Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 136


__ADS_3

Deg


Jerolin mematung ketika melihat rekaman CCTV dimana memperlihatkan Lucas bertemu bahkan mengobrol dengan Malvyn seperti sudah sangat akrab. Ia sangat tahu bila anaknya, Lucas. Pasti mengajak Malvyn mengobrol lebih dahulu.


Matanya terpejam menenangkan hati. Sudah sangat lama ia yakini bila hari itu akan datang. Dimana mereka akan bertemu dengan Malvyn. Ia juga sudah meyakini bahwa hatinya telah siap. Tapi nyatanya ia tidak sesiap itu.


"Apa anda baik-baik saja, tuan?" Tanya Nick melihat Jerolin hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Jerolin tersadar, ia meraup wajah frustasi. Bukan ingin menghalangi. "Ya." Ia keluar setelah melihat pengasuh dan Lucas pergi.


Ia pun pergi kembali ke ruang perawatan Sania dan Lucas juga baru tiba.


"Papi.." pekik Lucas merentangkan tangan dan langsung diraih oleh Jerolin.


"Jangan pergi lagi, oke. Gak semua orang yang kamu temui orang baik, ngerti?" Jerolin bicara tegas dan Lucas mengangguk. "Dan jangan kasih tahu Mom kalau kamu pergi main sendiri," tegur nya lagi.


"Siap, Pi. Aku gak mau buat Mom nangis."


Jerolin menggendong Lucas masuk ke ruang perawatan menemui keluarga istrinya itu.


"Kalian dari mana saja?" Tanya Aisyah cemberut. Ia kesal ditinggal lama oleh Jerolin.


Jerolin menurunkan Lucas lalu mendekati Aisyah dan memeluk erat. Ia memejamkan mata menikmati aroma tubuh istrinya itu. Mencari ketenangan atas kegundahan dalam hatinya.


Aisyah sendiri terkejut atas perlakuan Jerolin. Lima tahun menjadi istri pria yang sedang mendekap nya tentu saja sudah sangat mengenal luar dalam. "Ada apa? Apa kamu ingin pulang sekarang?" Tanyanya seakan mengerti bila sang suami sedang tidak baik-baik saja.


Jerolin mengurai pelukan, tatapan keduanya bertemu lalu ia hanya mengangguk saja.


Keluarga kecil itu berpamitan pulang dan akan kembali setelah Sania sudah pulang ke rumah saja. Di dalam mobil juga Jerolin tampak diam saja dan itu berhasil membuat Aisyah tampak khawatir.


Dominic menatap Lucas begitu tajam dan tentu membuat Lucas ketakutan.


***


"Nak. Apa kamu gak mau punya anak begitu?" Tanya mami Ivy memperhatikan Malvyn menatap arah Lucas dan pengasuhnya pergi, tadi.


Malvyn tersenyum mendengar pertanyaan mami Ivy. Ingatan nya kembali pada saat dimana Aisyah hamil dan juga Jesica. Jika dihitung, anak nya akan sebesar bocah laki-laki bule itu.


"Siapa yang menolak anak, mi?" Tanya Malvyn kembali tanpa menjawab pertanyaan mami Ivy.


"Menikah, nak. Gak ada salahnya kamu menikah lagi. Bukankah kamu bilang kalau Ais sudah bahagia?"

__ADS_1


Malvyn menghela nafas panjang kemudian bangkit. Ia merangkul mami Ivy lalu mengecup pipi beliau. "Mami tenang saja. Nanti, setelah aku siap akan menikah lagi. Tapi nanti, gak tahu kapan."


***


"Lucas. Kamu dari mana saja? Kenapa papi jadi diam saja?" Tanya Dominic kepada Lucas setelah berada di rumah mereka.


Lucas menggeleng imut. "Gak ada, Dom. Aku memang bermain dengan Paman yang sangat mirip denganmu," jawab Lucas.


Dominic hanya diam saja. "Jangan terbiasa bicara dengan orang asing, Lucas. Kamu ingat kata Mom, kan? Kenapa kamu susah sekali diatur," persis seperti Malvyn yang selalu tegas pada orang lain.


Lucas hanya mengangguk patuh.


***


Aisyah menatap Jerolin yang sedari tadi hanya diam saja. "Cerita sama aku, suamiku. Ada apa? Apa mereka mengikuti kita kesini?" Tanya nya dan Jerolin menggeleng.


