
"Tolong jaga Mom untuk Papi, oke!" Tegas Jerolin dihadapan kedua anaknya itu. Dua anak laki-laki itu mengangguk tegas.
Jerolin menengadah menatap Aisyah yang masih menangis. Ia pun berdiri dan memberikan dekapan hangat bagi wanita yang sangat dicintainya. "Jangan nangis terus, kamu tambah cantik kalau mata sembab begitu." Ia menggoda Aisyah dan benar saja, ia mendapat cubitan diperutnya.
"Janji hanya seminggu 'kan?" Tanya Aisyah setelah merasa lebih baik.
Jerolin tersenyum mendengar pertanyaan itu. Masih mendekap, ia mengusap kepala Aisyah begitu lembut. "Aku janji, sayang."
"Aku sudah bilang ke John dan Johan untuk menjagamu," kata Jerolin lagi membuat Aisyah terkejut.
"Kenapa harus mereka? Cukup pengawal kamu saja, suamiku. Mereka sudah punya istri, apalagi Meta sedang hamil."
Jerolin tersenyum dan mengangguk saja. Di urai pelukan lalu melabuhkan kecupan di kening Aisyah. "Sudah aku duga kamu akan begini. Terserah kamu saja," pandangannya nya berpindah mengarah pada kedua anak laki-laki itu. "Jaga Mom. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi nomor telepon yang tersimpan di jam digital kalian. Pastikan jangan panik saat hadapi masalah," tegas Jerolin. Seperti itulah Jerolin mendidik anak-anak nya. Ada saat harus tegas dan memanjakan mereka dilain waktu.
"Baik, Pi." Kata Dominic tegas. Anak Malvyn ini lebih tegas dan memang jiwa kepemimpinan sudah terlihat jelas.
Jerolin, Aisyah, dan Dominic menatap Lucas yang hanya diam saja.
"Price," tegur Jerolin.
__ADS_1
"Iya, Pi. Lucas pasti gak nangis," kata Lucas cepat membuat Aisyah terkekeh dengan kelucuan anak keduanya ini.
Jerolin pun akhirnya benar-benar pergi setelah menghabiskan waktu cukup lama menenangkan ketiga orang yang dicintai melebihi dirinya.
***
Sesuai dengan perintah Jerolin, Aisyah harus pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksa keadaan nya. Sementara Dominic dan Lucas harus berada di Rumah menunggu guru les private tambahan.
"Apa nyonya butuh sesuatu?" Tanya sang sopir bernama Eko.
Pandangan Aisyah teralih sesaat lalu kembali melihat ke arah luar jendela. "Aku butuh buah-buahan, Pak. Selesai pemeriksaan, aku ingin menjenguk kak Sania."
Aisyah sendiri yang meminta Jerolin mencarikan sopir pribadi orang Asia agar mudah berkomunikasi. Sementara sopir kedua putranya dipilih dari salah satu anak buah Jerolin atau terkadang Nick yang mendampingi mereka. Jangan tanya mengapa harus orang Asia, sebab Aisyah lebih nyaman berbicara dengan bahasa Indonesia.
Aisyah keluar setelah pintu mobil dibuka oleh Pak Eko.
"Hati-hati, nyonya."
"Iya, pak. Makasih banyak," Aisyah jalan perlahan memasuki toko buah dan memilih untuk dibawa ke Rumah Sakit menjenguk Sania.
__ADS_1
Ia sudah tak sabar melihat bayi perempuan yang cantik seperti kakak nya itu.
Usai belanja buah, Aisyah kembali masuk ke dalam mobil dengan hati-hati. Sebenarnya, ia tak nyaman. Namun, demi keselamatan dan ketentraman lebih memilih menurut saja.
"Nyonya bisa langsung masuk ke ruang praktek Dokter," kata Pak Eko ketika mobil baru saja berhenti di Parkir Rumah Sakit.
"Iya. Makasih, pak."
Aisyah memasuki Rumah Sakit dimana Sania dirawat dan disitu pula tempatnya memeriksakan kesehatan.
"Nyonya Marley. Apa kabar?" Tanya Dokter tersebut sembari memeriksa laporan kesehatan Aisyah beberapa bulan belakangan. Dokter itu pun tampak menganggukkan kepala.
Suster pun memeriksa kesehatan Aisyah lagi. Aisyah sendiri tersenyum senang dengan hasil pemeriksaan menyatakan jika dirinya sudah baik-baik saja.
"Keadaan nyonya baik-baik saja. Tapi tetap minum vitamin setiap jadwal, ya."
Aisyah tersenyum senang. "Iya. Makasih ya, Dok."
***
__ADS_1
Aisyah keluar dari ruang praktek tersebut. Ketika pandangan nya ke depan, ia berdiri mematung melihat seseorang.