
"Baiklah. Segera urus keberangkatan ku," kalimat terakhir yang diucapkan Jerolin ketika masuk ke dalam kamar. Melihat istrinya berdiri di dekat jendela kamar mereka. Ia pun memasukkan ponsel ke dalam saku. Sudah menjadi kebiasaan bila berada di rumah akan mengurangi pekerjaan bila istri dan anak-anaknya belum terlelap.
"Sa,-." Ucapan Jerolin menggantung ketika dirinya hendak memeluk Aisyah dari belakang tapi istrinya itu menghindar dari dirinya.
Ia mengerti mengapa Aisyah bersikap seperti ini kepadanya. "Sayang, aku ha,-" Jerolin menghela nafas kembali setelah berusaha mendekati dan Aisyah kembali menghindar.
"Aku gak mungkin mengajak kalian, sayang. Dom dan Lucas baru saja masuk sekolah dan aku gak mau buat kamu kecapean terus," ucap Jerolin berharap Aisyah mengerti. Ia tahu betul bila istrinya itu sedang menjadi Aisyah yang manja padanya.
Aisyah langsung berdiri arah Jerolin berada. Wajah nya cemberut menunjukkan betapa kesal dirinya saat itu juga. "Kamu tahu kalau kami gak bisa jauh darimu, suamiku. Apalagi keadaan ku sekarang memang membutuhkanmu," ucapnya kembali membalikkan badan membelakangi Jerolin. Ia menangis tersedu-sedu mengetahui akan ditinggal pergi oleh suaminya.
Ketakutan dimana akan di duakan masih saja sering menghantui Aisyah. Ia sangat tahu bila kehidupan Jerolin dikelilingi banyak wanita yang rela melemparkan tubuhnya secara cuma-cuma kepada Jerolin. Meski selama ini, suaminya itu tidak pernah tergoda oleh wanita manapun.
__ADS_1
Jerolin menarik Aisyah hingga ke arahnya lalu memeluk dengan erat. "Aku gak mungkin duain kamu. Aku hanya sebentar disana," terangnya menenangkan Aisyah. Tangan nya setia mengelus punggung istrinya tersebut.
Sebenarnya sangat berat meninggalkan Aisyah dalam keadaan seperti ini. Namun, pekerjaan nya di London tidak dapat diserahkan kepada Nick sebab asisiten nya itu sedang mengurus klan mereka yang belum lama ini diserang oleh musuh.
"Aku janji akan pulang tepat waktu. Andai kamu dan anak-anak dapat aku bawa, maka aku akan membawa kalian kemanapun aku pergi seperti biasanya." Memang benar, Jerolin selalu mengajak istri dan anak-anaknya kemana pun dirinya pergi jika pekerjaan nya berjarak cukup jauh dengan Mansion. Selain ingin menghabiskan waktu bersama, ia juga ingin mereka dalam pengawasan Jerolin sendiri.
Aisyah memejamkan mata merasakan usapan ibu jari Jerolin begitu lembut dipipinya. Ia sangat tahu dan merasakan betapa besar cinta Jerolin untuknya. Ia juga tak menyangka dapat merasakan begitu berharga dirinya dimiliki oleh Jerolin.
"Kamu mau aku bawakan apa?" Tanya Jerolin memaksakan senyum.
Aisyah menggeleng pelan. "Aku hanya mau kamu cepat pulang. Aku benar-benar membutuhkanmu," ucapnya lirih membuat Jerolin tersenyum seraya mengangguk.
__ADS_1
"Aku janji."
"Baiklah. Aku siapin pakaian kamu, dulu. Jangan pergi. Tetap dikamar mumpung anak-anak sudah tidur," kata Aisyah memberi isyarat agar tetap berada di tempat.
Jerolin terkekeh melihat Aisyah yang seperti ini. Selama lima tahun ini, ia meyakinkan hati bila Aisyah memang di takdirkan untuknya.
Jerolin baringkan badan seraya memerhatikan Aisyah tampak sibuk memasukkan pakaian nya ke dalam koper.
"Iihh . Jangan tidur, suamiku." Pekik Aisyah ketika melihat Jerolin sudah memejamkan mata di atas tempat tidur.
"Kenapa dia menyebalkan sekali?" Gerutu Aisyah lagi.
__ADS_1