Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 49


__ADS_3

Lelah menangis sepanjang malam tidak membuat seorang Aisyah terlelap. Justru saat ini ia tengah berjalan mondar mandir lantaran merasa sangat lapar.


Aisyah terus berjalan mondar-mandir di belakang pintu dengan meremas jemari-jemarinya. Ia mendekati daun pintu dan menempelkan ke benda tersebut agar dapat mendengar suara atau pergerakan dari luar kamar.


Tapi, agaknya rasa lapar itu tak dapat di bendung lagi sehingga terpaksa keluar dari kamar.


Aisyah membuka pintu secara perlahan, bahkan langkah kaki nya bak pencuri di apartemen itu.


Ia tidak dapat melihat Malvyn di sana karena lampu sudah di padamkan. Mungkin sudah masuk ke dalam kamar mereka, pikirnya.


Sesampainya di dapur, Aisyah membuka lemari pendingin dan melihat bahan membuat spaghetti bolognese ayam tersedia disana.


Ia pun mengambil semua bahan tersebut dan membuatnya step demi step. Tubuhnya mematung saat sedang memotong rebusan ayam karena ada sepasang tangan melingkar diperutnya.


Matanya terpejam ketika merasakan seseorang itu yang tak lain adalah Malvyn menyandarkan kepala di punggung nya.


"Maafkan aku. Tolong jangan begini. Kita bicarakan baik-baik, ya!" pinta Malvyn kepada Aisyah.


"Menyingkirlah! Apa kamu tak melihat aku sedang masak?" usir Aisyah terdengar ketus. Bukan hanya karena masih marah pada Malvyn. Tetapi karena lapar yang dirasakan nya sudah tak tertahan lagi.


Malvyn enggan melepaskan karena takut bila Aisyah akan mengurung diri lagi.


"Lepaskan, Vyn. Aku sangat lapar," seketika suara ketus itu berubah menjadi rengekan dan Aisyah merutuki dirinya sendiri.


Malvyn tersenyum mendengar rengekan Aisyah, yang berarti sudah tidak semarah tadi.


"Biar aku buatin, ya?" tawar Malvyn tetapi Aisyah berdecak.


"Telat!" Aisyah menaruh mie dan saus spaghetti yang sudah dicampur ayam ke atas piring kemudian duduk di sana disertai Malvyn yang mengikuti bak anak ayam.


Aisyah mencoba tidak perduli dengan Malvyn walau sebenarnya merasa iba karena suaminya itu tampak kacau.


"Aku gak disuapi, juga?" tanya Malvyn karena merasa lapar setelah melihat spaghetti buatan sang istri.


Aisyah mencebik sembari melirik Malvyn dengan tatapan sebal. Tetapi, tangan nya terayun mengambilkan sesuap spaghetti untuk Malvyn.


Dengan senang hati Malvyn menerima suapan yang diberikan Aisyah walau terpaksa. Tetapi cukup membuat hatinya tenang atas kepedulian istri kecilnya ini.

__ADS_1


*


*


"Kita harus bicara, Ais!" kata Malvyn setelah usai makan.


"Nggak perlu. Semua sudah jelas, kan?" tanya Aisyah karena masih sangat sakit membahas kejadian siang itu.


Malvyn menggeleng dan meraih kedua telapak tangan Aisyah kemudian mengecup punggung tangan itu secara bergantian. "Kita harus selesaikan masalah kita sekarang. Nggak baik masalah terus diabaikan dan pada akhirnya akan menumpuk bisa menjadi boomerang."


Hati Aisyah menghangat mendapati perlakuan Malvyn yang masih lembut kepadanya. "Baiklah. Katakan, siapa Jesica? apa dia pacar kamu? kenapa kamu gak kasih tahu kalau kamu sudah punya pasangan? kalian sudah lama berhubungan, kan? lalu, kenapa aku yang kamu nikahi?" cecar Aisyah mengeluarkan segala uneg-uneg yang bersarang dihatinya sejak siang tadi.


Malvyn menggeleng cepat. Ia tetap menggenggam kedua tangan Aisyah saat istri kecilnya itu hendak melepas genggaman tersebut.


"Semua bermula saat pertemuan kita 8 tahun lalu, Ais. Waktu,-" ucapan Malvyn terpotong saat Aisyah menyela ucapan nya.


