Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 60


__ADS_3

"Malvyn!!"


"Apa uang mu gak cukup untuk membayar sebuah brankar untukmu sendiri?!" sungut Aisyah karena mulai gerah dan risih karena Malvyn selalu menempel padanya.


"Setelah keluar dari sini, aku gak akan punya uang lagi sayang. Karena semua aset ku pasti akan berubah menjadi milikmu," tutur Malvyn jujur. Ia juga sangat yakin bila keluarganya telah melakukan peralihan nama pemilik semua asetnya. Apalagi mereka tahu bagaimana dirinya sebelum menikahi Aisyah. Maka bersiaplah menjadi suami yang miskin setelah ini.


Aisyah hanya melirik sinis ke arah Malvyn.


"Oma dan mami pasti ngelakuin itu, sayang. Pasti mereka gak akan biarkan aku buat seenak ku saja," Malvyn mencoba meyakinkan Aisyah agar memaafkan nya.


Aisyah mencebik mendengarnya. "Buat apa banyak duit tapi punya suami tukang sekingkuh," sindirnya membuat Malvyn meraih dagu Aisyah agar menatap kearah pria itu.


Dilabuhkan kecupan di bibir membuat Aisyah mendelik karena tak menyangka bila akan dicium.


"Semua berawal dari kejadian 8 tahun lalu aku menyelamatkan kamu, Ais. Demi kamu aku rela menjadi partner ranjang Jesica. Seiring waktu aku mulai terbiasa dengan dunia bebasku dan melupakanmu. Tapi takdir mempertemukan kita lagi dengan cara yang unik. Kamu melempar kaca mobil ku," terang Malvyn tak sepenuhnya menceritakan apa yang terjadi karena takut bila Aisyah mencoba mengingatnya lagi dan berakibat pada kesehatan istrinya.


Aisyah diam sejenak mendengarkan dan mencoba untuk mengingatnya. Matanya terpejam sejenak saat merasakan sakit dibagian kepala.


"Jangan berusaha mengingatnya, sayang. Aku takut itu menyiksa mu."


"Jadi, kenapa kalian malam itu bercumbu? apa ucapan kamu malam itu akan menyelesaikan hubungan kalian bohong?" Aisyah butuh penjelasan atas kejadian malam itu.


Malvyn menatap Aisyah dengan intens. Posisi mereka saling berhadapan dengan tidur memiring. Ia benar-benar memanfaatkan waktu untuk memberi penjelasan kepada sang istri agar ketika keluarganya tiba, mereka sudah berbaikan.


Malvyn juga tahu jika menjelaskan kepada Aisyah harus ekstra pelan-pelan agar dapat dimengerti karena usia mereka yang terpaut jauh.


"Aku sudah memutuskan hubungan dengan Jesica. Tapi, dia juga ikut hadir dan saat di kamar mandi itu mengikutiku sampai kesana. Aku gak tahu dan tiba-tiba dia menciumku, sayang. Seharusnya kamu juga tahu kalau aku lebih dulu mencium Jesica, pasti posisi dia yang bersandar di dinding kayak aku mencium kamu," terang nya tetapi Aisyah yang mendengar itu langsung mencebik bibir mendengar itu lalu mengubah posisi terlentang.


"Kamu tahu, malam itu kak Gio nyatain cinta dan dia sangat perhatian merawat ku selama aku pergi!" ungkap Aisyah yang memang tidak lihai dalam berhubungan dengan kebohongan.


"Semua pria pasti akan jatuh cinta jika mengenalmu, Ais." Malvyn memeluk Aisyah untuk meredam emosi yang tibaysaja menyelimuti hatinya. "Jangan pernah sebut nama pria lain dihadapan ku atau pria itu akan kehilangan nyawanya," ancam Malvyn benar adanya.

__ADS_1


Selama ini baginya pria itu tidak akan menjadi masalah dalam hubungan nya dengan Aisyah karena kedua pengawal itu selalu melaporkan yang baik-baik saja.


"Jangan menjadi pembunuh, Vyn. Aku gak mau hidup bersama penjahat," kata Aisyah benar adanya.


Malvyn tak menjawab apapun melainkan memejamkan mata menikmati kerinduan yang terus membuncah. Menghirup aroma rambut Aisyah yang selalu dapat menenangkannya.


"Ayo kita mulai dari awal Aisyah. Sekarang keluarga ku sudah mengetahui pernikahan kita. Ayo kita pulang ke mansion karena kamu adalah menantu keluarga Abraham," kata Malvyn membuat Aisyah mendongak, menatapnya.


