
Malvyn langsung menjemput Aisyah ke Kampus. Banyak pasang mata memerhatikan bahkan mengabadikan momen saat ia merangkul istrinya itu keluar area kampus menuju mobilnya.
"Maafin aku," gumam Malvyn memeluk Aisyah di dalam mobil.
Aisyah yang diam saja semakin membuat Malvyn khawatir. Ia merapikan rambut Aisyah yang basah. Kemudian ia membuka jaket sudah basah yang dikenakan Aisyah, tak lupa menutup pembatas jok depan dan penumpang.
Hati Malvyn seakan teremas melihat keadaan Aisyah yang memprihatinkan karena sedari tadi hanya diam dengan tatapan kosong meski dirinya telah membuka seluruh baju istrinya kecuali penutup gunung kembar dan kain segi tiga tersebut.
Dengan telaten Malvyn memakaikan pakaian bersih kepada Aisyah. Tangan nya gemetar saking sedih nya melihat keadaan istrinya.
Kini, Malvyn mengerti bila Jesica menyerang Aisyah dari psikis lebih dahulu.
__ADS_1
Malvyn lebih dahulu keluar mobil kemudian mengitari kendaraan beroda empat itu dan membuka pintu bagian penumpang dimana Aisyah berada.
Di gendong dan di bawah masuk oleh Malvyn. Beruntung para orang tua tidak sedang berada di Mansion karena sedang berada di rumah opa Qenan dan Oma Nadira.
Setelah masuk kamar, Malvyn merebahkan tubuh Aisyah perlahan di atas kasur. Tak lupa melepas sepatu yang masih di pakai istrinya. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dahulu.
Beberapa saat kemudian Malvyn telah selesai mandi dan berganti pakaian rumahan. Di lihat Aisyah meringkuk di atas sana, ia pun ikut merangkak naik dan mendekap tubuh istri kecilnya.
"I-ini bukan salahku. A-aku enggak pernah merebut kamu dari dia. Kamu yang maksa aku untuk menikah, padahal aku mau bekerja jadi pelayan kamu tanpa dibayar agar bisa ganti rugi kaca itu. Kenapa mereka katain aku begitu?" Aisyah berbicara dengan bibir bergetar memaksakan diri agar tidak menangis lagi.
Jika saja hanya di perhatikan atau di bicarakan dibelakang Aisyah mungkin bisa membiarkan saja seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi, semua berbeda. Para mahasiswi itu bukan hanya menyiramnya dengan air dari kamar mandi, tetapi kuah makanan hingga telur juga di lempar ke tubuhnya.
__ADS_1
Perudungan itu terjadi ketika ia berada di taman belakang Kampus, kedua pengawal nya sedang membelikan cemilan yang diinginkan nya. Sementara Meta dan Gio masih ada kelas tambahan.
Malvyn mengeratkan pelukan mendengar suara tangis Aisyah yang begitu pilu di telinga nya. "Maafin aku," ungkap nya sedari tadi mengungkapkan keadaan hatinya yang terus merasa bersalah terhadap Aisyah.
Aisyah hanya diam sesegukan memikirkan apa yang terjadi padanya selanjutnya. Awal nya ingin menunjukkan kepada Jesica bahwa Malvyn adalah miliknya. Namun, ia lupa jika Malvyn dan Jesica memiliki fans yang sangat menginginkan sepasang kekasih itu menikah dan bahagia.
"Aku gak pernah merayu kamu kan, Vyn? aku gak pernah menyerahkan tubuh ku sebelum menikah, kan? aku bukan penggoda seperti mereka katakan, kan?"
Hati Malvyn sakit mendengar pertanyaan beruntun yang secara tidak langsung menyampaikan apa saja yang dikatakan para perudung itu. Rahangnya mengeras dengan tatapan menyorot tajam sedang memikirkan apa saja yang akan diperbuatnya setelah ini.
"Enggak. Kamu gak pernah lakuin itu sebelumnya. Akulah yang memaksa mu agar masuk ke dalam hidupku."
__ADS_1
*
*