
Malvyn telah menceritakan apa yang telah terjadi dan juga menceritakan kejadian penculikan dan dimana ia menyelamatkan Aisyah karena menjadi salah satu korban penculikan tersebut.
Opa Qenan dan papi Edzard menggeleng mendengar tentang apa yang diceritakan Malvyn.
Mereka menyadari ada kesamaan dalam kisah cinta mereka yaitu istri pergi meninggalkan mereka. Tetapi, satu hal lain juga mengerti bila masalah mereka memiliki kerumitan masing-masing.
Dan dua pria beda usia itu merasa bahwa permasalahan Malvyn jauh lebih rumit daripada masalah keduanya.
"Tolong jangan hakimi aku saat ini. Aku tahu akulah sumber masalah atas kepergian Aisyah," Malvyn tertunduk lemah karena memang stamina nya selama seminggu ini berkurang apalagi jarang makan.
Opa Qenan menghela nafas panjang kemudian berdiri dan meninggalkan kamar Malvyn, ia melihat Mario tengah duduk berdiam diri.
Opa Qenan menghentikan langkah nya sejenak menatap Mario. Ia mendidik pria itu sama kerasnya seperti Malvyn. Tetapi, kesalahan pria ini terhadap cucu perempuan pertamanya sangat fatal sehingga membuat mereka enggan berbicara kepada Mario.
Hanya saja, Malvyn sangat membutuhkan kinerja Mario sehingga tlmasih mempertahankan pria ini. Apalagi Mario telah berjanji mengabdikan hidupnya kepada Malvyn. Walau sekarang, ia harus tidak menampakkan diri bila keluarga Abraham berada disekitar Malvyn.
Opa Qenan duduk di hadapan Mario sehingga membuat pria itu berdiri. Pria paruh baya itu memberi isyarat menggunakan tangan nya agar tetap duduk.
"Kita harus bicara. Saya tidak akan membahas kesalahanmu dan aku mencoba mengerti posisimu. Aku yakin keturunan ku lebih kuat mental nya dan tak akan mengemis cinta setelah dicampakkan," ucap Opa Qenan tegas walau bagaimanapun hatinya kecewa dengan pria dihadapan nya ini.
Sementara Mario hanya dapat menunduk tak berani menatap wajah opa Qenan karena menyadari kesalahan nya.
"Panggilkan kedua pengawal cucu menantu kesini. Aku sudah curiga saat sore itu melihat kedua pengawal itu berada di panti ayahmu. Ternyata benar bukan?"
Mario hanya dapat menuruti tanpa menyela. Karena selain pada dasarnya harus mematuhi perintah keluarga Abraham, ia merasa sangat bersalah kepada Malya.
Mario segera menghubungi John dan Johan yang hingga kini masih mencoba mencari keberadaan Aisyah.
*
*
"Baik. Kami akan segera kesana," sahut Johan seraya menatap pemuda yang sedang berada di hadapan nya.
__ADS_1
John dan Johan baru saja bertemu dengan Gio. Sudah satu Minggu ini kedua pengawal itu mencari keberadaan pemuda ini dan baru saat inilah mereka menemukan nya.
"Saya harap anda tidak pernah berbohong, tuan. Saya tahu jika anda tertarik kepada Ais," gertak Johan menatap Gio dengan tajam.
Namun agaknya Gio memandang kedua pengawal itu dengan berani. "Maafkan saya, pak. Ais sendiri yang bilang tidak mau pulang dan memohon agar tidak diberi tahu kepada kalian berdua. Ais aman bersama saya saat ini. Mungkin dia butuh waktu sendiri. Tolong sampaikan pada papi Ais agar jangan khawatir. Atau perlu saya langsung yang mengatakan kepada papi Ais? apa papi Ais sudah pulang dari Medan?" tanya nya memastikan karena sebenarnya, Gio sangat tidak enak kepada kedua pengawal ini.
Gio yang pada dasarnya tipikal perhatian kepada orang yang disayangi tentu saja tak ingin membuat Aisyah menangis setiap kali ia menawarkan pulang.
Bukan tidak senang bila Aisyah berada di dekatnya, namun bukan seperti ini yang diinginkan Gio untuk mendapatkan pujaan hatinya.
Mata Johan memicing menatap Gio. "Itu berarti Ais bersama mu?"
