
"Ngapain di pojokan begitu, Ais?" tanya Jerolin melihat Aisyah duduk di depan jendela kaca yang berembun.
Keduanya sedang berada di Rumah Desa milik Jerolin. Sebagai seorang mafia, tentu saja memiliki tempat yang jauh dari hiruk pikuk yang dapat siapa saja melihat dirinya. Sementara Aisyah sedang ingin menikmati suasana Desa karena merindukan kampung halaman.
Aisyah menoleh dengan dagu terpangku tangan nya yang terkepal. Rambut nya yang sudah di pangkas membuat kesan imut itu menatap Jerolin.
"Aku pingin mandi hujan," kata Aisyah kemudian terkekeh.
"Tapi aku aku gak mau sakit dan membahayakan anak ku," sambung nya lagi.
Jerolin melangkah mendekati Aisyah dengan segelas susu hamil di tangan nya. Ia ikut duduk di hadapan ibu hamil itu lalu menyerahkan segelas susu hamil tersebut.
"Tetap jaga kesehatan. Kamu sudah cape karena kuliah, jangan lagi aneh-aneh." Jerolin menasehati dengan tulus karena memang takut Aisyah kenapa-kenapa.
Aisyah menyesap susu hamil itu hingga separuh. Ia membuang muka ke arah luar jendela tanpa menanggapi ucapan Jerolin. Rasanya damai, malu, dan sakit sekaligus jika menerima perhatian dari pria di hadapan nya.
Dirinya yang masih terlalu muda, sudah tak memiliki orang tua, di sia-siakan suami dalam keadaan hamil, dan hidup sendiri di Negara orang. Apalagi Aisyah tak memiliki pengalaman pergi-pergi jauh sebelum menikah.
Jauh dalam lubuk hatinya, masih menyimpan nama Malvyn. Ingin melupakan juga percuma karena suatu saat mantan suaminya itu akan mengetahui jika mereka telah memiliki anak dan akan selalu berhubungan.
Membayangkan bagaimana harus saling berinteraksi, sementara sudah memiliki kehidupan masing-masing.
Tiba-tiba tubuh Aisyah menegang ketika merasakan gerakan menyerupai kedutan di perut nya. Tangan nya terulur spontan ke perut bagian kiri dimana gerakan itu berasal.
"Ada apa, Ais? Apa kamu merasakan sesuatu? mana yang sakit?" Jerolin seakan mengerti ketegangan Aisyah karena sedari tadi memerhatikan ibu hamil itu. Bahkan dirinya spontan mendekati lalu menyentuh perut Aisyah juga.
DEG
Jerolin menatap tangan nya yang berada di perut Aisyah merasakan gerakan yang sama persis dirasakan sang empu. Darah nya berdesir merasakan hal itu. Ia tak menyangka diberi kesempatan janin yang masih dalam kandungan itu untuk merasakan perkembangan nya.
"A-ais," panggilnya gugup dengan suara lirih. Tatapan kedua nya bertemu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dia hidup, om. Dia bergerak, dia menyapa kita." Aisyah sangat senang hingga tanpa sadar memeluk Jerolin yang berlutut.
__ADS_1
"Aku sudah gak sendirian lagi. Dia bersamaku, om." Aisyah memeluk Jerolin dengan melingkarkan kedua tangan di leher Jerolin. Pelukan itu begitu erat.
Jerolin sendiri sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak terbawa suasana. Tetapi, jika boleh jujur, dirinya sangat senang dapat merasakan hal ini.
Aisyah menyadari perbuatan nya langsung melepas pelukan. "Maafin Ais, om. Ais terbawa suasana."
Jerolin tersenyum disertai anggukan kecil. "Kita ke Dokter, yuk. Kamu harus melihat perkembangan anak kamu," ajak Jerolin kepada Aisyah.
Aisyah mengangguk cepat saking antusiasnya. Ia pun bangkit diikuti Jerolin, tapi pria itu membawa gelas berisi susu hamil sisa separuh itu.
"Habiskan lebih dulu, baru kita berangkat." Seruan Jerolin lebih tepat seperti perintah dan Aisyah tak dapat menolak.
"Sudah habis," kata Aisyah girang lalu menyerahkan gelas kosong itu kepada Jerolin. Pria itu sendiri tersenyum menanggapi.
