
Jesica tersenyum melihat Malvyn mau mengantar nya pulang. Pulang ke Apartemen miliknya.
"Kita harus bicara, Jes. Aku sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri pertunangan kita," ucap Malvyn membuat Jesica terperanjat.
"Vyn," ucap Jesica lirih.
Malvyn menggeleng. Ia tak mungkin melanjutkan pertunangan itu sementara tak ada lagi anak diantara mereka. "Sesuai perjanjian kita di awal, bukan? kita bertunangan karena anak itu. Sekarang sudah tidak ada anak diantara kita maka pertunangan kita kandas."
"Enggak, Vyn. Aku gak mau kita pisah. Aku bisa kasih anak lagi pada mu, Vyn. Jangan tinggalin aku," Jesica mulai histeris tidak terima atas keputusan yang diberikan Malvyn.
"Apa kamu lupa dengan perjanjian kita? kalau kamu gak terima dengan keputusanku, maka kamu harus membayar denda dan membuat Ais kembali padaku." Malvyn menatap Jesica dengan tatapan tajam.
Memang benar, sebelum melaksanakan pertunangan beberapa waktu lalu, Malvyn membuat perjanjian di atas kertas. Pertunangan itu dilaksanakan hanya karena anak dalam kandungan Jesica. Apabila anak itu tiada sebelum dilahirkan maka pertunangan harus diakhiri. Jika Jesica menolak keputusan tersebut maka harus membayar senilai 5M dan mengembalikan Aisyah kepada Malvyn.
Sebab perjanjian itu pula Jesica rela menghabiskan waktu di Apartemen. Beberapa hari sebelum kejadian itu memang keluar Apartemen hanya karena menginginkan makanan Jepang.
"Ka-kamu tega, Vyn." Jesica menangis diperlakukan seperti ini oleh Malvyn.
Malvyn hanya diam saja, meraih ponsel di saku jas hendak menghubungi Mario. "Hem. Segera bawa saja kesini."
Tidak ada lagi obrolan diantara mereka. Malvyn membiarkan Jesica menangis sedari tadi tanpa membujuk. Sudah cukup bertindak bodoh. Ia sadar telah menyia-nyiakan permata demi batu padas bekas seperti Jesica.
Jangan tanya betapa menyesal dirinya telah melakukan kebodohan ini. Ingin sekali dirinya merebut cinta Aisyah. Tetapi, sekuat tenaga dirinya tak lagi mencari keberadaan pujaan hati nya itu.
Malvyn bangkit ketika mendengar suara bel berbunyi. Di buka nya lalu mempersilahkan tamu yang di undang nya.
"Apa maksud kamu, Malvyn!!" Sentak Jesica ketika melihat Mario dan tiga orang polisi masuk ke dalam Apartemen nya. Dirinya mulai cemas akan sesuatu terjadi karena kedatangan mereka.
"Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu, Jes. Sudah banyak korban atas cinta buta mu untuk ku. Kamu lupa kalau cinta gak bisa dipaksakan," terang Malvyn lalu mempersilahkan para polisi itu menangkap Jesica.
Jesica berontak, tak terima, marah, dan terus berusaha terlepas dari para polisi itu. "Aku melakukan itu semua karena cinta ku begitu besar padamu. Kenapa kamu gak ngerti perasaan ku, Vyn. Kamu tega," sentak Jesica tetapi tak di hiraukan oleh Malvyn.
__ADS_1
Malvyn memberi isyarat agar Jesica segera di bawa pergi. Helaan nafas terdengar lirih setelah apartemen itu menjadi senyap. Sesenyap hati nya yang lara.
"Sudah waktunya kamu memperbaiki diri, Vyn. Jadilah Malvyn yang tak kenal menyerah. Biarkan takdir yang membawa mu pada nya."
Malvyn menghela nafas lagi. Benar yang di katakan Mario barusan. Ia harus memperbaikinya diri. Bukan karena berharap pada Aisyah kembali. Melainkan takdir yang tidak tahu kemana akan berlabuh.
Malvyn bangkit dan meninggalkan tempat itu diikuti Mario. Ia kembali ke Mansion sesuai permintaan keluarga nya. Ia sangat beruntung masih memiliki keluarga yang menampung dirinya meski telah membuat kebahagiaan orang lain hancur seketika.
Maafkan aku, Ais.
***
"Sekarang kamu mau kemana?" tanya Jerolin pada Aisyah yang baru saja keluar dari Kampus.
