
Rasa takut kehilangan sedari dahulu selalu tertanam dalam diri Jerolin. Tetapi, disisi lain, ia ingin melihat Aisyah tetap bahagia meski kebahagiaan itu bukan bersama dirinya.
Beberapa hari setelah Jerolin menghabiskan malam dengan mabuk-mabukan, pria itu memutuskan untuk berpisah dengan Aisyah agar wanita yang dicintainya dapat bahagia bersama Malvyn.
Dengan kekuasaannya, ia dapat membuat perceraian itu segera terlaksana. Persis hari ini, pihak pengadilan telah mengirim surat panggilan untuknya dan Aisyah agar menghadiri sidang putusan.
Jantungnya berdegup kencang manakala mobil yang membawa Aisyah telah berhenti. Ditambah wanita itu keluar dengan wajah garang. Ia yakin Aisyah akan seperti ini.
"Jerolin Marley!!!"
Pekikan Aisyah memanggil nama lengkapnya sudah menunjukkan betapa emosi ibu dari anak-anaknya itu. Ia menelan saliva melihat bagaimana Aisyah sangat menyeramkan dan justru timbul rasa khawatir dihatinya.
"Sa-,"
PLAK
"Kamu kira aku boneka, hah?!!"
__ADS_1
Jerolin hanya diam saja sebab sedari dahulu jika Aisyah sedang marah, ia hanya mampu diam. Sangat berbeda jika berhadapan dengan orang lain. Tidak ada yang berani menindas ataupun menjatuhkan harga dirinya.
"Kamu mau kita pisah, kan?" Tanya Aisyah garang lalu menarik tangan Jerolin masuk ke ruang persidangan tanpa ingin mendengar jawaban suaminya itu.
Beberapa saat lalu, Aisyah juga menerima sebuah pesan dari Nick. Asisten suaminya itu mengirimkan semua foto dan video Jerolin setelah mengetahui kalau dirinya sudah mempertemukan Dominic dengan Malvyn tanpa memberitahukan suaminya lebih dahulu.
Niat awal memang Aisyah ingin membicarakan hal itu saat Jerolin telah tiba di Mansion. Tetapi, setelah sekian hari melewati banyak waktu bersama Malvyn, Dominic, dan Lucas membuatnya semakin tidak nyaman sehingga berulang kali menghubungi Jerolin tidak dapat terhubung.
Selalu Nick memberi kabar pada Aisyah kalau Jerolin sangat sibuk dengan pekerjaannya. Padahal kenyataannya, Nick harus menutupi kebenaran yang terjadi.
"Pak Hakim. Cepat ketuk palu itu sekarang agar kami segera berpisah," kata Aisyah sambil menatap Jerolin yang masih saja diam. Sesekali ia mengusap pipi nya yang sudah basa karena air mata.
Aisyah diam tak berkomentar lagi. Ia duduk di kursi terdakwa sebab merasa sangat lelah. Lelah fisik dan psikisnya. Memijat kepalanya sendiri dan membiarkan Jerolin bersimpuh di kakinya.
"Ngapain kamu?" Tanya Aisyah ketika Jerolin menyandarkan kepala di lututnya. Ia tahu, mereka harus membicarakan masalah mereka. Namun, untuk saat ini Aisyah masih kecewa dan marah kepada Jerolin.
"Maaf, sayang." Jerolin merasa bersalah dan ia melupakan hal itu jika tidak dapat berpisah dalam keadaan hamil. Dari sudut hati terdalam, terdapat rasa syukur atas gagalnya perpisahan tersebut.
__ADS_1
Aisyah memasang wajah garang mendengar Jerolin mengucapkan kata sayang. "Ngapain panggil aku sayang, lagi? Bukannya kamu mau ninggalin aku?" Cecarnya sewot tapi tetap membiarkan Jerolin bersimpuh di kakinya.
Jerolin diam saja tak ingin protes. Bagaimana ia bisa tidak memanggil sayang kepada Aisyah? Sebab sudah menjadi kebiasaan baginya setelah menikahi Aisyah memanggil sayang meski dihadapan orang lain pun.
Jerolin menengadah menatap Aisyah dengan memasang wajah sangat menyedihkan. "Aku marah, aku cemburu, aku takut kamu pergi ninggalin aku. Aku takut kamu kembali lagi bersama Malvyn."
Aisyah memejamkan mata mendengar jawaban Jerolin sesuai dugaannya.
"Apalagi kamu gak pernah kasih tahu aku kalau kalian sudah bertemu. Pasti Dominic lebih suka bersama Dad nya dari pada bersama aku Papi nya," ungkap Jerolin jujur mengeluarkan uneg-uneg selama ini ditahan. "Aku juga cemburu kamu dekat-dekat Malvyn tanpa ada aku. Aku cemburu kamu tertawa bersama Malvyn, aku cemburu kamu menatap matanya, aku cemburu kalian menghabiskan waktu bersama."
Hening.
Aisyah menatap Jerolin sangat intens dengan rasa bersalahnya. "Maaf. Aku yang salah karena gak kasih tahu kamu lebih awal. Niatnya aku ingin menceritakan semuanya saat kamu pulang. Tapi, kamu justru gak pulang-pulang dan mau ceraikan aku "
Lagi-lagi keduanya hening dengan tatapan masih mengunci.
"Maaf."
__ADS_1
"Maaf "