
"Kenapa melamun?" tanya Aisyah kepada Jerolin tampak diam saja.
Jerolin langsung menoleh memberanikan diri menatap Aisyah kemudian memalingkan wajah karena merasa pipi nya memerah.
"Muka om merah," goda Aisyah langsung membuat Jerolin memegang pipi nya.
Salah tingkah karena ibu hamil itu terkekeh melihat nya. Mengusap-usap tengkuk leher demi mengurangi kegugupan. "Jangan menatapku seperti itu, Ais."
Mendengar ucapan Jerolin justru membuat Aisyah tertawa. Ternyata cukup menyenangkan menggoda pria dewasa di depan nya itu. Apalagi melihat mimik wajah itu terlihat lucu baginya.
"Ais," tegur Jerolin lagi.
Aisyah membekap mulut sendiri dengan satu tangan dan tangan yang lain memberi isyarat akan diam. "Maaf. Baiklah, aku diam." Sekuat tenaga Aisyah tak lagi tertawa. Namun, melihat wajah Jerolin justru membuat tawa nya kembali pecah.
Meski Jerolin benar-benar malu dibuat Aisyah, tapi melihat wanita cantik dengan dress hamil itu membuat nya merasa senang. Ingin sekali ia mendekap tubuh yang sudah sedikit berisi itu. Tapi, tak mungkin dilakukan mengingat batasan yang ada.
"Om. Ayo keluar cari es krim," pinta Aisyah kepada Jerolin secara tiba-tiba.
"Apa di lemari es sudah habis?" tanya Jerolin mengingat dirinya selalu memenuhi isi lemari pendingin milik Aisyah dengan buah-buahan, es krim, dan cemilan sehat lain nya.
Aisyah nyengir kuda tanpa menjawab tapi dapat dimengerti Jerolin. Pria itupun mengangguk membuat Aisyah bersorak girang.
"Aku ganti baju sebentar. Tungguin, jangan di tinggal."
"Iya."
Aisyah berjalan menuju kamar tapi menoleh ke belakang lagi. "Jangan ditinggal."
Jerolin berdecak tapi terkekeh kemudian. "Iya, Ais. Apa aku harus ikut ke kamar agar kamu percaya kalau aku gak akan tinggalin kamu?" tanya pria itu sedikit memekik namun reaksi Aisyah yang melotot membuat nya tertawa.
Melihat Aisyah masuk ke dalam kamar, Jerolin mendekati lemari pendingin lalu di buka nya. Di lihat stok cemilan disana sisa sedikit. Memang semenjak hamil trimester ketiga Aisyah lebih suka cemilan daripada makan berat. Apalagi nutrisi bagi janin sudah tercukupi.
Jerolin menoleh ke arah sumber suara pintu terbuka. Terlihat Aisyah sudah memakai dress hitam panjang selutut dengan tas selempang berwarna putih, serta sepatu sneakers wanita berwarna sama pula dengan tas selempang.
Senyuman kedua nya merekah lalu mempersilahkan Aisyah berjalan lebih dulu. Jerolin membayangkan jika ibu hamil itu adalah istrinya. Maka senantiasa tangan nya akan menggenggam tangan wanita itu. Namun, keberanian nya tak cukup untuk itu. Rasa cinta dan rasa bersalah dirasakan Jerolin sama besarnya.
__ADS_1
"Kamu kayak pengawal aku saja, om. Sini jalan di samping aku," ajak Aisyah menghentikan langkah dan membiarkan Jerolin berdiri di sampingnya.
Jerolin menggaruk kepala yang tak gatal. Antara senang dan sungkan, itulah yang dirasakan nya. "Apa gak apa-apa?"
Aisyah berdecak mendengar pertanyaan Jerolin. "Aku ini janda muda kalau kamu lupa," kekeh nya kemudian. Ia pun melingkarkan tangan di lengan kokoh milik Jerolin.
Jerolin merasakan tangan Aisyah melingkar di lengan nya membuat dirinya menahan nafas untuk sesaat. Bagaimana tidak? perlakuan Aisyah selalu membuat hatinya baper. Wanita itu seakan sedang bermain tarik ulur yang akan membuat hatinya sakit di kemudian hari.
