
"Jangan, Paman! Tolong jangan tusuk perut Ais," Gadis kecil berusia 10 tahun meronta-ronta di sebuah ruangan gelap tanpa penerangang.
Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat anak-anak yang tadinya bersama nya di ruangan gelap ini dalam keadaan hidup berubah menjadi mayat yang tersayat-sayat karena diambil organ dalam tubuhnya.
Gadis kecil itu adalah Aisyah Hadirah Nafiza yang menjadi korban penculikan anak, komplotan mafia yang sudah meresahkan warga kampung di daerah Medan.
Sore menjelang petang, Aisyah yang masih bermain di sawah peninggalan almarhum kakek nya menghampiri sebuah mobil box dengan spanduk gambar es krim.
Sebagai anak yang masih kecil tentu saja menarik hati Aisyah. Apalagi sore itu uang jajan sekolah tersisa dua ribu rupiah.
Aisyah pun memanggil tukang es krim tersebut dan memesan nya. Ketika ia sedang asyik menikmati es krim tersebut, ia di bekap oleh seorang pria dewasa perawakan tinggi besar dan menyeramkan.
Aisyah kecil tidak dapat menjerit karena mulutnya di bekap dan hanya dapat meronta-ronta dalam gendongan bagai karung beras yang di jinjing pada pundak pria dewasa itu.
Akhirnya Aisyah tidak sadarkan diri dan ketika sadar dirinya sudah berada disebuah ruangan gelap. Tepat saat sadarkan diri, ia melihat pembunuhan keji tersebut.
Aisyah juga melihat pria dan wanita dewasa sedang duduk, tertawa menyaksikan pembunuhan itu.
Tidak berapa lama terdengar suara dobrakan pintu membuat aktivitas mereka terjeda. Aisyah yang melihat siapa pelaku pendobrak itu langsung merasa tenang.
Malvyn.
Pemuda yang beberapa kali ditemui nya jika pemuda itu datang ke kampung halaman. Yang pasti, orang tua Aisyah tidak mengetahui hal ini karena mereka akan bertemu di sawah ataupun di tepi sungai pertama kali bertemu.
"Paman," seru Aisyah.
"Aisyah.."
Seruan Aisyah membuat wanita yang sedari tadi tertawa bahagia menjadi berang. Bagaimana tidak? Malvyn adalah pria yang dicintainya selama ini.
Bahkan demi agar dapat dekat dengan Malvyn, ia melakukan sesuatu diluar batas yang kakak nya sendiri tidak mengetahui perbuatan nya.
"Kau keterlaluan, Jes!!" sentak Malvyn menatap Jesica dengan tajam bagai api membara.
__ADS_1
Usut punya usut, Aisyah menjadi korban penculikan kakak Jesica atas permintaan nya.
Jerolin, mafia kelas kakap yang tidak memiliki hati, rela membunuh manusia hanya untuk memperbanyak pundi-pundi uang tidak dapat menolak permintaan Jesica untuk menculik Aisyah.
Jerolin yang masih dalam berduka atas meninggalnya adik bungsu mereka yang mati karena bunuh diri hanya mampu menuruti permintaan Jesica.
"Akhirnya kamu datang juga, honey!" kata Jesica bangkit dari duduk kemudian menghampiri Malvyn. Meraba dada bidang pria itu lalu ingin mengecup bibir Malvyn namun langsung membuang muka.
Jesica memberi isyarat kepada anak buah Jerolin agar mengikat tangan dan kaki Malvyn. "Aku sudah lama menanti hari ini, Vyn. Aku sudah lama menunggu agar kamu menjadi milik ku. Ternyata kamu terobsesi dengan gadis kecil ini," Jesica mendekati Aisyah lalu mencengkeram dagunya dengan keras sehingga terdengar ringisan.
"Jangan coba-coba menyakiti Ais ku, Jes. Atau aku akan,-"
Belum sempat Malvyn menyelesaikan ucapan nya sudah di potong oleh Jesica. "Atau apa? kamu akan membunuhku dengan keadaan seperti itu?" ia tersenyum mengejek.
Ingin rasanya Malvyn membunuh Jesica dan semua orang disini lalu membawa Aisyah pergi dari sini. Tetapi, keadaan nya tidak memungkinkan.