Jerolin menaruh gelas kosong itu ke atas meja lalu mengambil jas yang dikenakan nya tadi dan memakaikan kepada Aisyah. "Kamu pakai jas ini agar tidak dingin. Hari sudah mulai gelap," terang nya dan Aisyah hanya menurut.
Kedua nya masuk ke dalam mobil dan Jerolin melaju dengan kecepatan sedang karena tak ingin membuat Aisyah tak nyaman. Persis seperti suami siaga. Jarak antara Desa dan kota cukup jauh, butuh dua jam untuk sampai disana.
"Gimana kuliah kamu?" tanya Jerolin kepada Aisyah.
Jerolin mengacak rambut, menatap Aisyah sekilas lalu menatap jalanan kembali. "Bagus, dong. Jadi anak kamu nanti akan bicara pakai bahasa Inggris juga," terang nya dan diangguki Aisyah karena setuju dengan ucapan pria tersebut.
Sepanjang jalan kedua nya banyak bicara mengenai kuliah Aisyah. Jerolin sangat senang melihat Aisyah tak lagi menjaga jarak padanya.
Dua jam berlalu, mobil mereka sudah berada di Rumah Sakit terkenal di Manchester. Jerolin mengajak Aisyah masuk ke dalam gedung tersebut.
"Om. Ini sudah malam, apa masih ada Dokter?" tanya Aisyah seraya menengadah menatap gedung Rumah Sakit itu.
"Ada. Percuma aku mendonaturkan dana sangat besar di Rumah Sakit inim Sudah, ayo."
Aisyah hanya menurut mengikuti Jerolin dengan pikiran yang bertanya-tanya. Donatur? Itu berarti Jerolin orang penting di Rumah Sakit ini.
Ia menggeleng ketika menyadari sedang berada di sisi pria berkuasa lagi.
***
__ADS_1
Kenyataan yang terjadi ialah, sudah tidak ada lagi Dokter yang praktik pada malam hari. Namun, bukan Jerolin namanya jika tidak dapat mendatangkan Dokter ke Rumah Sakit ini. Bahkan mereka tunduk atas perintahnya.
"Selamat malam, Tuan." Sapa seorang Dokter cantik berusia sekitar 40 tahunan.
Jerolin hanya mengangguk dan Aisyah menyengir kuda.
Aisyah di tuntun merebahkan diri ke atas brankar lalu perawat disana memberi clear ultrasound gel pada perut Aisyah. Kemudian Dokter cantik tersebut mengarahkan tranducer pada perut Aisyah yang sudah di beri clear ultrasound gel tersebut.
Tatapan Dokter, Aisyah, dan Jerolin mengarah pada layar monitor yang menampakkan janin yang masih kecil.
"Sudah memasuki trimester kedua, pergerakan janin akan semakin jelas. Janin pada bulan ke empat juga sudah semakin jelas. Ingat, ya. Mulai periode ini, perkembangan janin dalam kandungan tumbuh lebih cepat atau lebih lambat dari teman-teman sebayanya. Saat ini si Kecil berukuran sebesar kepalan tangan Nyonya. Lehernya mulai memanjang dan kepalanya semakin tegak. Rambut kepala dan alisnya mulai tumbuh, seperti juga rambut halus di seluruh tubuhnya yang disebut lanugo yang berfungsi sebagai selimut penghangat untuk si Kecil sebelum deposit lemak dibawah kulitnya terbentuk."
Penjelasan Dokter tersebut membuat Aisyah dan Jerolin tersenyum senang. Keduanya masih tak menyangka bila ada makhluk kecil sedang tumbuh di dalam sana.
"Selalu bahagia, ya. Agar anak juga bahagia dan akan ceria ketika lahir."
Tanpa Aisyah dan Jerolin sadari, keduanya mengangguk antusias.
Setelah memeriksa keadaan janin dan menebus vitamin, kedua nya meninggalkan Rumah Sakit dan mengantar Aisyah pulang ke Apartemen. Semenjak Aisyah dapat menerima kehadiran Jerolin, pria itu tinggal di gedung yang sama dengan Aisyah. Tapi, bukan satu Apartemen.
"Vitamin tetap di minum. Aku pulang dulu," kata Jerolin ketika sudah di depan Apartemen Aisyah.
"Om."
Jerolin balik badan.
"Makasih, ya."
❤️
.
Yang punya akun rangkin 1 dan 2 tolong chat aku ya..
__ADS_1