
Aisyah mengerjap mata merasa terganggu dengan suara Malvyn yang sedang berbicara kepada seseorang dibalik telepon genggamnya.
Sementara Malvyn melihat Aisyah terbangun langsung mematikan sambungan telepon itu lalu meletakkan di atas nakas, kemudian duduk di tepi ranjang menghampirinya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Malvyn mengelus kepala Aisyah.
Aisyah berdehem kemudian memejamkan mata lagi karena merasa badan nya sangat pegal sekali dan juga sangat mengantuk.
Bagaimana tidak mengantuk?
Malvyn benar-benar meluapkan kasih dan sayang nya dengan penyatuan yang tak ada hentinya hingga dini hari.
"Sarapan dulu, sayang!" bisik Malvyn seraya mengecup pipi Aisyah.
Aisyah membuka matanya kembali. "Apa kamu akan bekerja?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Aisyah mengubah posisi hingga memeluk perut Malvyn dan memejamkan mata kembali.
Malvyn tidak langsung menjawab melainkan memejamkan matanya menikmati perlakuan manis dari Aisyah. Ia sangat senang mendapati istrinya itu berlaku manis kepadanya.
"Apa kamu ingin aku tetap disini?" tanya Malvyn tanpa menjawab pertanyaan Aisyah.
Jika Aisyah memintanya untuk tetap tinggal, maka ia akan menuruti kemauan istrinya itu.
Aisyah membuka mata dan menatap Malvyn yang juga tengah menatapnya. "Kamu kerja saja, suamiku. Nanti kamu dimarahin bos kamu," ungkap Aisyah.
Alis Malvyn terangkat sebelahemdengar ucapan Aisyah. Berarti selama ini istrinya itu menganggap dirinya hanya bekerja di kantor.
"Baiklah. Aku akan pergi bekerja setelah makan siang. Sekarang, ayo kamu mandi!" ajaknya tetapi membuat Aisyah mengeratkan selimut.
"Aku mandi sendiri saja," tolak Aisyah karena tidak ingin terjadi lagi seperti semalam.
Melihat Aisyah ketakutan membuat Malvyn tertawa karena menurutnya istrinya itu begitu menggemaskan. "Kenapa kamu terlihat ketakutan?"? tanyanya menahan senyum.
Aisyah mencebik seraya menaikkan selimutnya. "Tentu saja aku takut. Nanti kamu ajak buat anak lagi," katanya jujur dan berhasil membuat seorang Malvyn tertawa lepas.
"Nggak sayang. Aku ngerti kamu pasti capek layani aku semalaman," kata Malvyn merasa sangat bahagia dan bangga atas apa yang dirasakan nya sehingga membuatnya lupa diri dan berkeinginan lagi, lagi, dan lagi.
Aisyah sendiri menatap ragu. Tetapi akhirnya memekik ketika Malvyn menggendongnya tanpa izin.
"Kyyaaa... Vyn?!!" pekik Aisyah terperanjat atas apa yang dilakukan Malvyn apalagi masih dalam keadaan polos.
"Tutup mata, hey!!! jangan ngintip!" pekik Aisyah menutup mata Malvyn dengan telapak tangan nya justru membuat Malvyn tertawa lagi.
"Kenapa harus di tutup? aku sudah melihat semua nya, Ais. Bahkan aku masih ingat ada tahi lalat di buah dadaa kirimu, kan?"
__ADS_1
Ucapan Malvyn membuat pipi Aisyah bersemu merah. Mengapa suaminya itu berubah seperti ini?
"Jangan disebutin. Aku malu," ungkapnya dan membiarkan Malvyn menurunkannya ke bathtub yang sudah berisi air hangat dan busa menutupi tubuhnya.
"Hey?!!! kenapa kamu juga buka baju?" tanyanya panik kemudian memalingkan wajah ketika Malvyn menatapnya. Pria itu baru saja membuka baju dan celana yang menyisakan boxer ketat.
Malvyn ikut masuk ke dalam bathtub membuat Aisyah semakin panik.
"Ais.. Apa masih terasa sakit?" tanya Malvyn yang sedari tadi memang mengkhawatirkan hal itu.
Aisyah memberanikan diri menatap Malvyn kemudian membuang muka lagi. "Masih. Kamu bilang hanya sebentar, nyatanya sampai sekarang masih terasa sakit," gerutunya mengatakan sejujurnya.
Malvyn merasa tidak enak hati tetapi karena enak jadi ia tetap melakukan nya lagi, lagi, dan lagi. "Maaf, ya. Tapi kamu gak ada mengatakan sakit setelah itu jadi aku terus lanjutkan saja buat anaknya," ia meminta maaf tapi tetap saja tidak ingin disalahkan sepenuhnya.
