
Aisyah mengedarkan pandangan mencari kedua pengawalnya yang menghilang bagai ditelan bumi setelah beralasan mencari parkir mobil. Tetapi, sudah tiga puluh menit berselang tak kunjung tiba.
Aisyah menatap baliho yang terpasang dengan ukuran cukup besar bertulis menerima uluran tangan dari siapa saja. Kemudian ia membaca nama tempat itu.
PANTI ASUHAN KASIH NADIA
Aisyah mendapat alamat ini dari Meta karena ia menyukai anak-anak. Aisyah sendiri merasa kagum dengan kisah yang diceritakan oleh Meta.
Meta menceritakan bila Panti Asuhan Kasih Nadia didirikan dari seorang pria yang tak lain adalah suami dari pemilik panti Asuhan tersebut.
Suami yang sangat sabar dan begitu mencintai istrinya hingga pada akhirnya meninggal dunia. Atas dasar cinta yang begitu besar, Panti ini didirikan dengan menyertakan nama sang istri.
"Sangat ramai. Apa banyak yang menjadi donatur, ya?" tanya Aisyah sendiri. Tujuan nya kemari juga ingin menjadi donatur walau tidak banyak karena takut uang bulanan nya habis dan Malvyn akan marah.
Padahal, tanpa diketahui Aisyah. Hampir semua aset berharga milik Malvyn sudah beralih atas nama nya.
"Aisyah," pekik seorang wanita dari arah barat dan ia langsung menoleh ke sumber suara.
Aisyah terperanjat ketika mengetahui siapa yang memanggilnya. "Oma Nadira?" entah mengapa ada rasa senang yang membuatnya berlari mendekati wanita tua yang masih tampak modis itu.
"Kamu ngapain disini? sama siapa?" tanya Oma Nadira seperti sudah mengenal lama karena terlihat akrab.
"Aku ingin menjadi donatur disini, Oma. Dan aku bersama supir," Aisyah mengedarkan pandangan melihat halaman panti Asuhan itu di dekor seperti akan ada acara disana. "Apa akan ada acara, Oma?"
"Ada. Opa Qenan dua hari lagi berulang tahun dan kami ingin merayakan nya disini," jawab Mami Ivy mendekati mereka yang sudah duduk di bangku dekat lokasi.
Aisyah mengangguk-angguk mengerti. "Pasti acara nya sangat meriah," tutur Aisyah.
Oma Nadira mengeluarkan undangan dari dalam tas dan memberikannya kepada Aisyah. "Datang, ya. Bawa suamimu juga, nanti Oma akan kenalkan kamu dengan keturunan rudal Amerika," setelah mengucapkan itu Oma Nadira dan mami Ivy tertawa dan menyisakan Aisyah yang merasa bingung.
"Kamu harus datang, ya!" kata mami Ivy dan diangguki oleh Aisyah.
Aisyah merasa senang karena memiliki teman lagi di Jakarta ini walau sangat berbeda jauh usianya padanya.
"Aku usahakan datang bersama suamiku ya Oma, Mami!"
Setelah itu Aisyah pamit untuk mendatangi pihak penanggung jawab panti asuhan dan melakukan perlengkapan berkas untuk menjadi donatur tetap selama setahun mendatang.
*
__ADS_1
*
"Jes! aku ingin mengakhiri hubungan kita ini," tegas Malvyn ketika baru saja tiba di apartemen wanita itu.
Sebelum ke Kantor, ia menyempatkan diri mampir ke apartemen Jesica setelah 4 bulan tak pernah lagi ia kunjungi.
Jesica yang baru saja meletakkan segelas kopi dihadapan Malvyn langsung menatap tajam pria itu.
"Apa maksudmu, Vyn?" sentak Jesica kepada Malvyn.
Sudah 10 tahun ia mendampingi Malvyn dengan balas dendam yang didasari awalnya namun berubah menjadi cinta tak akan membiarkan pria itu meninggalkan nya begitu saja.
"Aku sudah nggak bisa lanjutkan hubungan kita, Jes. Dari awal aku gak pernah mencintaimu, kita melakukan hanya untuk bersenang-senang."
Malvyn ingin mengakhiri hubungan nya bersama Jesica dalam keadaan baik-baik saja. Walau ia tahu setelahnya tidak akan menjadi baik.