Cukup lama mereka saling menatap hingga Malvyn tak tahan lagi untuk mencium bibir Aisyah lebih dalam.


"Aku takut sakit hati lagi, Vyn. Dada ku sesak setiap bayangan kalian ciuman, aku jadi gak selera makan karena memikirkan itu. Rasanya aku ingin pulang ke Medan saja," ungkap Aisyah jujur karena masih awam tentang pernikahan.


Malvyn menggeleng lemah. "Jangan tinggalkan aku lagi, Ais. Apa kamu belum sadar kalau kita sama-sama lemah saat berjauhan? lihatlah keadaan kita. Kita harus kuat dan tetap bersama untuk menghadapi ujian cinta kita. Setiap pernikahan pasti ada duka, bukan cuma suka kan?"


Aisyah mengangguk lemah tanpa menjawab lagi.


"Kita sembuh sama-sama ya. Kita harus sehat dan segera pulang. Aku sudah rindu," Malvyn tersenyum penuh arti membuat Aisyah menyadari ucapan nya.


"Mesum."


*


*


Malvyn sangat senang melihat Aisyah yang sudah menerima dirinya kembali. Apalagi saat ini ia sedang menyuapi istri nya itu makan siang. Tidak ada rasa ilfil ataupun jijik saat sendok yang digunakan untuk menyuapi Aisyah dipakai buat dirinya juga.


"Aku yang minta mereka agar datang kesini setelah makan siang saja, sayang. Aku ingin menyelesaikan masalah dengan mublebih dulu. Aku gak mau saat keluarga kita datang, masalah kita belum selesai."


Aisyah mendengar itu menghentikan kunyahan nya. "Maafkan aku," ungkapnya tidak pernah berpikir ke arah sana sedikitpun.


Malvyn meletakkan piring mereka ke atas meja makan khusus pasien lalu memberikan segelas air minum kepada Aisyah.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Mulai saat ini kita saling terbuka, ya. Kalau ada masalah katakan dan segera kita selesaikan, ya. Jangan lagi pergi-pergi lagi," ungkap Malvyn sebagai taktik agar Aisyah bergantung padanya.


Aisyah memberikan gelas yang diminumnya bersisa separuh lalu diminum oleh Malvyn. "Iya. Maaf kalau aku masih kekanak-kanakan," ungkapnya dan diangguki oleh Malvyn.


*


*


"Malvyn. Cepat pindah dari sana. Kamu itu buat sempit," usir papi Edzard karena merasa risih melihat anak nya berada satu brankar dengan Aisyah.


Dengan tingkah tak tahu malunya, Malvyn tetap rebahan seraya memeluk perut Aisyah yang sedang duduk bercerita dengan Oma Nadira dan mami Ivy.


Begitu juga Aisyah merasa sangat malu atas tingkah Malvyn yang diluar nalar. Rasanya sangat berbeda dari biasanya.


"Sabar ya. Malvyn memang begitu kalau sedang sakit. Makanya mami sangat khawatir saat tahu dia sakit," tutur mami Ivy dan diangguki Aisyah.


Ingin rasanya Aisyah mengatakan jika Malvyn sangat memanjakan nya.


"Setelah kalian diperbolehkan pulang, kalian harus kembali ke mansion.l!" titah opa Qenan tak terbantahkan.


*


*


"Aaarrrghhh... Kurang ajar. Berani sekali mereka denganku," teriak Jesica mengacak rambutnya.


Kamar yang sudah tak nampak bentuk dan kerapian nya karena banyak barang yang sudah di hancurkan Jesica.


Rasanya ingin sekali ia melenyapkan keluarga Malvyn karena terus menghalanginya untuk bertemu dengan pria pujaan hatinya.


Selama bersama dengan Malvyn dan dekat dengan mami Ivy, mereka tidak pernah mengundangnya masuk ke dalam Mansion. Karena hal itu pula sulit baginya untuk mengambil kesempatan yang ada bila posisinya sudah seperti ini.

__ADS_1


"Siapa wanita yang merebut posisi ku?" tanyanya seraya mengepalkan tangan nya erat. Jesica bangkit lalu menuangkan minuman beralkohol itu kemudian di minum hingga tandas.


Matanya menatap lurus dengan sorot yang tajam. "Aku bersumpah. Kalau aku nggak bisa mendapat posisi sebagai istrimu, Malvyn, maka gak akan ku biarkan seorangpun bisa menjadi istrimu," gumamnya penuh emosi bersamaan dengan itu gelas yang digenggam nya juga pecah menimbulkan luka di telapak tangan.


__ADS_2