Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 45


__ADS_3

Aisyah pergi kuliah lebih cepat dari biasanya hanya untuk menghindari Malvyn karena masih kesal kepada suaminya itu.


Di usia nya yang belum sepenuhnya dewasa membuatnya enggan bertemu Malvyn untuk saat ini.


Kedua pengawalnya juga terkejut melihat Aisyah menghampiri mereka lebih cepat, padahal biasanya mereka lah yang menjemput Aisyah.


"Nyonya masih marah pada tuan?" tanya John lirih saat masih dalam perjalanan. Johan menyetir kali ini.


Aisyah hanya berdehem tanpa membuka mata. Semalam ia tak bisa tidur karena gelisah. Entahlah, seperti ada sesuatu yang kurang dalam tidurnya.


Melihat Aisyah yang memejamkan mata, membuat John dan Johan mengurungkan niatnya untuk memberi tahu bila Malvyn tidak tidur semalaman menunggu pintu kamar utama dibuka oleh nyonya muda nya.


Sesampainya di Kampus, Aisyah tidak langsung masuk kelas karena terlalu dini untuk memulai pelajaran. Ia menuju kantin dan mengajak kedua pengawalnya untuk sarapan bersama, walau di meja yang berbeda.


Nasi soto dan segelas teh manis hangat dipilih Aisyah karena merasa perutnya sedikit tidak enak.


John menghubungi Malvyn bila Aisyah sudah berada di kampus dan memerhatikan asupan yang dimakan nyonya muda nya.


Aisyah berdecak karena merasa tidak berselera makan. Hanya beberapa suap dan akhirnya benar-benar mengakhiri sarapan nya.


"Nyonya harus makan," kata Johan memerhatikan Aisyah sedari tadi.


Aisyah menoleh ke samping dimana kedua pengawalnya duduk di meja berbeda yang terletak di samping nya. "Aku sudah kenyang, pak."


Melihat ponsel nya yang hanya dipenuhi oleh isi pesan dari Gio membuatnya kesal. Yang diinginkan nya, Malvyn lah yang mengirim pesan mencoba membujuknya sekali lagi agar hubungan mereka membaik.


Tetapi, Malvyn tidak melakukan itu karena ia berpikir bahwa Aisyah butuh waktu sendiri karena emosi masih bersemayam pada diri istrinya itu.


Malvyn juga berniat setelah pulang kerja akan kembali mencoba membujuk Aisyah agar tidak lagi marahan.


Aisyah memilih masuk ke dalam kelas setelah cukup lama duduk di kantin. Kedua pengawal itu menghela nafas panjang.


"Aku lebih suka nyonya muda yang cerewet, Han. Dia terlihat menyedihkan," tutur John yang memang sangat menyayangi Aisyah.


"Benar. Semoga mereka segera baikan dan tuan muda mengerti nyonya muda masih terlalu muda dan labil," harap Johan yang juga menyayangi Aisyah.


*


*


Usai kuliah, Aisyah semakin murung karena bekal makan siang nya tidak ada. Ia pun mengajak kedua pengawalnya pergi ke salah satu Restoran disana.

__ADS_1


Sebenarnya ini adalah kali pertama Aisyah datang ke tempat begini. Selama ini hanya makan di kantin, pinggir jalan, dan lebih sering makan masakan Malvyn.


"Nyonya serius makan disini?" tanya John.


Aisyah mengangguk kemudian masuk dan tidak ingin diikuti kedua pengawalnya. Bukan tidak ada maksud ia datang kesini.


Ia lakukan karena berlatih makan di tempat mewah karena akhir pekan akan jalan-jalan bersama Meta dan Gio yang memang dasarnya anak orang kaya.


Ia tidak ingin kedua teman nya menjadi curiga karena hal ini. Mungkin jika kecurigaan itu ada, bisa saja mengakui bila dirinya bukanlah anak orang kaya. Tetapi bagai mana menjawab pertanyaan kenapa ada dua pengawal?


Aisyah duduk paling pojok Restoran kemudian mengambil buku menu. Mata nya terbelalak melihat daftar harga yang fantastis.


"Ya ampun. Yang benar saja?!" Aisyah menatap tak percaya. Kemudian ia mengingat berapa banyak uang tunai di dompet nya.


"Mau pesan apa?" tanya seorang pramuniaga tak ramah, seperti sudah tahu gelagat tak mampu dari seorang Aisyah.


Aisyah memilih pesan spaghetti karena harga paling murah disana dan hanya makanan itu yang ia kenal.


Aisyah juga tahu bila orang itu sebal atas pesanan nya karena memilih terlalu lama dan pesan makanan termurah.