"Kenapa? kenapa tiba-tiba? apa ada yang lebih hebat dariku untuk memuaskanmu, Vyn?" tanya Jesica kemudian duduk dipangkuan Malvyn dan mencoba merayu pria yang dicintainya itu.
Biarlah ia dikatakan munafik karena niat awal mendekati Malvyn hanya karena ingin membalaskan dendam yang telah membuat adik kesayangan nya bunuh diri.
Malvyn menahan diri dan segera bangkit sehingga Jesica terjungkal ke lantai. "Aku hanya ingin kita mengakhiri semua ini, Jes." Malvyn pergi meninggalkan apartemen itu tanpa ingin tahu Jesica sudah histeris.
Pagi itu Jesica mengamuk dan menghancurkan barang-barang yang ada di apartemen nya sendiri.
"Gak akan aku biarkan siapapun memilikimu, Malvyn. Akan ku hancurkan siapapun wanita yang menjadi pilihanmu!!!"
*
*
Seakan tidak terjadi sesuatu pagi itu. Jesica yang mengetahui akan ada acara di panti asuhan pilihan keluarga Malvyn, ia datang kesana untuk mencari simpati pastinya.
Jesica tahu bila mami Ivy sudah ingin melihat Malvyn menikah dan ibu dari Malvyn itu hanya melihat kearahnya karena hanya dirinya wanita yang dekat dengan Malvyn selama ini.
Lebih tepatnya, ia selalu berhasil menyingkirkan wanita manapun yang hendak mencari perhatian atau mencoba mendekati Malvyn.
Hanya saja, papi Edzard, Opa Qenan, dan Oma Nadira sangat sulit untuk ia dekati. Kedua pria itu seakan melindungi Oma Nadira dari siapapun.
Rasanya ingin sekali ia melenyapkan wanita tua itu.
__ADS_1
Jesica menatap punggung seorang gadis yang masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di Panti Asuhan itu. Ia merasa seperti pernah melihat orang tersebut namun kembali tak perduli.
"Hai mami, Oma!" sapa nya melakukan cium pipi kanan dan pipi kiri.
"Maaf baru datang mi, Oma. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Oma Nadira tampak hanya tersenyum.
"Enggak apa-apa, Jes. Mami dan Oma akan makan siang. Kamu mau ikut?" tanya mami Ivy dan disetujui oleh Jesica.
Ketiganya meninggalkan panti asuhan dan berjalan beriringan menuju mobil yang akan membawa mereka ke kota.
Saat ketiganya berjalan beriringan, Aisyah keluar dari ruangan dan menatap punggung ketiganya. Ia mengedikkan bahu kemudian ikut bermain bersama dengan anak-anak yang tinggal di panti tersebut.
*
*
Malvyn pulang ke Apartemen dengan senyum mengembang. Ia buka pintu apartemen nya dan mencari Aisyah berada.
Malvyn tersenyum saat melihat Aisyah sedang sibuk belajar dengan laptop dihadapan istrinya itu.
Berjalan perlahan mendekati Aisyah lalu membungkuk disertai mengecup pipi istrinya itu.
"Ngagetin saja," Aisyah terperanjat seraya mengelus dada saking terkejutnya.
Malvyn terkekeh geli melihat wajah kaget Aisyah karena terlihat sangat lucu. "Maaf. Ini buat kamu," ucapnya menyerahkan sebuket bunga mawar merah dan sekantung plastik besar berisi cemilan yang sering dimakan oleh Aisyah.
Aisyah tersenyum saat menerima sebuket bunga mawar merah tersebut. Berbeda saat menerima cemilan yang sangat banyak itu terlihat antusias.
Aisyah langsung mengembalikan buket mawar merah itu kepada Malvyn dan menerima kantung plastik tersebut. "Waaahh.. Banyak sekali. Makasih, ya?!"
Malvyn menggeleng melihat tingkah Aisyah. Ingin terlihat romantis justru istrinya tidak mengerti hal seperti itu.
"Berterima kasihlah dengan benar, sayang!" kata Malvyn tak menyia-nyiakan kesempatan seperti biasa.
Aisyah memutar bola mata jengah. "Cium saja ya?"
Malvyn mengangguk namun jemari telunjuk nya menyentuh bibir yang berarti meminta ciuman itu berlabuh di bibirnya.
__ADS_1
Aisyah menurut. Tetapi selanjutnya, di ruang tamu itu terdengar suara desaah dan erangan saling bersahutan untuk menuntaskan hasrat yang membara.