Jerin membuka pintu mobil bagi Aisyah lalu memutari mobil dan duduk di samping wanita itu. Hari ini ia tak menyetir karena masih mengantuk, tadi. Demi cinta dan si buah hati rela mendatangi Aisyah meski sedang kurang fit.
Jerolin menyuruh sopir untuk ke minimarket terdekat saja agar mereka cepat kembali ke Apartemen. Apalagi hari mulai gelap.
"Om. Aku boleh makan junk food, gak?" tanya Aisyah melihat salah satu pengunjung sedang memakan burger.
"Itu makanan cepat saji, Ais. Kurang sehat," larang Jerolin yang memang selalu memerhatikan asupan gizi Aisyah.
Aisyah mengangguk pasrah. Jika sudah berbicara mengenai kesehatan maka dirinya hanya dapat diam karena Jerolin tak mungkin mentolerir hal itu. Akhirnya Aisyah memilih cemilan lagi disana.
Aisyah terkejut ketika tangan seseorang memegang separuh burger di hadapan nya. Ia pun memutar melihat siapa pemilik tangan itu dan ternyata Jerolin.
Aisyah mengangguk senang mendapati keinginan nya terwujud. Ia tahu semua itu demi kebaikan dirinya dan calon anak nya. Tapi, sempat juga berpikir dan teringat di Kampung halaman nya tidak seketat ini dalam mengkonsumsi makanan jika sedang hamil. Mereka tetap makan bakso, saos, mie instan, junk food, atau makanan yang lain. Berbeda dengan dirinya.
Jerolin memberikan boto air mineral yang tutupnya sudah di buka oleh nya. "Makasih, om."
Jerolin mengangguk. "Bisakah kamu memanggilku jangan om lagi? aku terlihat tua berjalan bersama mu jika terus begini," gerutu nya benar-benar aneh mendengar panggilan itu.
Aisyah terkekeh mendengarnya dan di angguki olehnya. Benar juga, padahal jarak usia mereka hanya 15 tahun. Namun Aisyah memanggilnya begitu.
"Jadi mau aku panggil apa?" tanya Aisyah membuat Jerolin mengedikkan bahu tanda tak mengerti.
Aisyah meminum air mineral pemberian Jerolin barusan seraya memikirkan panggilan yang pantas untuk pria itu.
Mas?
Aisyah menggeleng karena merasa memanggil dengan sebutan itu justru terkesan lucu.
__ADS_1
Abang?
Apalagi ini. Ingin tertawa rasanya.
Suamiku?
Bukan suami.
Sayangku?
Bukan kekasihku.
"Papi Jero," cicit Aisyah tersenyum memanggil Jerolin dengan sebutan yang memang seharusnya di sematkan untuk pria itu.
Sungguh hati nya bergetar mendengar panggilan baru dari Aisyah. "Bukankah itu berlebihan Ais?"
"Kalau lebih, aku minta kembalian nya saja." Aisyah menjawab ngasal karena tak ingin memperdulikan pertanyaan Jerolin.
"Aku serius, Ais."
"Tapi..."
"Pilih di panggil papi atau om?" decak Aisyah pada Jerolin. Pria itu tampak menelansaliva setelahnya.
"Papi Jero, saja."
Jerolin tampak malu-malu setelah mengucapkan hal itu. Aisyah senang melihatnya. Kedua nya kuat minimarket setelah berbelanja selesai dan membayar di meja kasir.
Hari ini Jerolin benar-benar bahagia karena mendapat banyak kejutan dari Aisyah. Tak dapat menyembunyikan rasa membuat nya terus tersenyum sepanjang perjalanan.
Aisyah memandang jalan dari jendela kaca mobil. Tentu saja perhatian Jerolin selama ini membuat dugaan nya mengarah pada sebuah kata cinta.
*Haruskah aku melupakan mu, Vyn? sementara kita bukan lagi sepasang suami istri. Kamu sudah membebaskan aku dari penjara cinta mu. Sungguh, mencintaimu membuatku sakit. Kamu sukses membuatku jatuh hingga ke dalam jurang begitu dalam. Aku sakit, Vyn. Aku sakit terus begini.
❤️*
__ADS_1