
"Aaiisyaaahh," pekik Malvyn ketika baru masuk apartemen.
Aisyah dan kedua pengawal itu langsung berdiri ketika mendengar suara Malvyn memenuhi ruangan.
Dengan cepat John dan Johan membersihkan bekas makan mereka karena tahu bila Malvyn akan marah jika Aisyah makan makanan sembarangan.
Aisyah berlari mendekati Malvyn yang masih berada di ruang tamu. "Aku disini," ucap nya berdiri di hadapan Malvyn.
Malvyn menghela nafas panjang kemudian mengajak Aisyah agar duduk lebih dahulu. Sedangkan Aisyah cukup mengerti jika sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Hidup bersama Malvyn selama 4 bulan ini membuatnya paham jika terjadi sesuatu membuat tidak baik-baik saja ataupun merasa lebih baik.
"Kamu di kampus itu ngapain saja?" tanya Malvyn kesal karena baru saja mendapat laporan bila nilai Aisyah sangat tidak memuaskan.
Aisyah meringis, menunduk takut dengan tatapan Malvyn yang begitu menyeramkan. "Ya belajar."
Aisyah benar-benar belajar dan tidak neko-neko jika urusan kuliah karena benar-benar ingin menyelesaikan kuliahnya demi sang papi.
Tetapi, kemampuan nya tidak seperti kriteria yang diinginkan Malvyn. Jadi ia harus apa? hanya sampai disitu kemampuan nya.
__ADS_1
"Kalau belajar nggak mungkin nilai kamu sejelek itu, Ais. Kamu pasti banyak main bersama Meta dan Gio itu, kan?"
Aisyah memberanikan diri untuk menatap Malvyn. "Kenapa jadi bawa-bawa mereka? mereka nggak salah," Belanya.
Rahang Malvyn mengeras karena Aisyah membela pria lain dihadapan nya. "Kamu membelanya? mulai sekarang gak ada lagi main-main setelah kuliah," putusnya final tanpa ganggu gugat.
Tangan Aisyah terkepal mendengar ucapan Malvyn. "Ini bukan masalah membela mereka. Tapi karena memang aku yang gak mampu menjadi apa yang kamu inginkan, Malvyn. Aku hanya mewujudkan keingin papiku yang ingin putri bungsu nya menjadi sarjana. Padahal otak ku nggak mampu untuk mewujudkan itu," ia menjeda ucapan nya, bangkit dengan tatapan masih tajam tanpa takut dengan Malvyn.
"Cari saja istri sesuai dengan keinginan mu," sungut Aisyah langsung meninggalkan Malvyn yang duduk termangu atas ucapannya.
BRAK
Malvyn mengacak rambut nya merasa frustasi dan menyadari kesalahan nya sehingga membuat Aisyah tersinggung.
Malvyn juga seakan lupa bila istrinya bukanlah gadis pintar seperti karakter tokoh novel lain nya. Padahal ia sendiri pernah melihat langsung nilai di raport Sekolah Menengah Atas Aisyah.
Malvyn bangkit hendak menyusul Aisyah ke kamar. Namun, sepertinya gadis itu telah mengunci diri di dalam sana.
Sial!
__ADS_1
"Sayang.. Buka pintunya," pekik Malvyn namun tidak ada jawaban di dalam sana.
Berulang kali Malvyn memanggil Aisyah tetapi tidak juga dibukakan pintu.
*
*
Di dalam kamar Aisyah memakai headset dan menghidupkan musik kesukaan nya. Ia tidak tahu mengapa hatinya begitu sakit dan dada nya terasa sesak menahan nya.
"Aku tahu gak sepintar itu, tapi kenapa dia menuduhku begitu?"
"Bahkan terakhir kali aku bermain saat makan nasi goreng di depan dan dia marah-marah. Kenapa harus menuduh Meta dan kak Gio?"
Aisyah masih merasa tidak terima atas tuduhan Malvyn sehingga tidak memberi izin pria itu masuk ke dalam kamar.
Memikirkan Gio, Aisyah memang merasakan perhatian pemuda itu berbeda terhadapnya. Hampir sama, tetapi tetap saja berbeda.
"Sepertinya jalan-jalan akhir Minggu bersama Meta dan kak Gio jauh lebih baik dari pada harus menghabiskan waktu di apartemen," ungkapnya.
__ADS_1