
"Ck. Datang lagi," kata Aisyah ketus, memutar bola mata karena jengah melihat kehadiran Jerolin tanpa di undang.
Aisyah hendak ke minimarket yang terdapat di lantai dasar gedung Apartemen ini. Persediaan dapur, kamar mandi, dan kebutuhan nya yang lain sudah pada habis.
Ketika membuka pintu, Aisyah di suguhkan penampakan pria tampan sedang berdiri membelakangi daun pintu. Rasanya enggan sekali bertemu dengan pria dihadapan nya ini.
Selain tak ingin berhubungan dengan orang-orang di masa lalu, Aisyah tak akan sanggup terus-menerus bersikap ketus kepada orang lain. Itu bukan karakter Aisyah, dia juga bukan seorang pendendam seperti pemeran tokoh utama lain nya.
Biarlah mengalah asal jangan lagi di ganggu ketenangan nya. Ia sudah tidak perduli bagaimana Malvyn hidup bersama dengan Jesica juga anak mereka. Biarlah dirinya merawat anak dalam kandungan nya sendiri.
Meski tak dapat dipungkiri cinta nya buat Malvyn begitu dalam dan sulit terlupakan.
Jerolin membalikkan badan ketika mendengar suara Aisyah yang ketus. Pria itu sama sekali tidak tersinggung karena merasa pantas mendapatkan hal itu dari Aisyah.
"Ini untukmu," kata Jerolin menyerahkan seikat bunga aster putih kepada Aisyah.
Dahi Aisyah berkerut melihat bunga yang sangat jarang diberikan kepada seorang wanita. Diketahui nya, pria sering memberikan bunga mawar merah bukan bunga yang ada di tangan nya ini.
"Itu bunga Aster," tutur Jerolin memberitahu nama bunga itu, sementara Aisyah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bunga Aster tumbuh di alam liar," sambung pria itu lagi justru mendapat pelototan dari Aisyah.
Reaksi yang diberikan Aisyah justru membuat Jerolin ketar-ketir. Hanya kepada wanita di depan nya ini merasa harus menyusun kata menjadi kalimat yang tak akan menyinggung perasaan. Biasanya, ia tak segan-segan bicara apa saja yang membuat wanita yang mengincarnya sakit hati.
"Kamu pikir aku wanita liar dikasih bunga liar begini?" tanya Aisyah ketus tanpa ada keramahan dari sikapnya. Meski diakui bunga yang tumbuh di alam liar itu tampak cantik.
Jerolin mengusap tengkuk leher nya merasa bingung harus menjelaskan bagaimana maksud dari dirinya memberikan bunga itu kepada Aisyah.
"Bu-bukan begitu maksud ku, Ais."
Aisyah hanya diam memasang wajah datar menatap Jerolin yang salah tingkah. Wanita itu tak mengerti mengapa pria kejam itu menjadi seperti ini di hadapan nya.
__ADS_1
"Ada berbagai macam-macam bunga Aster, dan bunga Aster putih merupakan yang paling cantik. Bunga Aster putih bermakna kesetiaan cinta, kecantikan, kemurnian, kesucian, rasa sabar, dan kesederhanaan," Jerolin menjelaskan apa yang diketahui nya tentang bunga Aster. Karena makna dari bunga Aster persis seperti menggambarkan Aisyah.
Aisyah melipat bibir menahan senyum setelah mendengar makna bunga yang dipegangnya. Bukan karena Jerolin mengatakan melainkan tak menyangka ada yang menilai nya seindah itu. Padahal, semenjak kejadian menimpa nya terus berpikir seburuk apa dirinya sehingga banyak orang yang menyakitinya.
"Oh," kata Aisyah lalu balik badan masuk ke dalam Apartemen tanpa mempersilahkan Jerolin masuk.
Di dalam Apartemen, Aisyah menuju dapur mencari vas bunga di tempat penyimpanan. Di isi vas itu dengan air lalu Aisyah menggunting sebagian tangkai bunga Aster tersebut dan di masukkan kumpulan bunga tersebut ke dalam vas bunga.
Senyuman nya mengembang melihat bunga tersebut. Di bawa vas bunga itu dan di taru ke atas meja dekat pintu masuk. "Kata mami, sebenci apapun kita kepada seseorang jangan pernah menolak kebaikan dari orang itu dan jangan lupa ucapin terima kasih," katanya mengingat salah satu nasihat mami Adzilla untuk nya.
Aisyah keluar Apartemen dan melihat Jerolin masih berdiri di depan pintu dengan posisi yang sama pula. "Terima kasih, om."
