Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 50


__ADS_3

Aisyah segera menyimpan botol obat pencegah kehamilan itu segera sebelum Malvyn keluar dari kamar mandi. Ada rasa bersalah memenuhi benaknya, namun sudah menjadi keputusan telak setelah berpikir semalaman.


Bukan maksud tidak mencintai dan tidak menginginkan anak dari Malvyn. Tetapi, keadaanlah yang membuatnya mengambil keputusan ini. Dengan harapan, tidak ada yang tersakiti satu sama lain.


Sebenarnya ingin sekali Aisyah mengetahui ada apa dengan 8 tahun lalu, tetapi entah mengapa saat mencoba untuk mengingatnya, justru kepalanya terasa sangat sakit.


Ia juga mencoba memahami bila berpura-pura tidak saling kenal diluar sana adalah untuk kebaikan nya.


Tetapi, Aisyah berharap agar tidak pernah bertemu lagi dengan Malvyn di luar sana. Rasanya, sangat sakit dan ia tidak sanggup untuk merasakan hal itu lagi.


Tubuh Aisyah menegang kala merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Beruntung ia sudah menyimpan botol itu. "Ngagetin saja," gerutu Aisyah membuat Malvyn terkekeh.


Malvyn membalikkan tubuh Aisyah menghadap kearahnya. Tangan nya berada di pinggang sang istri agar kedua tubuh mereka tetap melekat.


"Maaf. Apa kamu masih marah?" tanya Malvyn sangat takut bila Aisyah marah dengan nya lagi.


Aisyah memaksakan tersenyum. "Aku bisa apa, suamiku? bukan kah hanya sabar yang bisa ku lakukan? aku mencoba percaya denganmu."

__ADS_1


Malvyn mengecup pipi Aisyah kemudian mendekap erat tubuh istrinya itu. "Aku akan segera selesaikan masalahku dengan Jesica. Aku harap kamu mengerti keadaanku, ya."


Aisyah mengangguk.


Pagi itu mereka sarapan bersama dengan Malvyn yang memasak pagi ini. Setelah memasak, pria itu pamit untuk bekerja.


Sementara Aisyah bersiap untuk pergi seorang diri untuk menenangkan hati dan pikiran nya tanpa dikawal oleh John dan Johan.


"Kenapa kalian disini?" kata Aisyah melihat kedua pengawalnya sedang berada di lobby apartemen.


John terkekeh seraya menggaruk tengkuk lehernya. "Kami ikut nyonya muda, ya. Suntuk gak kerja," rengek John langsung membuat Aisyah mencebik.


"Aku masih marah sama pak John dan Pak Johan. Kalian membohongiku selama ini," cicit Aisyah dengan mimik wajah kecewa nya.


"Maaf Nyonya muda. Apalah kami hanya anak buah. Tapi kami ada dipihak anda. Istri sah harus kuat dan membrantas para pelakor," kata John dan di setujui oleh Johan.


Sementara Aisyah menatap kedua pengawalnya secara bergantian lalu menghela nafas panjang. "Ya sudah. Aku lagi malas bicarain itu, pak. Tolong antar aku ke alamat ini, ya."

__ADS_1


Aisyah menyerahkan secarcik kertas bertulis sebuah alamat yang ia cari di sosial media. Johan menerima secarcik kertas itu tampak terbelalak karena terkejut dengan alamat tersebut.


"Ayo! kenapa diam? mau anterin, gak?" Aisyah berdecak melihat kedua pengawalnya itu hanya memandangi secarcik kertas yang diberikan nya.


Aisyah pun berdecak. "Aku pergi sendiri saja," kata nya tetapi John dan Johan langsung mengajak nya masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, tidak ada yang bersuara karena perasaan Aisyah yang belum sepenuhnya sembuh, dan kedua pengawal itu tampak ragu menuju ke alamat yang diberikan Aisyah.


Aisyah menatap ponsel nya yang bergetar dan masuk pesan dari Gio.


Kak Gio : Apa kamu sudah baikan?


Jemarinya sangat lancar membalas pesan dari pemuda itu.


Aisyah : *Aku sudah baik dan sekarang lagi menuju ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Maaf gak masuk hari ini.


❤️

__ADS_1


Kira-kira Ais mau kemana gaes*?


__ADS_2