
"Tuan cukup banyak kehilangan darah. Luka nya cukup dalam dan sudah saya jahit. Nyonya tidak perlu khawatir, lagi. Mungkin malam ini tuan akan sedikit demam karena sudah mengeluarkan banyak darah," terang seorang Dokter kepada Aisyah dalam bahasa Inggris.
Aisyah mengangguk mengerti dan mengucapkan terimakasih. Ibu hamil itu balik badan ketika dokter tersebut telah keluar dari ruang perawatan Jerolin. Ia duduk di sebelah brankar dimana pria itu tengah duduk menatapnya. Helaan nafas panjang ketika melihat lengan Jerolin terbungkus perban.
"Kenapa bisa begini?" pertanyaan konyol yang dilontarkan Aisyah. Padahal ia tahu bahwa Jerolin pria berbahaya. Namun, harus diakui bila saat bersamanya, ia menjadi lebih merasa terlindungi.
"Hanya goresan kecil. Aku lengah saat sedang bekerja," terang Jerolin pelan, takut bila Aisyah akan menjauhinya.
Tatapan keduanya bertemu. Dapat dilihat tatapan Jerolin sama persis seperti Malvyn dahulu. Tatapan kagum dan penuh kasih. Aisyah menipiskan bibir ketika teringat mantan suaminya itu, memang dapat dirasakan bahwa cinta yang diberikan begitu besar. Namun, cinta itupula yang membuatnya sakit dan harus kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Jangan begini lagi. Aku takut," ungkap Aisyah jujur.
Jerolin tersenyum disertai anggukan. "Aku gak apa-apa terluka, Ais. Terpenting kamu baik-baik saja," terangnya merasa senang Aisyah sangat khawatir atas keadaan nya.
Aisyah menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Sungguh, ia merasa takut jika harus kehilangan orang-orang terdekatnya. Tubuhnya bergetar hingga membuat Jerolin merasa bersalah.
"Maaf," cicitnya Jerolin tidak tahu harus berbuat apa. Sejatinya ia tak ingin berbuat diluar batas kepada Aisyah.
Aisyah berdecak. Ia menatap Jerolin lalu mencubit paha pria itu hingga memekik.
"Kok di cubit?" cicit Jerolin menatap Aisyah.
"Dimana-mana, cewek kalau nangis dipeluk sama cowoknya. Kamu malah minta maaf, dasar. Gak peka!!" sentak Aisyah memasang wajah cemberut membuat Jerolin mendelik lucu.
"Memangnya boleh? tentu saja aku ingin memelukmu terlebih aku mencintaimu, Ais. Tapi aku menghormati mu, aku menghargai setiap keputusan mu dan aku gak mau melewati batasan kepadamu," terang Jerolin tulus membuat tangisan Aisyah berhenti.
Aisyah berdiri dan langsung mendekap Jerolin meski dirinya hanya dapat memeluk perut pria tersebut.
Jerolin membalas pelukan itu dengan hati yang bahagia. Ah, rasanya begitu aneh ketika menyadari bila dirinya seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Padahal, sebelumnya. Jerolin bisa melakukan lebih dari ini kepada wanita lain. Apalagi pekerjaan nya memang bersinambungan dengan para wanita.
"Tu-an..."
__ADS_1
Mata Jerolin mendelik sengit ketika melihat Nick hendak masuk ke dalam ruang perawatan nya tanpa izin.
"Om. Lepasin, kayaknya tadi ada seseorang akan masuk," cicit Aisyah hendak melepas pelukan tapi di tahan oleh Jerolin.
Jerolin mengibas tangan agar Nick segera pergi dari sana bukan malah mematung begitu. Setelah Nick pergi barulah pelukan itu dilepas.
"Enggak ada, Ais. Perasaan kamu saja agar pelukan nya aku lepaskan?" tanya Jerolin pura-pura merajuk.
Aisyah melebarkan mata. "Mana ada begitu. Tadi aku beneran mendengar ada seseorang memanggil tuan, begitu."
Jerolin berdecak. "Perasaan kamu saja."
****
Jerolin telah terlelap. Aisyah sudah memberi obat dari rumah sakit untuk meredahkan demam pria itu. Ia juga sudah meminum susu hamil nya. Langkah kakinya terayun mendekati brankar pria itu dan memeriksa demam nya semakin tinggi.
