilangan. Aisyah mengulurkan tangan untuk mengusap air mata di pipi Malvyn.
"Maafin, Ais. Seharusnya Ais mendengar ucapan kamu agar enggak pergi malam ini," terangnya pelan dan mengusap air matanya dengan kasar.
Aisyah juga mengusap punggung Malvyn agar tenang. Melihat suaminya begitu terpukul atas kehilangan anak membuatnya merasa bersalah dan bertekad tidak akan menunda kehamilan setelah pulih.
"Ini bukan kesalahan kamu. Aku yang salah gak bisa jagain kamu," ungkap Malvyn semakin membuat amarah Aisyah membara karena yang membuatnya jatuh adalah seorang pria suruhan Jesica.
Kedua orang itu kembali berpelukan untuk saling menguatkan walau dalam hati mereka masih menyayangkan kejadian ini.
"Paman.. Apa kamu enggak kangen sama aku?" tanya Aisyah membuat Malvyn mengurai pelukan dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Malvyn tercengang mendengar panggilan Aisyah untuknya. Sebutan Paman ketika Aisyah masih kecil dahulu sebelum tragedi penculikan 8 tahun lalu.
__ADS_1
"Ais?" panggilnya masih menatap istrinya seakan meminta penjelasan.
Tatapan yang seakan menjelaskan semuanya. Anggukan kecil dari Aisyah sudah menjelaskan semuanya.
"Aku Ais kecil mu, Paman. Aku Ais yang kamu temuin setiap libur sekolah. Aku Ais yang kamu selamatkan 8 tahun lalu dan menukar kebahagiaan mu demi hidupku," ia menjelaskan dengan bibir bergetar. Ia tidak menyangka akan mengingat dan bertemu dengan pemuda yang dahulu sering kemah di tepi sungai tidak jauh dari kampung mereka.
Malvyn masih merasa tidak percaya dengan kenyataan yang diterimanya. Satu sisi merasa sedih karena kehilangan calon anak mereka dan sisi lain merasa senang karena akhirnya Aisyah mengingat siapa dirinya.
Lagi-lagi Malvyn memeluk Aisyah begitu erat menyalurkan cinta nya yang sudah lama terpatri dalam hatinya.
Bertahun-tahun Malvyn menahan diri untuk tidak mengawasi kehidupan Aisyah karena tak ingin tragedi itu terjadi kembali, namun takdir seakan membawanya untuk bertemu kembali dengan gadis kecil pujaan hatinya.
"Aku mencintaimu.. Tetaplah bersamaku dan kita hadapi apapun ujian cinta kita," ungkap Malvyn dan disetujui oleh Aisyah.
Setelah merasa hati keduanya menjadi lebih baik, Aisyah berniat untuk mengutarakan isi hatinya yang mengganjal sedari tadi. Ia sudah sangat yakin bila Malvyn sudah melakukan sesuatu karena dirinya terluka bahkan keguguran.
"Paman..,-" belum selesai Aisyah bicara sudah dipotong oleh Malvyn karena merasa tidak terima atas panggilan Aisyah.
Malvyn tidak setua Carlos.
Aisyah terkekeh tapi selanjutnya meringis karena merasa sakit di perut bagian bawahnya dan itu membuat Malvyn menjadi panik.
"Aku panggilan Dokter," kata Malvyn tetapi tangan nya ditahan oleh Aisyah.
"Jangan. Aku enggak apa-apa. Aku hanya mau bilang kalau kamu gak harus tuntut wahana itu, suamiku. Aku yang salah karena kurang hati-hati," terangnya berbohong karena tidak ingin orang lain menjadi korban atas perbuatan Jesica.
Aisyah sudah bertekad untuk tidak menyerah dan menunjukkan kepada wanita psikopat itu bahwa Malvyn adalah miliknya.
"Kamu bela pria lain di depanku, sayang? pemilik wahana itu seorang pria kalau kamu mau tahu," cebik Malvyn merasa cemburu karena Aisyah membela pria lain dihadapan nya.
Aisyah menggeleng mendengar ucapan Malvyn dan selalu bertingkah diluar nalar pada saat waktu tidak tepat. "Aku tetap milikmu, Vyn."
__ADS_1
Tatapan kedua nya bertemu dan Malvyn memajukan wajah nya dan kedua bibir mereka bertemu.
Kedua bibir itu saling beradu namun air mata mereka tak dapat membohongi jika keduanya merasakan kesedihan atas apa yang mereka alami.
"Jangan menangis," kata Malvyn mengusap air mata Aisyah dipipi. Begitu juga dengan Aisyah melakukan hal yang sama.
Di luar ruangan Papi Askar menyaksikan dari dinding kaca anak dan menantunya merasakan kesedihan atas kehilangan calon cucunya.
"Apa papi masih belum menerima Malvyn? Papi enggak lihat betapa rapuh nya kedua orang itu atas kehilangan calon cucu kita? apa papi enggak bisa melihat cinta yang begitu besar yang diberikan Malvyn untuk putri kita?" cecar mami Adzilla juga menyaksikan anak dan menantunya dari luar ruangan.
Papi Askar hanya diam saja karena bimbang atas keputusan nya. Di satu sisi ia membenarkan ucapan mami Adzilla, di sisi lain ia masih merasa takut hidup Aisyah terancam oleh wanita yang mengancamnya 8 tahun lalu di Rumah Sakit yang sama.
*
*
Mario memerhatikan Pasar Malam yang mulai sepi. Hanya terdapat beberapa orang yang membersihkan lokasi, mungkin para pekerja disana.
Ia juga sudah mendapat laporan jika Aisyah terjatuh karena berdesakan sehingga tersenggol oleh pengunjung lain nya.
Mario memijat pelipisnya karena merasa pusing atas masalah-masalah yang tak kunjung usai.
Rumah tangga yang tidak ada kebahagiaan dan gadis pujaan hatinya pergi entah kemana. Andai jika bukan karena balas budi, Mario tidak ingin menikah dan menikmati hidup bebas bersama Malya.
Tapi itu dahulu, tidak dengan sekarang karena keadaan sudah sangat berbeda.
Mario mendatangi penanggung jawab acara Pasar Malam dan meminta segera dihentikan. Jika tidak, ia mengacak akan menuntut mereka ke jalur hukum.
Ia tidak mungkin melakukan perintah yang diberikan Malvyn karena tahu bila Bos nya itu menelepon dalam keadaan emosi.
Besar dan tumbuh bersama Malvyn membuatnya mengerti sifat buruk pria itu. Bukan hanya hal sepele seperti ini, kejadian 8 tahun itu juga sebuah keputusa gegabah menurutnya walau ia akui demi gadis kecil yang sudah mencuri hati Malvyn.
__ADS_1
Cinta memang aneh!!