Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 100


__ADS_3

Aisyah menyeka keringat ketika baru saja keluar dari Kafe setelah jam kerja nya telah usai. Duduk di bangku beton yang tak jauh dari sana sembari menikmati jalanan yang selalu ramai diisi pejalan kaki.


Senyuman terus terukir dengan satu tangan merangkul perutnya menganggap anaknya telah lahir. Grace duduk di samping Aisyah dan memberikan sebotol soft drink untuknya.


"Kamu tinggal sendiri disini?" tanya Grace menatap gedung-gedung tinggi disana sama seperti Aisyah.


Aisyah menoleh ke arah Grace sekilas lalu menatap lurus kembali. "Enggak. Aku sendiri disini," jawabnya.


"Kuliah?"


Aisyah menggeleng tanpa melihat Grace lagi. Mana mungkin dirinya kuliah karena akan ditemukan oleh Malvyn. "Enggak juga."


Grace menoleh ke arah Aisyah dengan kerutan di dahi nya. Biasanya orang-orang luar datang ke Negara nya karena akan melanjutkan pendidikan.


"Jadi, kamu tinggal di Manchester karena apa?"


Aisyah menoleh ke arah Grace disertai senyuman. "Memulai kehidupan baru, Grace."


"Apa kamu sebatang kara?" tanya Grace lagi.


Aisyah menggeleng. "Orang tua ku sudah meninggal. Abang dan kakak aku ada di Indonesia."


Sejak hari pertama Aisyah bekerja, keduanya semakin dekat dan akrab. Grace yang menyukai budaya Indonesi membuatnya takjub oleh kebiasaan-kebiasaan dari Aisyah.


Hari ini adalah hari yang ditunggu para pekerja. Hari penerimaan gaji.


Aisyah tersenyum menatap uang hasil kerjanya selama ini. Setelah pulang bekerja, ia akan ke Rumah Sakit dan membeli keperluan nya selama masa hamil.


****


"Bayi nya sehat. Hanya saja berat bada ibu dan bayi masih kurang ya. Tapi jangan khawatir, tetap makan makanan yang sehat dan jangan setres."

__ADS_1


Aisyah mengangguk mengerti dan matanya langsung berkaca-kaca melihat layar monitor yang menampakkan janin nya yang bergerak lincah.


"Pada usia Minggu ke-13 ini ovarium pada janin perempuan atau testis janin laki-laki telah berkembang. Organ keelamin telah terbentuk tetapi belum dapat terdeteksi alat.'


"Kita dengarkan detak jantung nya, ya."


Aisyah mengangguk senang. Dan kembali meneteskan air mata ketika mendengar suara detak jantung yang begitu merdu. Tidak ada kebahagiaan yang tertandingi bila menjadi seorang ibu.


"Vitamin nya tetap diminum, ya." Kata Dokter kandungan itu dalam berbahasa Inggris. Aisyah tersenyum disertai anggukan.


Aisyah keluar dari ruang periksa dan menebus obat di Apotek setelah membayar biaya administrasi pemeriksaan nya. Perutnya memang masih rata, tapi dapat dirasakan nya bila keadaan perutnya saat ini mengeras sebagai tanda ada kehidupan di dalam sana.


Aisyah si pembuat ulah seakan tiada dan menjadi Aisyah yang dewasa karena akan hadir seorang anak dihirupnya.


Sesampainya di Apartemen, Aisyah segera memanaskan makanan yang dibelinya. Senyuman nya terukir kala panggilan video nya tersambung dan terlihat wajah John dan Johan disana.


"Apa kabar?" pekik Aisyah sedang mengambil sendok lalu membawa makanan tadi ke meja dekat ponsel nya.


"Bisakah panggil aku Ais saja? Gimana bisa seorang nyonya muda justru diberi uang sama pengawalnya?" sepertinya Aisyah juga tak ingin menjawab pertanyaan dari Johan saat ini.


"Bolehkah aku memanggil kalian Paman? kalian berdua sudah aku anggap keluarga. Posisi kalian lebih dari pengawalku," kata Aisyah dengan mata berkaca-kaca.


"Boleh. Kamu juga sudah kami Angga seperti anak sendiri. Sudah jangan sedih dan lanjutkan makan kamu," kata John yang memang selalu menampakkan kasih sayang nya, tidak sekaku Johan.


