Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 38


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Aisyah menunduk memerhatikan Malvyn yang tengah memeluk dan kepalanya berada di dada nya. Sedikit risih, namun sudah mulai terbiasa dengan sikap Malvyn yang berubah-ubah.


Terkadang menyeramkan, terkadang menyebalkan, terkadang tegas seperti pemimpin, terkadang penuh kasih sayang, terkadang cuek, terkadang bersikap seolah sangat mencintainya.


"Berjanjilah kamu tetap bersamaku walau banyak ujian untuk pernikahan kita," ungkap Malvyn seraya mendongak menatap Aisyah kemudian mengecup bibir istrinya sekilas.


Aisyah mengerjap mata mendapati perlakuan dan perkataan Malvyn membuat nya terhenyak untuk beberapa saat. "Kata mami, kalau sudah menikah berusahalah untuk mempertahankan pernikahan. Tapi jika sudah nggak ada lagi jalan untuk bertahan, maka kita boleh mengambil keputusan. Seperti mami dengan bapak Abang Satria dan kak Sania. Begitupun juga aku. Aku akan berusaha keras untuk mempertahan pernikahan kita. Maaf kalau aku belum bisa layani kamu seperti istri pada umumnya."


Malvyn menatap Aisyah dengan tatapan kagum. Kini, ia mengerti istri kecilnya akan bersikap dewasa di waktu yang tepat.


"Aku mencintaimu," ungkap Malvyn yang saat ini sudah mengukung Aisyah di atas tempat tidur.


Aisyah mengalihkan pandangan agar tidak berkontak mata kepada Malvyn karena hal itu dapat membuat hatinya semakin ketar-ketir.


Malvyn meraih dagu Aisyah kemudian melabuhkan sebuah kecupan singkat di bibir. "Tatap mataku, Ais. Kenapa kamu gak berani menatap mataku?"


Aisyah memberanikan diri menatap mata Malvyn. Bola mata indah itu berkedip beberapa kali untuk memastikan jika kepingan-kepingan peristiwa masa lalu teringat di benaknya.


"Dada ku sesak karena detak jantung ku terus saja berdetak kencang," celetuk Aisyah membuat Malvyn tergelak atas kepolosan nya.


"Ish.. Kenapa ketawa? aku beneran merasa gak sehat, suamiku. Apa aku punya penyakit jantung?" timpal Aisyah lagi karena sebegitu cemasnya karena merasa hal yang sama seperti Malvyn.


Untuk pertama kalinya Malvyn tertawa lepas setelah sekian lama tidak merasakan itu. Kekaguman atas kedewasaan Aisyah menguap entah kemana karena pada dasarnya, istri nya itu masih muda, masih bocah!

__ADS_1


"Apa kamu merasakan itu saat berada di dekatku saja?" tanya Malvyn setelah baring di samping Aisyah.


Niat hati ingin berbicara serius dan mencoba menaklukkan Aisyah agar melakukan malam pertama, gagal total.


Aisyah memiringkan badan ke arah Malvyn disertai deheman. "Iya. Aku takut sakit, suamiku."


Malvyn menatap Aisyah secara intens. Jemarinya terulur mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Aku juga merasakan yang sama, Ais. Itu karena aku mencintaimu."


Aisyah mengerutkan dahi. "Itu berarti aku juga mencintaimu, begitu?"


Malvyn terkekeh lagi. "Entahlah, Ais. Aku berharap begitu," katanya kemudian mengecup bibir Aisyah lagi.


Aisyah tidak lagi berkomentar dengan apa yang dikatakan Malvyn. Akhir-akhir ini juga ia telah banyak membaca artikel tentang ciri-ciri seseorang jatuh cinta dan ia merasakan nya. Tapi ada satu hal yang mengganjal dihatinya yaitu pernikahan yang disembunyikan.


"Aku takut mencintaimu, suamiku!" Aisyah menggigit bibir bawahnya setelah mengucapkan itu.


"Aku takut karena pernikahan kita ini adalah rahasia. Aku takut kamu di luar sana sudah punya istri dan anak atau pacar. Aku takut sakiti hati mereka, suamiku. Aku takut," ungkap Aisyah benar adanya.


Sejak awal Malvyn menjelaskan bila pernikahan mereka harus dirahasiakan, Aisyah terus memikirkan alasan apa dan jawaban itulah yang paling kuat atas dugaan nya.


Malvyn tersenyum dan sekali lagi mengecup bibir Aisyah. Ah, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali sehingga membuat sang empu bibir cemberut.


"Aku sendiri, Ais. Aku pria lajang dan ada sesuatu yang harus aku selesaikan sampai nanti kamu akan aku aku tunjukkan pada dunia jika kamu adalah istriku," Malvyn terdiam sejenak hingga menggeleng kemudian.

__ADS_1


Sejujurnya Aisyah merasa bahagia mendengar pengakuan Malvyn hingga akhirnya merasa kesal karena kelakuan pria itu yang sering sekali mengecup bibirnya saat sedang berbicara.


"Aku berubah pikiran, Ais. Aku gak mau tunjukin kamu pada dunia."


Aisyah mengerutkan dahi dan merasa tersentil. "Kenapa? apa aku akan tetap jadi istri rahasiamu?"


Malvyn mengeratkan pelukan nya dan seperti biasa akan pasrah menjadi bantal guling pria itu. "Aku gak rela mereka mengenal, melihat kecantikanmj, menatap mata indahmu, dan suara merdu mu yang selalu membuat ku rindu. Aku gak rela," Malvyn berkata jujur.


Aisyah berdecak. "Dasar posesif!!"


Cukup lama dengan posisi seperti itu hingga Aisyah menyadari jika Malvyn sudah memejamkan mata.


Aisyah memikirkan ucapan mami Adzilla untuk memberi anak untuk Malvyn. Tanpa sadar, ia mengelus perut ratanya membayangkan perut nya mulai membesar, Malvyn akan menemaninya sepanjang waktu yang diinginkan nya.


Kemudian Aisyah menoleh menatap Malvyn sangat lama hingga dirinya juga ikut memejamkan mata.


*


*


Mulai pagi ini, Malvyn tidak lagi meyembunyian bakat dan kebiasaan nya untuk memasakkan Aisyah.


Seperti saat ini ia tengah memasak didepan Aisyah yang tengah duduk di mini bar memerhatikan nya.

__ADS_1


Aisyah tersenyum menatap bunggung Malvyn. "Suamiku," panggilnya kemudian Malvyn menoleh kebelakang memberi senyuman untuknya lalu melanjutkan mengupas bawang.


"Aku ingin punya anak."


__ADS_2