Aisyah melirik sinis karena yang dikatakan Malvyn benar, tapi sebagai pria harusnya peka, bukan?
"Aku juga ngerasa enak. Tapi seharusnya kamu peka, dong?!" decak Aisyah kesal.
Malvyn menghela nafas panjang. Jika urusan peka atau tidak peka tentu saja ia tidak peka karena tidak suka main tebak-tebakan seperti apa yang diinginkan Aisyah. "Seharusnya kamu bilang saja, Ais. Aku akan selesaikan secepatnya," ucapnya mulai kesal jika Aisyah sudah membahas kekurangan nya ini.
"Ya namanya juga enak. Kamu sih!"
Malvyn tersenyum penuh maksud setelah mendengar pengakuan Aisyah. "Ya sudah. Aku mandiin kamu saja."
Dengan telaten Malvyn menyabuni tubuh Aisyah dengan sabun cair. Tetapi bukan itu tujuan nya. Setiap mengolesi sabun dari tangan, leher, punggung, hingga bagian depan Malvyn menyabuni secara perlahan hingga senyuman itu terbit manakala Aisyah melenguh.
"Kenapa, sayang?" bisik Malvyn sembari meniup daun telinga Aisyah hingga menghasilkan rasa yang menggelitik kalbu.
Aisyah membuka mata menatap Malvyn dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah keberanian dari mana, ia menarik tengkuk Malvyn dan meluumat bibir suaminya itu.
Tentu saja Malvyn merasa menang atas keberhasilan nya memancing biirahi Aisyah. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera mengeksekusi Aisyah.
"Gak di kasur, Vyn?" tanya Aisyah ketika pria itu mendudukkan nya dipangkuan.
Malvyn menggeleng. "Kita coba hal baru. Katakan kalau sakit, ya."
Malvyn mulai memasukkan pedang pusaka ketempat pengasahan membuat Aisyah melenguh kembali.
Pagi menjelang siang pasangan suami istri yang baru menjalani malam pertama yang panas, melakukan nya lagi dengan fantasi-fantasi liar sang suami.
*
*
__ADS_1
"Gimana? masih sakit?" tanya Malvyn tersenyum penuh kemenangan.
Aisyah yang baru saja memakai skincare hanya mencebik bibir saja. "Ayo kita makan," ajaknya karena butuh asupan agar tenaganya kembali bugar.
Malvyn mengangguk kemudian menggendong Aisyah menuju dapur.
"Aku bisa jalan sendiri, suamiku!" kesal Aisyah tetapi tetap saja tidak membuat apa yang dilakukan Malvyn urung.
"Ini karena ulahku, Ais. Semoga anak kita segera jadi, ya."
Aisyah mengangguk disertai senyuman karena ia benar-benar menginginkan seorang anak.
*
*
Malvyn datang sangat terlambat hari ini. Tetapi tidak mengapa karena terpenting hidupnya sudah sempurna.
"Ada Tuan besar di dalam," ucap Mario setelah Malvyn tiba di depan ruangan nya.
Mata Malvyn terbuka lebar. "Ngapain Papi disini?" seketika dirinya menjadi panik.
"Ada Tuan Qenan juga," kata Mario tanpa menjawab pertanyaan dari Malvyn barusan.
"Astaga," ucap Malvyn kemudian masuk ke dalam ruangan nya.
Ketika berada di dalam, Malvyn berdehem untuk menormalkan detak jantungnya. Jika hanya papi Edzard yang datang, Malvyn tidak akan setakut ini. Tetapi kali ini kedatangan opa Qenan tentu saja memiliki maksud penting.
"Ini dia, orang yang kita tunggu!" ucap papi Edzard membiarkan Malvyn duduk lebih dulu.
"Apa satu wanita saja nggak cukup bagimu, Malvyn?" tanya Opa Qenan yang sedari dulu selalu setia kepada istri tercintanya.
Tubuh Malvyn menegang tetapi detik berikutnya mengangguk. "Cukup, opa!" jawab nya tegas karena hanya Aisyah yang disentuhnya setelah menikah.
Mata Opa Qenan dan papi Edzard memicing menatap keturunan rudal Amerika itu. Mereka tampak ragu karena Malvyn sangat berbeda dengan mereka berdua.
"Apa buktinya? papi tahu kelakuan kamu di luar sana," ungkap papi Edzard.
Malvyn berdecak. "Sudah 4 bulan aku nggak bermain wanita, Pi. Jangan menuduhku begitu," bela nya karena menyesali kelakuan nya sebelum bertemu Aisyah kembali.
Opa Qenan menatap Malvyn begitu intens. "Lalu kamu kemana selama 4 bulan ini nggak pulang ke mansion utama kalau bukan bermain wanita?"
Lagi-lagi Malvyn menegang menerima pertanyaan dari opa Qenan. "Itu,-"
__ADS_1