
Tanpa terasa pernikahan mereka sudah menginjak di tahun pertama. Aisyah sudah berada di Apartemen Malvyn. Senyuman terus terukir di wajah cantiknya. Rindu nya sudah tak tertahan lagi.
"Taruh disini saja, pak. Foto-foto nya kita buat di kamar saja, ya?" tanya Aisyah yang ingin menghias kamar mereka dengan foto-foto bersama Malvyn.
Tak lupa ia menyimpan sebuah kotak berukuran kecil di dalam laci lemarinya. Di dalam kotak tersebut berisi alat tes kehamilan dan foto hasil USG kemarin. Aisyah juga melihat di dalam laci tersebut sudah tidak ada lagi obat pencegah kehamilan nya.
Mungkin sudah aku buang.
Aisyah tahu bila Malvyn akan pulang ke apartemen karena bibi Lala mengabari John bola suaminya itu sudah satu Minggu menginap disini.
John dan Johan juga dengan semangat membantu Aisyah menghias kamar. Bagi keduanya, kebahagiaan Aisyah lebih penting daripada apapun.
Awal menjaga Aisyah bagi mereka sangat merepotkan karena sering membuat ulah dan keras kepala. Tetapi, seiring berjalan waktu, nyonya muda mereka justru mudah diatur dan lebih dewasa. Karena itulah membuat kedua pengawal itu sangat menyayangi Aisyah.
Aisyah menatap hasil kerja mereka disertai menyeka keringat dengan punggung tangan nya.
Johan sigap memberi sebotol air mineral kepada Aisyah. "Duduklah, nyonya."
Aisyah menerima botol air mineral tersebut disertai anggukan. Ia pun duduk sembari membuka tutup botol tersebut. "Terimakasih, pak."
"Aku sudah enggak sabar untuk rayain ini. Aku sudah kangen dengan suamiku, pak. Kapan suamiku pulang, pak?" tanya Aisyah tak sabar. Apalagi hari sudah malam.
"Sebentar lagi, nyonya!" kata John menenangkan.
Aisyah mengangguk lalu bangkit. "Aku mau mandi dulu kalau begitu," katanya membuat John dan Johan keluar kamar menuju dapur.
Di dalam kamar mandi, Aisyah membersihkan diri dengan hati yang bahagia. Ia sudah membayangkan bagaimana bahagia nya Malvyn melihat kehadiran nya dan mengetahui calon anak mereka yang tumbuh.
Beberapa saat kemudian Aisyah keluar dari kamar mandi langsung menuju walk in closet untuk memakai pakaian. Ketika baru saja keluar dari sana, ia melihat Malvyn baru saja masuk ke dalam kamar.
Tatapan keduanya bertemu. Aisyah tidak tahu arti tatapan Malvyn yang sulit diartikan. Ia melangkahkan kaki dengan cepat lalu memeluk suaminya itu begitu erat.
__ADS_1
"Aku kangen, Vyn."
Malvyn hanya diam saja seraya memindai seisi kamar nya terdapat banyak foto mereka berdua. Tatapan nya menjadi pias melihat itu.
"Vyn.. Aku sudah membuat kue untuk merayakan satu tahun pernikahan kita. Ayo aku tunjukkan," kata Aisyah merangkul lengan Malvyn mengajaknya ke dapur.
"Honey.. Aku ingin kue cokelat yang di dapur. Tapi kedua pengawal kamu itu gak kasih," kata Jesica baru saja dari dapur melihat kue cokelat di atas meja. Saat hendak memotong kue cokelat tersebut, Johan menahan tangan nya lalu dihempas secara kasar. Karena itulah ia mengadu kepada Malvyn.
Aisyah mendengar dan melihat Jesica berada dalam apartemen langsung melepas rangkulan ditangan Malvyn. Ia baru sadari bila sikap suaminya memang berbeda semenjak berada di kamar tadi.
"Apa maksudnya ini, Vyn?" tanya Aisyah mulai takut hal-hal buruk akan terjadi. Ia menatap mata Malvyn begitu intens. Entah mengapa ketakutan nya akan menjadi nyata.
"Kenapa kamu diam? jelasin, Vyn."
Melihat Malvyn diam saja, Jesica maju mendekati lalu berdiri di antara Aisyah dan Malvyn. Sehingga membuat Aisyah menggeser hampir terjatuh. Beruntung John sigap menangkap tubuhnya.