Malvyn memejamkan mata mana kala Jesica tanpa kasihan menghajar Aisyah menggunakan pecut.
"Apa maumu?" tanya Malvyn dengan rahang mengeras menatap Jesica. Ia tidak tega melihat Aisyah dan tidak ingin gadis kecil pujaan hatinya merenggang nyawa.
"Aku serius, honey."
Malvyn melihat Aisyah sudah tak berdaya disana membuatnya tidak tega. Tangan nya terkepal dan mengambil keputusan yang berat namun harus karena ini semua demi kehidupan Aisyah.
Sejak malam itu, Jerolin membawa Aisyah pergi keluar negeri dan kembali satu Minggu setelah kejadian.
Malvyn tidak tahu Aisyah diapakan di luar negeri oleh Jerolin.
*
*
Disisi lain, Malvyn sudah berencana pergi ke perkampungan dimana Aisyah tinggal. Tidak mudah baginya mendapat hari libur panjang hanya untuk melihat gadis kecil pujaan hatinya.
__ADS_1
Pertama kali Malvyn bertemu dengan Aisyah saat dirinya liburan sekolah akhir semester ke Danau Toba. Sebagai pemuda yang sedang maruk-maruk nya ingin mengenal dunia luar membuatnya mengelilingi pulau Sumatera Utara bersama Mario.
Hari itu, Mario sedang duduk di tepi sungai terdapat air terjunnya. Ia melihat seorang gadis kecil bersama teman-teman lelaki nya sedang memancing.
Karena hanya gadis kecil itu seorang saja membuat nya menjadi pusat perhatian Malvyn.
"Paman mau roti?" tanya Aisyah menyodorkan sebungkus roti kepada Malvyn.
Malvyn tidak langsung menerima karena ia merasa takjub dengan mata indah Aisyah yang terlihat sangat tulus.
"Ais anak baik, kok. Bandel sedikit saja jadi paman jangan takut," kata Aisyah kecil berpikir seperti yang dikatakan orang tua nya agar tidak menerima makanan dari orang asing.
Malvyn terkekeh mendengar ucapan Aisyah dan membuatnya menerima roti itu. Ia buka bungkusnya kemudian hendak memakan nya. Namun urung setelah mendengar ucapan Aisyah lagi.
"Paman. Potongan, boleh? Ais lapar," cicit Aisyah nyengir seperti kuda.
Lagi-lagi Malvyn terkekeh mendengar ucapan Aisyah. Rasanya tidak pernah ia jumpai gadis mana pun yang dapat membuatnya tertawa.
Malvyn segera memotong roti tersebut lalu menyerahkan separuhnya untuk Aisyah. Tidak lupa pula ia memberikan secangkir cokelat panas kepada Aisyah dan teman-teman nya.
Ketika sore hari, saat Malvyn dan Mario sedang mencari kayu bakar untuk api unggun pada malam hari Aisyah berlari ke arah mereka dengan nafas tersengal dan derai air mata. Tidak lupa baju yang dikenakan gadis itu sudah basah kuyup padahal tidak dalam keadaan hujan.
Seketika itu pula Malvyn menjadi panik dan langsung menggendong dan memeluk Aisyah. "Ais kenapa?" tanya Malvyn menepuk-nepuk punggung Aisyah pelan berharap gadis kecil itu tenang.
"Ka-kak Sa-sania masuk sungai," ucap Aisyah terbata dan membuat kedua pemuda itu terkejut.
Mereka segera mendekati sungai dimana tenda mereka berada. Ternyata pada sore hari Aisyah mengajak Sania untuk bertemu dengan Malvyn dan Mario.
Kedua gadis kecil itu tidak lupa untuk bermain di bawah air terjun. Namun, kesialan berpihak pada Sania sehingga ia tergelincir dan terbawa arus.
Malvyn datang menolong Sania. Beruntung arus terjun tidak terlalu deras. Karena kejadian itulah Sania menjadi mengagumi sosok Malvyn dan selalu ingin tahu kehidupan pria itu.
Katika hendak menyapa Aisyah, Malvyn terkejut gadis kecil pujaan hatinya dibekap oleh penjual es krim. Ia pun mengikuti mobil box es krim tersebut.
__ADS_1
❤️