Senyuman Aisyah merekah, ia tak lagi dapat berjalan cepat karena perut semakin membesar. "Kenapa om jemput aku, sih? Aku ngerepotin kamu terus," kata nya tanpa menjawab pertanyaan Jerolin.
Jerolin membukakan pintu mobil mempersilahkan Aisyah untuk masuk. Di tutup nya lalu memutar mobil dan masuk ke dalam bagian kemudi. "Lupa hari ini jadwal periksa kandungan kamu?"
Tapi, sepertinya pria itu masih belum berani untuk menyatakan cinta kepada sang pujaan hati.
Aisyah menepuk jidat sendiri karena lupa jadwal periksa kandungan. "Aku lupa, om. Untung saja kamu ingatkan." Ia mengelus perut nya yang sudah buncit. "Aku gak sabar ingin bertemu anak ku," terangnya.
Jerolin hanya tersenyum lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tidak langsung ke Rumah Sakit, mobil itu belok ke kiri tepat di depan Kafe dimana Aisyah bekerja dahulu.
"Kenapa kita kesini?" tanya Aisyah kepada Jerolin.
"Kita makan lebih dulu. Searah juga kan?"
Aisyah mengangguk saja kemudian keluar mobil setelah pintu dibuka Jerolin. Senyum nya merekah ketika melihat Grace. Saat hendak melangkah cepat, tangan nya dicekal oleh Jerolin.
"Hati-hati. Boleh senang ketemu teman, tapi ingat kamu sedang hamil." Jerolin mengingatkan membuat Aisyah nyengir kuda.
__ADS_1
"Aku lupa," cicitnya dan melangkah santai beriringan bersama Jerolin.
Gosip telah beredar jika Aisyah pasangan Jerolin dan pria itu adalah ayah dari anak yang dikandung nya. Kedua nya tidak ada yang memberi komentar ataupun klarifikasi sehingga gosip itu dianggap benar.
Bahkan ketika sedang berdua baik Aisyah ataupun Jerolin tidak pernah membahas masalah tentang gosip tersebut. Bagi Aisyah, biar saja seperti ini karena takut akan menilai dirinya jelek yang hamil tanpa suami. Sementara Jerolin ingin melindungi Aisyah dari stigma buruk tersebut.
"Hai, Grace. Aku merindukanmu," pekik Aisyah memeluk Grace.
"Aku juga. Ya ampun, makin berisi saja."
Aisyah cemberut mendengarnya. Memang semenjak memasuki trimester kedua hingga sekarang perubahan tubuh nya semakin signifikan. Hal itu sering membuatnya tak percaya diri memakai pakaian hamil. Meski sebenarnya bentuk tubuhnya masih dibilang normal, tapi tetap saja membuatnya kesal.
"Kamu tetap cantik. Jangan hiraukan mereka yang bilang begitu, buat perubahan bentuk tubuh kamu sebagai pengorbanan seorang ibu." Jerolin benar-benar mengerti perubahan wajah Aisyah. Ia menatap Grace dengan tatapan tajam.
Grace menelan saliva kasar sekali. Ia tak menyangka akan seperti ini jadinya. "Kamu cantik, Ais. Maaf kalau menyinggung kamu," ia benar-benar tidak bermaksud seperti itu.
Aisyah mengikuti arah pandang Grace. Ia pun menoleh kebelakang melihat tatapan Jerolin yang tajam ke arah teman nya itu. Helaan nafas kemudian ketika menyadari pria akan berlaku seperti itu jika melindungi wanita.
Entah dorongan darimana, tangan nya yang masih di cekal Jerolin. Ia elus punggung tangan pria itu agar meredahkan emosi Jerolin. "Aku gak apa. Jangan buat Grace takut," katanya lirih.
Benar.
Emosi Jerolin menguap begitu saja. Ia pun mengangguk dan mengajak Aisyah masuk ke dalam ruangan kerja nya. Pria itu tak ingin pujaan hatinya di lihat banyak orang terlebih kemana pun dirinya pergi pasti bahaya terus mengintai.
Makanan sehat dengan bahan dasar buah sudah tersedia disana. Ada beberapa makanan Indonesia juga tersaji disana.
Melihat banyak makanan membuat senyuman Aisyah merekah. Seakan lupa masalah perubahan bentuk tubuh beberapa waktu lalu.
"Mari makan," pekik Aisyah mengambil dimsum ayam dengan sumpit di jemarinya.
❤️
__ADS_1