
Hari-hari dilewati Aisyah lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Wanita muda itu akan keluar kamar jika akan makan dan mandi saja.
Satria, Sania, dan kedua pengawal itu turut sedih atas apa yang terjadi. Satria dan Sania memang marah kepada Jesica. Namun, kedua orang itu tidak dapat berbuat apapun selain mencoba ikhlas karena sudah takdir. Ingin marah-marah juga percuma, papi Askar dan mami Adzilla telah meninggal dunia,btak akan bisa kembali lagi.
Aisyah bangkit lalu berlari keluar kamar menuju kamar mandi yang berada di dapur. Ia muntah di dalam sana hingga seluruh isi perutnya keluar kembali.
"Kamu kenapa?" tanya Sania khawatir menghampiri Aisyah dan membantu memapah duduk di kursi yang ada disana.
Aisyah menggeleng. Tubuhnya terasa sangat lemah membuat Sania khawatir.
Sania memanggil John dan Johan untuk memanggilkan Dokter yang ada di Puskesmas terdekat. John yang pergi mengendarai sepeda motor bersama Satria. Sementara Johan menggendong Aisyah masuk ke dalam kamar dan Sania mengikuti dibelakang nya.
Beberapa saat kemudian John dan Johan telah kembali dan seorang Dokter naik mobil mengikuti. Awalnya Dokter tersebut tidak ingin datang ke rumah ini. Tetapi dengan sigap John membuat Dokter tersebut setuju ikut walau harus mengocek saldo rekening cukup banyak.
"Tolong periksa adik saya, Dok." Kata Satria cemas dan diangguki oleh Dokter tersebut.
Dokter itu memeriksa Aisyah yang masih terkulai lemas. "Kapan terakhir datang bulan?" tanya beliau sopan.
"Satu Minggu setelah saya keguguran, Dok. Itu sekitar lewat sebulan lalu," terang Aisyah polos.
Namun, apa yang diucapkan Aisyah membuat semua orang di dalam kamar itu tersenyum dan berharap akan menjadi kabar baik yang bisa mengobati luka hati Aisyah.
"Sepertinya anda hamil. Lebih detailnya segera periksa ke Dokter kandungan, besok."
Aisyah hanya diam. Air matanya menetes haru disertai tangan nya meraba perut yang masih rata. "Aku ha-hamil?"
*
Sudah beberapa hari terlewati, Malvyn terus mencoba mencari keberadaan Jesica yang belum juga ditemukan begitu juga Jerolin.
Setiap malam, Malvyn akan mengamuk jika tidak dapat menemukan keberadaan dua orang itu. Ia yakin, Jerolin juga ikut andil atas kejadian yang menimpa Aisyah. Mengingat pria itu selalu menuruti permintaan Jesica.
Dendam nya semakin membara, selama ini ia tampak diam tidak berbuat apapun karena setiap perbuatan Jesica tampak rapi hingga semua yang melihat itu seperti kecelakaan pada umumnya.
*
*
"Kenapa kamu kejam sekali, Jes? mereka enggak bersalah sama sekali," sentak Jerolin disebuah kamar.
Jerolin yang baru saja kembali dari Italia terkejut mendapat kabar dari anak buah nya yang bertugas memantau Jesica dan Aisyah mengabarkan jika Jesica telah melenyapkan orang tua Aisyah.
__ADS_1
Marah, kecewa, dan sedih bercampur aduk dirasakan pria dewasa itu. Ia bahkan tak menyangka jika adik semata wayang nya berbuat kejam seperti ini.
"Aku sudah katakan pada anak kecil itu kalau aku akan melenyapkan orang-orang yang disayanginya jika masih bersama Malvyn. Malvyn hanya milikku, kak. Hanya milikku," Jesica histeris seperti orang kehilangan akal lalu tertawa tidak jelas seperti itu.
"Aku sudah sejauh ini. Tapi kenapa pengorbanan ku gak ada nilainya. Kenapa justru anak kecil itu yang dinikahi Malvyn? bahkan aku rela membunuh adik ku sendiri demi dia," tanpa sadar Jesica mengungkapkan rahasia yang selama ini disimpan rapi olehnya.
Jerolin mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Jesica langsung berdiri dengan rahang yang sudah mengeras. Tatapan nya tajam bagai elang dengan tangan yang terkepal erat. "Apa yang baru saja kamu katakan itu benar? katakan sekali lagi jika kamu yang membunuh adikku dan merekayasa menjadi bunuh diri karena cinta nya di tolak oleh Malvyn?" cecarnya penuh emosi terus mendekati Jesica dengan tatapan yang tajam bak menghunus jantung wanita itu.
"Kau membunuh adikku? apa kau lupa kalau kau hanya anak pungut orang tua ku, hah?!!" sentak Jerolin marah.
Benar.
