
Hari-hari yang dijalani Malvyn terasa hambar. Rutinitas pria itu hanya bekerja dan mengurung diri. Semua masalah sudah terselesaikan termasuk pernikahan nya dengan Aisyah juga selesai. Sebab itu pula hidupnya seperti tak berarti lagi.
Ingin mencari dan mengejar cinta Aisyah juga percuma dan masih mendapat trauma, takut menyakiti wanita yang masih menguasai hati dan hidupnya. Malvyn takut, sebab cinta nya yang terlalu besar membuat Aisyah sakit seperti dulu lagi. Hingga membuatnya urung dan membiarkan wanita itu bahagia tanpa terusik oleh nya.
Pihak keluarga juga terus menyemangati Malvyn agar tetap tabah menjalani kehidupan.
Malvyn kembali dingin bahkan lebih dingin sebelum menikahi Aisyah. Namun, entah mengapa hari ini ia terus memikirkan Aisyah. Seperti sesuatu sedang terjadi pada wanita itu.
"Mungkin aku sangat merindukan nya."
****
Sudah tiga hari ini Jerolin menginap di Apartemen Aisyah. Bukan melakukan yang tidak-tidak melainkan menjaga Aisyah sebab sudah mendekati HPL.
Aisyah sendiri sudah mulai merasakan mulas-mulas di perut sedari pagi. Ia sudah berjalan mengelilingi Apartemen dan itu membuat Jerolin khawatir.
"Sayang. Kita ke Rumah Sakit saja, ya?" tawar Jerolin melihat Aisyah meringis beberapa kali.
__ADS_1
Aisyah menggeleng sebab masih dapat mengatasi. Lagi pula belum mengeluarkan tanda-tanda lahiran seperti wanita hamil pada umumnya yang hendak melahirkan.
Keringat jagung mulai terlihat membuat Jerolin nekad untuk menggendong Aisyah untuk dibawa nya ke Rumah Sakit. Barang-barang keperluan persalinan Aisyah sudah di kemas dan dibawa Nick ke Mobil lebih dulu.
Di perjalanan, Aisyah hanya diam merasakan mulas, nyeri punggung bawah semakin terasa.
Sesampainya di Rumah Sakit, Jerolin membawa Aisyah ke ruang bersalin dan langsung di periksa oleh Dokter.
"Masih pembukaan 4, tuan. Masih ada waktu untuk pembukaan sempurna. Jalan-jalan lagi, yuk. Sebentar lagi," sang Dokter.
"Punggungku nyeri, Jero." Aisyah meringis seraya mengelus punggung nya sendiri.
"Aku bantu, ya?" tawar Jerolin dan diangguki oleh Aisyah.
"Maaf," gumam Jerolin menyingkap dress hamil nya keatas.
Pria itu menggeleng cepat ketika melihat punggung Aisyah yang putih polos terpampang dihadapan nya. Ia pun mulai mengelus-elus punggung Aisyah.
__ADS_1
"Pinggulnya juga." Terang Aisyah meminta Jerolin mengelus ditempat yang diinginkan.
Ia memejamkan mata menahan rasa malu itu. Tapi, benar dikatakan oleh Dokter tadi. Sentuhan suami bisa menenangkan ibu dan bayi nya. Tapi, kondisi nya berbeda. Malvyn tidak ada disini.
Setelah merasa lebih baik, Jerolin menyuapi Aisyah makan dengan telaten.
"Aku mau jalan-jalan lagi," pinta Aisyah keluar kamar diikuti Jerolin.
Jerolin duduk di bangku taman sementara Aisyah berjalan santai. Bukan tak ingin mengikuti, tubuhnya juga terasa lelah akibat tidak tidur satu malam menjaga Aisyah yang tidak bisa tidur.
Ponsel nya berdering dan langsung ia tekan icon gagang telepon berwarna hijau.
"Usahakan tidak ada yang mendekati Rumah Sakit, Nick. Kekasih ku akan melahirkan hari ini. Jangan biarkan mereka lolos lagi," kata Jerolin dingin.
Helaan nafas terdengar lirih. Sangat sulit baginya keluar dari dunia hitam itu. Namun, tekadnya sudah bulat dan ia percaya bahwa Aisyah tidak memanfaatkan cinta nya.
"Aku sudah gak sabar akan menikahimu, Ais. Aku akan menjadikan mu Ratu dan wanita yang beruntung."
__ADS_1