Ia mengingat ucapan Dokter jika Jerolin akan demam malam ini. "Aku harus apa?" Aisyah keluar kamar dan melihat Nick sedang duduk memakan sebungkus roti dan yogurt.
Nick menoleh ke sumber suara dan terkejut melihat Aisyah spontan berdiri dan menunduk hormat. "Maaf, nyonya. Saya kelaparan jadi tidak tahu jika anda memanggil saya," terang Nick takut bila wanita yang dicintai tuan nya itu marah.
"Lapar ya makan." Kata Aisyah selanjutnya merasa sungkan ingin meminta tolong pada pria itu. Aisyah pun berjalan melewati Nick tanpa mengatakan sepatah kata dan itu berhasil membuat orang kepercayaan merasa heran sekaligus mengejar Aisyah.
"Maaf, nyonya. Anda mau kemana sudah malam begini?"
"Ke Toko Asia cari baby piper. Kamu lanjut makan saja," ujar Aisyah. Ia tidak tahu apa lagi yang dapat menurunkan demam Jerolin sehingga mengingat perekat penurun panas yang sering digunakan nya dahulu saat masih kecil oleh mami Adzilla.
"Biar saya saja yang membeliny, nyonya. Saya sudah selesai makan," kilah Nick tidak ingin terjadi sesuatu terlebih Aisyah sedang hamil besar.
Aisyah menghentikan langkahnya menatap Nick. "Saya bisa sendiri," terang nya tak ingin mengalah.
Nick menggeleng mendengar penolakan dari Aisyah. Mengapa harus keras kepala? sama saja dengan tuan.
__ADS_1
"Saya antar," kata Nick tegas membuat Aisyah pasrah saja.
Aisyah berdiri di depan gerbang keluar Rumah Sakit menunggu Nick membawa mobil. Ia masuk ketika pintu mobil telah di buka oleh asisten Jerolin itu.
40 menit kemudian mobil mereka telah sampai di depan toko Asia. Aisyah keluar tanpa menunggu Nick membuka pintu mobil baginya. Nick sendiri terkejut atas kelakuan Aisyah itu
"Ya, ampun. Gerakan nya sat set," cicitnya pelan dan memerhatikan Aisyah berjalan cepat masuk ke dalam toko tersebut.
Tak pakai waktu lama, Aisyah telah kembali dan masuk ke dalam mobil. Nick melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju Rumah Sakit kembali. Tidak ada obrolan yang tercipta diantara keduanya.
Aisyah yang sulit untuk dekat dengan orang baru, Nick yang sangat penasaran. Apalagi tak pernah tahu bila Jerolin memiliki wanita yang tengah mengandung begini.
"Sudah lama kenal dengan tuan Jerolin?" tanya Nick, meski sudah bekerja 15 tahun lamanya dengan Jerolin. Ia tak mengingat dan belum pernah melihat Aisyah sebelumnya.
"Sudah," jawab Aisyah asal.
"Maaf. Apa benar, itu anak tuan Jerolin?" tanya Nick membuat Aisyah menoleh.
Aisyah berpikir, bagaimana jika anak ini lahir dan ada yang bertanya seperti ini kepada anaknya kelak?
Mengatakan bila anak Jerolin, bagaimana ketika lahir mirip dengan Malvyn?
Mengatakan bila anak Malvyn, juga tak akan mungkin.
"Tanyakan saja pada tuan Jerolin. Anak yang aku kandung ini anak dia atau tidak," jawab Aisyah sekena nya saja karena tidak tahu harus menjawab apa.
Nick hanya mengangguk dan merasa tidak enak hati lantaran merasa bila Aisyah tidak nyaman setelah diberi pertanyaan begitu.
Aisyah keluar dari mobil setelah sampai. Melangkahkan kaki menuju ruang perawatan Jerolin. Dilihat pria itu masih tertidur, ia pun mengambil benda yang di berinya lalu ditempelkan pada kening Jerolin. Senyuman nya merekah ketika melihat pria itu tidur terlelap dengan damai.
Aku tidak ingin tahu urusan kamu lagi, Vyn.
__ADS_1