Mendiang ayah Jerolin adalah seorang mafia. Sementara Jesica adalah anak seorang pengkhianat. Ketika ayah Jerolin hendak menghabisi Jesica juga, ibu Jerolin yang memiliki sifat lemah lembut melarang karena merasa iba dan mengangkat menjadi anak mereka.
Jerolin yang masih berusia 5 tahun belum mengerti apa yang terjadi, menerima kehadiran Jesica. Di bulan berikutnya, Ibu Jerolin dinyatakan hamil dan melahirkan bayi cantik diberi nama Jelena.
"Benar! aku anak pungut yang gak dianggap oleh kalian semenjak kelahiran Jelena. Aku selalu mengalah dan memberikan apapun yang diinginkan Jelena. Bahkan dia tahu aku lebih dulu menyukai Malvyn justru menyuruhku mengalah. Dan lihat? aku berhasil menyingkirkan nya bukan?" Jesica meluapkan apa yang dirasakan nya selama ini. Tangisan bercampur tawa yang memperlihatkan ke ngerihan bagi siapapun yang ada di sana.
"Dasar manusia tidak tahu di untung!!!"
PLAK
Jerolin benar-benar marah dan jijik melihat Jesica. Ia yang lebih sering menghabiskan waktu bersama sang ayah membuatnya tidak tahu apa yang terjadi kepada Jesica dan Jelena.
Jerolin tidak perduli. Pria itu keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Jesica sendiri.
*
*
Dua hari kemudian, Jesica tampak tersenyum melihat sesuatu di tangan nya. Ia pun segera pergi menuju ke suatu tempat yang akan membuatnya dapat hidup bersama pujaan hatinya.
"Kita akan bersama lagi, sayang."
*
*
Malvyn tampak frustasi karena lebih dari seminggu Aisyah tidak ingin bicara dengan nya. Ia hanya dapat mengetahui kabar dari kedua pengawal istrinya.
Setelah pulang kerja, entah mengapa Malvyn ingin mengunjungi apartemen nya saat awal pernikahan mereka dahulu. Ia pun pergi sendiri tanpa Mario.
__ADS_1
Setelah berada di Apartemen, Malvyn menekan saklar dan tempat itu otomatis menjadi terang. Bayangan dimana dirinya dan Aisyah sering menghabiskan waktu bersama di ruang tamu terlihat jelas.
Dimana dirinya sering sekali menggoda Aisyah untuk bercinta ketika belajar di meja sofa juga terlihat disana.
Dimana Aisyah yang akan membuat ulah di dapur hingga menjadi berantakan dan ia hanya dapat menahan amarah juga terlihat disana.
Malvyn melangkah mengikuti bayangan Aisyah yang tengah berlari menaiki anak tangga hingga masuk ke dalam kamar. Bayangan Aisyah tampak tertawa dan terseronok ke atas tempat tidur dengan bayangan dirinya mengukung dan menggelitik pinggang istrinya itu.
Senyuman nya terbit melihat bayangan mereka yang tampak bahagia. Tetapi, sedetik kemudian senyuman itu surut setelah mengingat apa yang telah terjadi diantara mereka. Ingatan nya saat Aisyah histeris bahkan jatuh pingsan lagi ketika meminta dirinya pergi.
Sakit.
Hati Malvyn sakit.
Malvyn membuka lemari Aisyah. Disana banyak pakaian berbagai model. Ia membuka laci lemari yang ada disana. Diambilnya botol parfum lalu dihirupnya.
Hah!!
Wangi tubuh Aisyah yang sangat di rindukan nya. Kemudian ia melihat kota berukuran tidak terlalu kecil berwarna biru.
Dahinya berkerut melihat kotak biru itu lalu dibacanya. "Obat pencegah kehamilan?" tanyanya kemudian matanya melebar setelah menyadari benda itu milik Aisyah. Dibuka dan dilihat isi kotak itu. Sebuah obat bentuk bulat kecil berderet pada tempatnya yang tersisa separuh.
"Kamu gak mau punya anak dariku, Ais?"
❤️
Hayo ...
Udah makin jelas kan?
Oh iya.. sambil nunggu Malvyn dan Aisyah up lagi.. mampir dulu ke novel teman emak ya..
"Bantu aku menghilangkan phobia sialan ini! Maka aku akan memberimu bayaran mahal!"
Beyza Ishik tidak pernah menyangka, saat majikannya Elder Gulbar memohon bantuan untuk menghilangkan Phobia anehnya.
Semua berawal ketika Elder pulang ke kediamannya dengan kondisi mabuk. Lalu tidak sengaja mencium Beyza, maid muda yang baru saja bekerja seminggu lalu.
Elder yang selama hidupnya tidak bisa berciuman karena Phobia, merasa ada kesempatan untuk menghilangkan Phobia anehnya. Terlebih lagi, orang tuanya menuntut dia untuk segera menikah.
Namun, masalah timbul ketika Beyza tidak bisa mengontrol perasaannya pada Elder, majikan yang sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
Akankah cinta seorang Maid bisa terbalas?