Darah Jerolin berdesir mendengar suara Aisyah tak lagi ketus. Suara tulus seperti ketika menolong nya malam itu. Malam dimana dirinya hendak berencana melukai Aisyah justru dirinya yang terluka dan tanpa takut membantu, mengobati luka nya meski sudah mengingat dirinya siapa.
"Aku hanya butuh pengampunan darimu, Ais." Jerolin berkata lirih tak sanggup menatap Aisyah.
Aisyah menghela nafas panjang. "Aku sudah memaafkan kalian. Aku gak mau hidup ku gak tenang hanya karena masalah begini," ungkap nya lalu berjalan melewati Jerolin.
Jerolin sendiri merasa takjub mendengar jawaban Aisyah. Tak menyangka gadis kecil yang dihampir dicelakai nya dapat berpikir dewasa seperti ini. Sangat berbeda dengan Jesica yang menyimpan dendam hingga sampai dewasa.
"Ais, tunggu!!" Pekik Jerolin baru sadar Aisyah tidak ada lagi di hadapan nya.
Jerolin mencegah lift hampir tertutup dan masuk ke dalam dimana Aisyah berada. Aisyah yang melihat itu hanya dapat menghela nafas panjang tanpa mengatakan apapun.
Sesampainya di lantai dasar, Aisyah gegas melangkahkan kaki memasuki mini market disana. Ibu hamil itu mulai terbiasa makanan luar neger meski selalu menyimpan persediaan makanan Indonesia.
"Jangan pilih bubuk cabai terlalu pedas, Ais. Kamu hamil," tegur Jerolin membuat Aisyah menoleh ke arah belakang.
Ia tidak menyangka Jerolin mengikuti bak anak itik mengikuti sang induk. Ia tidak berkomentar apapun tetapi tangan nya lincah mengembalikan botol bubuk cabai super pedas dan mengambil bubuk tomat saja. Jika sudah menyangkut kehamilan maka tanpa protes dirinya akan menurut.
Jerolin juga memasukkan banyak buah ke troli belanja Aisyah. Selama mengetahui Aisyah hamil, ia banyak belajar tentang kehamil. Dan seperti yang dibacanya, buah sangat bagus untuk ibu hamil.
__ADS_1
"Ais, kamu ada ingin makan apa?" tanya Jerolin antusias sebagaimana dibaca nya bila ibu hamil akan banyak keinginan makan sesuatu.
Aisyah menatap Jerolin sejenak. Ia tak menyangka akan ada yang menanyakan hal seperti ini kepadanya. Rasa haru menyeruak dalam kalbu.
Bagi ibu hamil, pertanyaan yang ditanya Jerolin pasti anugrah bagi yang merasakan. Terlebih posisi Aisyah tak ada orang yang mendampingi. Namun, Aisyah tak ingin menunjukkan rasa haru tersebut.
"Pentol." Aisyah kembali mendorong troli mendatangi rak-rak lain nya.
Lagi-lagi Jerolin berdiri mematung memikirkan jenis makanan apa yang di sebut Aisyah barusan. Sangat asing di telinganya.
Ia pun merogoh ponsel dan mencari di internet. Dahi nya berkerut hingga alis nya menyatu.
Pentol disebut juga dengan cembul atau pênyol) adalah sebutan untuk jajanan tradisional serupa seperti bakso yang memiliki kandungan dagingnya lebih sedikit, terkadang pentol hanya terbuat dari tepung kanji (panganan serupa yang terbuat hanya dari tepung kanji biasanya disebut cilok). Pentol banyak dijual oleh pedagang kaki lima atau pedagang keliling lainnya, pentol jarang dijual di warung atau tempat makan lainnya, para pedagang pentol banyak dijumpai di kawasan sekolah, pasar, pabrik, universitas, dan tempat tempat keramaian. Pentol bervariasi macamnya, mulai dari pentol kanji, pentol isi telur puyuh, pentol tahu, pentol siomay, dan pentol goreng. Ada pula variasi pentol pedas yang disebut pentol mercon.
"Ini yang nama nya pentol?" tanya nya sendiri melihat gambar makanan yang dimaksud oleh Aisyah.
Ia pun memasukkan ponsel lalu mengedarkan pandangan mencari Aisyah. Di susul nya ibu hamil tersebut.
"Kamu mau nya kapan makan pen.. tol itu?" tanya nya agak lupa.
"Ya," sahut Aisyah ngasal. Baginya mana ada makanan itu disini.
Jerolin mengangguk kemudian menyuruh Aisyah menunggu sebentar karena ia akan mengambil bahan-bahan membuat makanan itu. Tentu nya dengan bantuan Mbah Google untuk menemukan semua bahan.
"Perjuangan," gumamnya sendiri.
❤️
Emak makan sek Yo.. nanti lanjut.
__ADS_1
mampir novel temen emak ya..