Melihat ponselnya yang tampak nyaman tanpa notifikasi membuatnya mendesaah sebal karena berharap Malvyn segera menghubunginya. Namun nyatanya tidak ada sama sekali.


"Awas saja. Aku bakal marah beneran," kelakar Aisyah dan tak berapa lama pesanan nya datang.


Sebagai gadis kelahiran Medan tentu saja tidak memiliki stok sabar tebal seperti mami Adzilla.


"Tentu bisa bayar. Pesan paling murah," ejek pramuniaga itu menantang.


Sialan!!


"Oke! aku pesan semua menu yang ada di Restoran ini."


"Jangan berlagak sok kaya," cibir pramuniaga itu semakin membuat emosi Aisyah memuncak.


Agaknya istri dari Malvyn Carlson Abraham itu butuh pelampiasan dari kekesalan nya atas tidak ada nya kabar dari sang suami.


"Kalau aku kaya, kau mau apa? hanya pelayan rendahan, belagu! dibayar berapa sih?" skakmat. Aisyah puas melihat lawan nya terdiam tetapi tanpa di duga pramuniaga itu menarik rambut nya kebelakang hingga ia memekik kesakitan.


"Lepasin, Auuwwhh.. Dasar tante-tante!" pekik Aisyah membuat Restoran itu berakhir ricuh.


"Dasar bocah gak mampu. Aahh," pekik pramuniaga itu ketika Aisyah berhasil menarik roknya hingga hampir melorot.

__ADS_1


Penyerangan terpisah. Aisyah memperbaiki tatanan rambut sementara pramuniaga itu memperbaiki rok nya.


Aisyah menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian, karena itu ia kembali duduk dan hendak menghabiskan spaghetti yang telah dipesan nya.


"Masih mampu?" pancing pramuniaga yang memang masih kesal dengan Aisyah.


Aisyah menghela nafas panjang. "Berhentilah menggangguku dan segera buatkan pesanan ku yang lain. Aku akan membayarnya," ucap nya mencoba untuk tidak berkelahi lagi. Bagaimanapun ia merasa takut, apalagi melihat kuku-kuku pramuniga itu sangat panjang. Sementara dirinya tidak panjang sama sekali karena tidak menyukai kuku panjang.


"Dasar kampung. Disini tidak menerima tukang cuci piring dadakan," ejeknya lagi karena merasa penampilan Aisyah jauh dari kelas atas.


"Tante jangan asal ngomong. Apa menurut Tante penampilan ku seperti orang kurang mampu?"


"Pakek nanya lagi," sewot pramuniaga itu.


Keduanya terlihat seperti sudah musuhan dari lama. Padahal baru saja bertemu dan bermula Aisyah menegur sikap tidak ramah pramuniaga itu.


"Dasar tante-tante. Apa kamu gak sadar penampilan kamu juga bukan seperti orang kaya?"


Pramuniaga itu semakin tidak dapat mengendalikan diri hingga mendorong Aisyah dari kursinya.


BRAK


"HENTIKAN!!!"


"Kamu! ikut saya," titah seorang pria bermata elang.


Dan tak lama kedua pengawal Aisyah datang dengan wajah khawatir. Keduanya sedang berada di kafe seberang Restoran yang dikunjungi Aisyah. Mereka tidak tahu jika ada kegaduhan disana.


Hingga Mario menghubungi mereka bila Aisyah terluka membuat mereka ketar-ketir.


Wajah Aisyah cemberut tetapi matanya berkaca-kaca. Pihak Restoran meminta maaf kepadanya tetapi tidak ada jawaban dari bibir ranum itu.


Aisyah berjalan menuju kasir dan memberikan kartu debit berwarna hitam kepada penjaga kasir itu.


Mereka yang melihat benda yang dipegang Aisyah melotot karena sempat tidak percaya jika wanita muda di depan mereka orang kelas atas.


"Aku bayar semua yang dipesan pengunjung disini dan sekalian ganti rugi atas kerusakan kursi itu," ucap Aisyah membuat mereka gelagapan.


Setelah selesai pembayaran, Aisyah memasukkan kartu itu kembali ke dompetnya. "Sekali lagi jangan nilai orang dari penampilan nya," ia pergi setelah mengucapkan kalimat itu.


Setelah di dalam mobil, Aisyah menggulung rambutnya ke atas. "Pak. Luka nya lebar?" tanyanya karena merasa perih di bagian belakang telinga sekalian menunjukkan arah yang terasa perih.

__ADS_1


John dan Johan menoleh kebelakang melihat apa yang ditunjukkan Aisyah. "Kita ke Rumah Sakit, sekarang!!"


__ADS_2