"Kayaknya kamu terlihat lebih kurus," celetuk Johan membuat Aisyah memelankan kunyahan nya.


Memang disadari Aisyah jika dirinya lebih kurus, mungkin karena baru merasakan bagaimana hidup yang sebenarnya. Penuh perjuangan untuk menghasilkan uang.


"Aku masih hamil muda, Paman. Ini sudah biasa dialami ibu hamil."


"Baiklah. Kami harus pergi. Jaga dirimu baik-baik disana," kata Johan dan diangguki oleh John.

__ADS_1


"Kalian juga."


Aisyah menghela nafas panjang setelah obrolan mereka berakhir. Rasanya sangat merindukan tempat kelahiran nya. Awalnya ingin kembali ke Medan saja. Namun, mengingat bagaimana jahat nya Jesica sehingga membuatnya setuju pergi jauh dari sana agar anak dalam kandungan nya selamat.


Selesai makan Aisyah membuat susu hamil. Hari ini hingga besok giliran off kerja dan ia sudah berencana pergi bersama Grace setelah gadis itu pulang bekerja.


****


Perpisahan Malvyn dan Aisyah sudah terendus oleh para karyawan disana. Kasak-kusuk perselingkuhan pria itu dengan Jesica mulai terkuak.


Banyak yang mengatakan cinta lama bersemi kembali karena lama nya hubungan Malvyn dan Jesica akan sulit melupakan. Ditambah pernikahan pria itu dengan Aisyah yang diketahui secara tiba-tiba.


Sudah beberapa artikel di media sosial memberitakan masalah mereka dan itu berhasil membuat Satria dan Sania berang. Sebagai seorang kakak tentu saja tidak ingin nama sang adik menjadi jelek Dimata masyarakat. Apalagi sangat banyak netizen berkomentar bahwa Aisyah menjadi orang ketiga pada hubungan Malvyn dan Jesica.


Satria dan Sania berdiri di depan gedung tinggi dimana itu ialah Perusahaan keluarga Abraham. Sebelum kesini, kakak beradik itu telah mengunjungi Mansion tetapi tidak ada seorang pun berada disana.


"Maaf. Silahkan buat janji lebih dahulu agar dapat bertemu dengan Tuan Malvyn," kata seorang resepsionis kepada Satria yang ingin bertemu dengan Malvyn.


Satria menggenggam erat tangannya. "Apa semua orang yang memiliki banyak uang akan sombong seperti ini?" tidak ada lagi yang diucapkan, tetapi Satria dan Sania memilih duduk di Lobby menunggu Malvyn keluar dari Kantor nya.


Dua jam berlalu Satria dan Sania menunggu hingga akhirnya melihat Malvyn keluar dari lift bersama Mario dan Jesica. Tidak menunggu lama, Satria bangkit dari duduk dan berjalan mendekati orang-orang berkuasa itu.


PLAK


Satu tamparan mendarat pada pipi Malvyn hingga membuat keributan di Lobby tersebut. Meski bada Satria kalah jauh dengan Malvyn tak membuatnya gentar untuk memberi pelajaran kepada pria yang telah menikahi dan mencampakkan adik bungsunya.


Tanpa mereka sadari tepat saat Satria menampar Malvyn, keluarga pria itu baru saja di. . memasuki Lobby.


"Tidak cukup kah anda membuang adik saya saja tanpa membuat luka lagi? Bagaimana bisa adik saya menjadi orang ketiga pada hubungan terlarang kalian, sementara wanita muraahan itulah yang menjadi orang ketiga. Apa karena wanita itu hamil? apa anda tidak berpikir bagaimana baru sekarang hamil sementara kalian sudah berhubungan 8 tahun lalu?"


"Saya sebagai seorang pria malu dan jijik melihat kelakuan kalian. Saya bersumpah tidak ada kebahagiaan untuk kalian yang sudah menghancurkan kehidupan Aisyah," sentak Satria menatap Malvyn dengan tatapan yang menyala-nyala.

__ADS_1


Sania juga tak kalah berang. "Kamu," tunjuknya pada Malvyn. "Awalnya aku mengagumimu. Tapi, dibalik semua perhatian mu kepada adik ku adalah sebuah kepalsuan membuatku jijik.


__ADS_2