Gio mengangguk jujur. "Tenang saja. Ia aman bersamaku. Maaf untuk menyembunyikan Ais selama ini, aku hanya menuruti saja dan setiap kali aku mengajaknya pulang, dia selalu menolak. Maafkan saya, pak."
John dan Johan berubah pias mendengar penjelasan Gio. Mereka juga merasakan sakitnya ketika mengetahui alasan Aisyah pergi selama ini.
Kedua pengawal itu juga tak marah karena sebelum Gio berteman baik dengan Aisyah, mereka sudah mencari tahu latar belakang Gio maupun Meta.
Gio mengangguk. "Tolong sampaikan sama papi Ais kalau aku akan menjaganya dengan baik."
Kedua pengawal itu hanya mengangguk saja kemudian pergi menuju apartemen Malvyn.
*
*
Opa Qenan bukan hanya mengumpulkan dua pengawal Aisyah. Istri, menantu, anak, dan cucu telah berkumpul di Apartemen Malvyn.
Opa Qenan juga sudah memberitahu bila Aisyah adalah cucu menantu dikeluarga Abraham dan sekarang sedang merajuk karena melihat Malvyn bercumbu dengan Jesica saat malam perayaan ulang tahun nya.
Tetapi baik Opa Qenan maupun papi Edzard tidak memberitahukan akar permasalahan nya kepada keluarganya.
Oma Nadira dan mami Ivy jelas marah dan memberi pelajaran kepada Malvyn.
__ADS_1
"Jadi Oma bercerita tentang gadis baik dan suaminya sibuk bekerja itu kamu, Vyn?" sentak Oma Nadira memberi cubitan di paha Malvyn.
"Dan ternyata kamu sibuk dengan Jesica? pria macam apa kamu? mami menerima Jesica itu karena mami lihat hanya dia yang selama ini selalu bersama mu. Tapi, kalau kamu sudah menikah diam-diam dan membuat istrimu sakit hati, mami gak akan mendukungmu!" pekik mami Ivy memberi bogeman kepada anaknya itu.
Sementara Malvyn hanya diam tertunduk menyesali perbuatan nya. Sungguh ia sangat mencintai Aisyah dan tak ingin istrinya itu celaka.
*
*
Dua hari berlalu semenjak keluarga Abraham mengetahui pernikahan Malvyn dan Aisyah. Mami Ivy saat ini sedang membuatkan bubur untuk Malvyn karena anak nya itu begitu terpuruk hingga mengalami demam tinggi.
Keluarga Malvyn telah mengetahui keberadaan Aisyah tetapi belum menjemputnya karena ingin memberi pelajaran kepada Malvyn yang telah membuat istrinya sakit hati.
Jangan tanyakan bagaimana Jesica karena keluarga Abraham telah melarang wanita itu menemui ataupun datang ke kantor milik mereka.
"Vyn. Bangunlah! mami sudah buatin bubur ayam kesukaanmu," terang mami Ivy meletakkan nampan berisi susu hangat dan semangkuk bubur ayam.
Malvyn tidak menjawab karena badan nya terasa sangat dingin sekali. "Mami, apa Ais sudah pulang?" tanyanya dengan bibir bergetar.
Mami Ivy berubah menjadi khawatir. Ia menempelkan punggung tangan nya di dahi Malvyn terasa sangat panas sekali dan begitu banyak keringat bercucuran. "Kamu sangat panas, Vyn!"
Mami Ivy menjadi panik langsung menelepon papi Edzard dan memanggil kedua pengawal Aisyah agar membantu membawa Malvyn ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Malvyn segera ditangani oleh Dokter dan bersamaan dengan itu kedua mertua dan suaminya telah tiba.
"Pi. Sebaiknya kita segera menjemput menantu kita. Aku gak tega lihat Malvyn seperti ini. Dia bukan seperti anakku yang selalu kuat," ungkap Ivy merasa sangat khawatir.
Oma Nadira juga terlihat sangat khawatir mendengar kabar Malvyn sedang demam tinggi. "Ayo kita jemput Aisyah, Vy. Kita harus membuat menantu kita menjadi istri yang kuat dan membasmi pelakor," ucapnya dan disetujui oleh mami Ivy.
❤️
Apakah Aisyah mau kembali lagi dengan Malvyn?
__ADS_1