Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 101


__ADS_3

Oma Nadira mendadak limbung beruntung opa Qenan berhasil menangkap tubuh istrinya itu.


Papi Edzard menatap Malvyn dengan tatapan tajam. Tujuan mereka datang ke Perusahaan untuk membawa Malvyn pulang.


****


Aisyah tengah menunggu Grace di ruang khusus karyawan Kafe. Ia melihat karyawan Kafe yang bertugas hari itu tampak sibuk termasuk Grace.


"Kenapa pada terlihat sibuk, Grace?" tanya nya ketika melihat Grace lewat di depan nya membawa alat pembersih kaca.


"Pemilik Kafe akan berkunjung, Ais. Kamu menunggu di meja pelanggan saja, ya. Dia gak suka ada orang lain di ruangan begini," katanya dan Aisyah mengangguk mengerti.


Ia pun langsung menuju meja pelanggan yang kosong dengan segelas es krim yang isinya masih penuh. Beruntung hari ini off kerja sehingga tak akan merasa kelelahan menyambut pemilik Kafe.


Mengingat pemilik Kafe, ia menjadi penasaran karena belum pernah melihatnya.


Cukup lama menunggu hingga ia melihat Fedora masuk dengan gaya angkuh seperti biasa lalu berbaris seperti hendak menyambut orang penting.


Ah, tentu saja penting.


Tubuh Aisyah membeku, rasa sesak di dada menyeruak mengiringi langkah seseorang yang dilihatnya masuk ke dalam Kafe bersama dua orang berpakaian serba hitam.


"Ini gak mungkin!!"

__ADS_1


***


Aisyah keluar kafe secara mengendap-endap agar tak dilihat orang yang ditakutinya.


"Maaf-maaf," kata Aisyah ketika tak sengaja menabrak punggung seseorang.


Buru-buru Aisyah hendak melangkah keluar dari Kafe. Namun, cekalan dipergelangan tangan membuat tubuhnya menjadi kaku. Matanya terpejam merasa takut tak terhingga.


"Ais."


Tubuh Aisyah gemetar mendengar suara bariton itu. "Tolong jangan sakiti aku lagi," kata Aisyah gemetar dengan derai air mata.


Semua mata melihat dua orang itu dengan penuh tanda tanya tetapi tidak ada yang berani melerai atau sekedar bertanya karena pria yang membuat Aisyah takut adalah orang yang sangat berkuasa.


Aisyah menggeleng takut. "Jangan sakiti aku," cicitnya lirih hingga dunia terasa gelap dan tak sadarkan diri.


****


Kehamilan Jesica mulai terkuak dan itu semakin membuat keluarga Abraham marah. Mereka semakin dibuat gusar atas perbuatan Malvyn yang telah melewati batasan.


"Dad. Cari Ais, aku khawatir dengan anak itu!" Kata Oma Nadira lirih kepada Opa Qenan.


Pria tua itu tampak tak semangat hidup melihat separuh jiwa nya terkulai lemah di atas brankar.

__ADS_1


"Kita gak mungkin mencarinya lagi, Mi Amor. Dia akan lebih sakit melihat Malvyn bersa wanita lain," terang Opa Qenan memberi pengertian kepada sang istri.


Bukan hanya memikirkan bagaimana perasaan Aisyah mengetahui ini semua. Tetapi, ia malu dan tak sanggup berhadapan dengan Aisyah juga keluarga nya.


Apalagi saat ini sudah sangat ramai membicarakan keluarga nya. Membicarakan Malvyn yang telah menghamili wanita lain karena istri tak kunjung hamil.


****


"Honey.. Makasih sudah memilihku," kata Jesica merangkul lengan kekar Malvyn.


Malvyn tak menanggapi. Matanya lurus menatap pantulan dirinya dan Jesica di depan cermin. Keduanya tengah memakai gaun putih mewah dan tuxedo hitam.


"Pasti anak kita harus sangat bahagia Daddy dan Mommy nya hidup bersama. Aku sudah gak sabar menunggu nya lahir," terang Jesica sambil mengelus perut ratanya.


Acara yang diadakan tampak mewah dan berkelas. Banyak tamu undangan yang turut hadir. Senyuman dan tawa bahagia Jesica terus terukir di wajahnya tetapi tidak dengan Malvyn.


Malvyn menatap sekeliling orang-orang berpengaruh. Ucapan selamat terus bergilir mengiringi acara malam itu. Tetapi, tak seorang pun keluarga nya yang datang.


"Aku merindukan mu, Ais."


❤️


Sambil nungguin mampir dulu pnya kawan aku ya..

__ADS_1



__ADS_2