"Ada apa dengan 8 tahun lalu? kenapa kamu sangkut pautkan dengan kejadian 8 tahun lalu yang sama sekali aku gak ingat, Malvyn? kenapa seolah-olah aku lah sumber permasalahan ini?" cecarnya lagi kemudian meringis saat kepalanya kembali terasa sakit ingin mengingat kejadian 8 tahun lalu. Tetapi, selalu seperti ini.


"Argh. Sa-sakit!" cicit Aisyah membuat Malvyn khawatir dan panik apalagi kini sudah tak sadarkan diri.


Tanpa menunggu lama, Malvyn segera membopong tubuh Aisyah ke kamar, setelah itu menelepon Adrian, sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter.


*


*


Saat mendengar suara bel pintu langsung dibuka Malvyn. "Kau sangat lamban, Adrian!" sentaknya, sudah pasti Adrian terlonjak kaget seraya mengelus dada.


"Macet, Vyn. Ya elah," cebik Adrian selalu begini jika berhadapan dengan Malvyn.


"Berhentilah menjawab ucapanku, Adrian. Sekarang cepat periksa istriku," tekan Malvyn mulai geram.


Melihat Malvyn yang sudah tampak emosi, Adrian mengikuti sahabatnya itu masuk ke dalam kamar utama.


"Gak usah bagian dada," sentak Malvyn geram saat stetoskop Adrian merayap ke bagian dada.


Adrian mencebik. "Aku mau ngecek detak jantungnya, bule.. Astaga??!! kau saja yang mengeceknya," ia mulai geram kepada Malvyn dan menyerahkan stetoskop kepada Malvyn.

__ADS_1


Malvyn menerima dan memakai alat medis itu. "Disini, kan?" tanyanya seraya meletakkan bagian diaphragm ke dada Aisyah.


"Ya. Gimana bunyi jantungnya?" tanya Adrian yang tak percaya dengan tingkah Malvyn kali ini.


"Suaranya dag-dig-dug," jawab Malvyn membuat Adrian meradang.


Adrian segera merebut kembali stetoskop itu kemudian menggeser tubuh Malvyn agar dirinya yang memeriksa Aisyah.


"Dia hanya syok. Tenang saja. Jangan dipaksa untuk mengingat. Aku rasa, kau harus benar-benar melindungi istrimu dari Jesica."


Malvyn hanya mengangguk seraya menatap Aisyah yang tampak masih memejamkan matanya.


Malvyn sudah menceritakan alasan mengapa menyembunyikan pernikahan nya. Awalnya Adrian menyangka karena Aisyah masih terlalu muda untuk dinikahi oleh pria seusia mereka.


"Andai dulu kau tak ikut dunia gelap itu, pasti Aisyah sudah meninggoy!" tutur Adrian langsung mendapat toyoran dari Malvyn.


"Pergi sana!!" usir Malvyn langsung membuat Adrian melengos tetapi menurut karena merasa di usir.


*


*


Aisyah bangun dan berusaha duduk walau kepalanya terasa berat sekali. Ia mengedar pandangan mencari sang suami.


"Selamat pagi," sapa Malvyn yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Malvyn mendekat dan melabuhkan kecupan di bibir Aisyah. "Aku baru bangun, suamiku."


Malvyn tersenyum dan duduk di tepi tempat tidur. Ia mengelus pipi Aisyah dengan lembut. "Gimana keadaanmu? maafin aku ya. Jesica bukan kekasihku. Kami hanya dekat dan aku pasti segera selesaikan masalahku dengan nya. Tolong tetaplah disisiku, Ais."


Aisyah menatap mata Malvyn dan mencari kebohongan dari tatapan itu. Tetapi, agaknya tak menemukan apa yang dicarinya.


Sesuai dengan apa yang pernah dikatakan nya bila ia akan tetap bertahan jika memang masih memiliki pilihan untuk mempertahankan pernikahan mereka.


Tidak tahu apakah sudah waktunya atau karena keadaan, Aisyah mulai mengerti apa itu arti cinta dan sekarang harus belajar untuk memperjuangkan milik kita.


"Aku sudah pernah bilang kalau aku akan terus mencoba mempertahankan pernikahan kita. Maaf sudah berkata kasar semalam."

__ADS_1


Malvyn mengangguk lalu memeluk Aisyah dengan erat.


"Vyn... Menyingkir dan cepatlah pakai baju," pekik Aisyah tetapi seperti biasa, Malvyn akan mencari cara agar dapat menikmati indahnya surga dunia bersama istri tercintanya.


__ADS_2