"Ais. Apa kamu cinta sama aku?" Tanya Jerolin mengejutkan Aisyah sebab pertanyaan ini sangat jarang sekali diucapkan.


"Kenapa tanya begitu, Jero? Ada apa?"


Jerolin terkekeh mendengar pertanyaan Aisyah bukan menjawab pertanyaan. Kekehan nya terdengar lirih menutupi luka. "Ternyata jawaban kamu masih sama, Ais. Kamu selalu bertanya ketika aku menanyakan perasaanmu padaku."


Wajah Aisyah terlihat sangat menyesal. "Aku harus apa agar kamu percaya, Jero? Aku harus apa?"


Selalu saja seperti ini. Aisyah tidak dapat menahan air matanya. "Tolong percaya. Tolong tetaplah jadi Jero yang optimis. Jangan begini," katanya diisak tangisnya


Jerolin kembali mendekap Aisyah. Begitulah ia selama ini. Atas rasa takut nya membuat sering tak semangat.


Aisyah menangkup wajah Jerolin. Ia cium lembut bibir pria itu perlahan hingga mendapat balasan.


"Pelan-pelan, Jero." Ucap Aisyah ketika Jerolin akan memasukkan pusaka ke dalam intinya.


Tatapan keduanya terkunci dengan mata sayu. "Aku ingat kata dokter, sayang."


***


"Kamu mau kemana, Lucas?" Tanya Dominic melihat adik nyanitu keluar kamar membawa bantal guling.


Lucas menoleh kebelakang melihat Dominic memegang gelas kosong. "Aku mau tidur sama papi dan Mommy."


Dominic melihat kamar papi dan mommy nya sudah tertutup sejak mereka kembali. "Mereka sudah tidur dari tadi. Jangan diganggu terus, kalau takut tidur saja di kamar bersama ku."

__ADS_1


Lucas berubah lemas dan mengikuti Dominic masuk ke dalam kamar. Lucas selalu tidak bisa menolak perintah Dominic. Sebab anak itu tahu, jiwa kepemimpinan Dominic lebih dominan.


****


Keesokan hari Jerolin telah rapi dengan setelan kemeja panjang dan celana hitam nya. Ia tersenyum melihat Aisyah masih tertidur pulas.


"Sayang," panggilnya seraya mendudukkan bobot tubuhnya di samping Aisyah. Di elus pipi istrinya itu.


Aisyah terusik hingga memaksa untuk membuka mata.


"Pagi," ucap Jerolin lalu mengecup kening Aisyah.


"Pagi," jawabnya dengan suara bangun tidur. "Kamu mau kemana?"


"Hari ini Dominic dan Lucas sekolah, sayang. Dan aku akan mengantar mereka."


Aisyah terkejut langsung duduk ketika baru saja mengingat. "Aku lupa. Aku mandi dulu, ya."


"Terlambat sayang. Nanti kamu ikut jemput saja, ya."


Benar saja setelah Jerolin mengatakan itu, suara ketukan pintu terdengar nyaring. Jerolin terkekeh mendengarnya.


"Mereka sudah selesai, kan?"


Aisyah meringis mendengar suara ketukan itu. Ia pun beringsut turun dari ranjang pelan-pelan kemudian memakai bathrobe lalu mengikat rambutnya secara asal.


Jerolin membuka pintu setelah Aisyah siap.


"Mommy gak ikut antar?" Tanya Lucas kecewa.


Aisyah merasa bersalah. Ia membungkuk menyamakan tinggi Dominic dan Lucas. "Maaf, ya."


"Gak apa-apa, Mom. Dom ngerti kalau Mommy gak boleh cape."


Setelah berpamitan kepada Aisyah, Jerolin membawa Dominic dan Lucas ke sekolah mereka yang baru. Taman Kanak-kanak dimana anak Satria juga bersekolah disana.


"Ingat. Bibi Ana hanya hari ini menunggu kalian full time disini. Besok sudah gak lagi karena bibi Ana akan menjaga Mom. Jangan buat ulah dan tetap berada di lingkungan sekolah kalau masih melanggar, papi akan panggil Paman Nick untuk menjaga kalian," ancam papi Jerolin setelah masa perkenalan dan akan kembali pulang.


"Siap, Papi." Jawab keduanya hampir bersamaan.


Lebih tepatnya, Dominic lebih banyak menjaga Lucas yang sangat aktif. Ia terlihat bosan berada di tempat ramai seperti ini.

__ADS_1


"Hai. Aku Jeslyn."


__ADS_2