"Aku saja yang jelasin. Malvyn akan segera menikahiku dan akan menjadi madu kamu," kata Jesica tersenyum merendahkan Aisyah. Tentu saja ia akan dinomor satukan oleh Malvyn.
Aisyah menatap Malvyn dengan mata berkaca-kaca. "Jelasin, Vyn!!!" sentaknya karena merasa Malvyn tak ingin menjelaskan sedari tadi.
Hancur sudah hati Aisyah. "Kamu akan menikahi wanita yang sudah membunuh calon anak kamu sendiri? Kamu akan menikahi wanita yang mencoba membunuh ku? kamu akan menikahi wanita yang sudah membunuh orang tuaku, Vyn?"
Aisyah menghapus air matanya melihat Malvyn hanya diam membisu dengan kepala menunduk. Ia menatap nyalang wanita yang akan menjadi madunya.
"Dosa apa yang sudah aku lakukan dimasa lalu sampai kamu tega menghancurkan hidupku? Kamu tak ubah nya seperti iblis, Jesica. Aku membencimu," Aisyah histeris dan mendorong Jesica hingga membuat wanita itu tersungkur ke lantai.
Malvyn melotot melihat kejadian itu dan tanpa berpikir apapun langsung mendorong Aisyah karena hendak menyerang Jesica kembali.
"Aisyah, CUKUP!!!" sentak Malvyn menatap Aisyah yang juga tersungkur ke lantai dengan sisi yang berbeda.
"Jesica sedang hamil. Bagaimana bisa kamu mendorongnya, hah? bukan kah bagus anak dalam kandungan mu gugur? itu yang kamu inginkan, bukan? selama ini kamu meminum obat pencegah kehamilan karena gak mau punya anak dariku, bukan?"
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Tapi aku gak bisa mengabaikan anak ku di dalam rahim Jesica. Apa kamu juga ingin melenyapkan anakku?"
Hening.
Aisyah menatap Malvyn dengan tatapan terluka yang sangat dalam. Dunia nya gelap mendengar semua ucapan Malvyn barusan. Tangan nya bergerak ke sisi perut saat merasakan nyeri dibagian perut bawahnya.
Di hapus air matanya dengan kasar dan mencoba bangkit dibantu oleh kedua pengawalnya. Hatinya semakin hancur melihat Malvyn membantu Jesica untuk berdiri dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar yang semula adalah kamarnya bersama Malvyn.
Tanpa mengatakan apapun, Aisyah melangkah menuju dapur dan memandangi kue cokelat yang seharusnya menjadi saksi perayaan tahun pertama pernikahan mereka.
Ia pun mengambil pematik api lalu menghidupkan lilin yang berada di tengah kue cokelat tersebut. Matanya terpejam untuk beberapa saat.
Aku harap kamu tetap bahagia dan aku berharap setelah malam ini, kita gak pernah bertemu lagi.
Aisyah meniup lilin tersebut lalu melepas cincin pernikahan yang diberikan Oma Nadira. Akhirnya, sudah waktunya ia menyerah.
Ia menyusul John dan Johan dengan menahan nyeri di bagian perut. "Pak. Ais akan pergi. Tugas kalian sudah selesai menjagaku," katanya dengan bibir bergetar menahan tangis.
John dan Johan semakin iba. "Pergilah bersama kami."
Aisyah menggeleng. "Kalian bekerja untuk dia. Aku gak mungkin bisa membayar kalian."
"Enggak akan ada yang pergi dari sini!" kata Malvyn baru saja tiba di dekat mereka.
Malvyn hendak meraih tangan Aisyah. Namun dengan sigap kedua pengawal itu menodongkan senjata api ke arah Malvyn.
Aisyah menatap Malvyn dengan dingin begitu juga kedua pengawal itu. "Biarkan aku pergi. Enggak ada guna nya aku bersama kamu. Bukan kah Jesica akan melahirkan anakmu? aku memang memakai obat pencegah kehamilan karena aku gak mau punya dari kamu. Aku gak pernah cinta sama kamu, Vyn."
"Coba kamu ingat. Apakah aku pernah mengatakan kalau aku cinta padamu?"
"Enggak pernah, Vyn. Aku gak pernah cinta sama kamu. Aku hanya kasihan dengan mu karena sudah mencintaiku sejak dulu."
__ADS_1
❤️