Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 37


__ADS_3

Aisyah menatap ponsel nya yang bergetar. Saat ini ia tengah duduk di meja belajar karena Malvyn memerintah ya agar belajar karena akan menghadapi ujian semester tak lama lagi.


Terlahir sudah memiliki kepintaran dibawah rata-rata tentu saja sangat sulit untuk memahami materi-materi yang sudah dipelajarinya.


"Ya, mi?" jawab Aisyah mengangkat telepon dari mami Adzilla.


"Gimana kabar kamu? sehat?" suara lembut mami Adzilla terdengar merdu di telinga Aisyah.


"Sehat, mi?" ingin rasanya Aisyah menangis karena merasakan rindu.


"Gimana? sudah hamil?"


Mata Aisyah melebar mendengar pertanyaan pertanyaan mami Adzilla. Sebelum menjawab, ia mengubah panggilan itu menjadi panggilan video.


"Mami," pekik Aisyah melihat sang mami sedang duduk di teras rumah.


Mami Adzilla tampak tersenyum merasa sangat senang dapat melihat anak gadis nya. "Gimana? sudah hamil?" tanya nya.


Aisyah langsung menatap Malvyn yang tengah sibuk dengan Ipad di samping nya. "Mi. alat reproduksi kami, eemppthh,-" belum selesai Aisyah menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, mulutnya sudah di bekap dengan telapak tangan Malvyn.

__ADS_1


"Jangan kasih tahu mami," bisiknya kemudian Malvyn tersenyum canggung di depan layar ponsel.


"Aisyah kenapa?" tanya mami Adzilla


"Bukan apa-apa, mi. Belum waktu nya hamil saja, mami sabar ya."


Mana mungkin Malvyn memberitahukan apa yang terjadi dengan rumah tangga mereka. Apalagi ia sendiri tidak memaksa ataupun mengambil keuntungan dari Aisyah.


Malvyn ingin Aisyah benar-benar siap lahir dan batin untuk melayani nya di atas ranjang.


"Aisyah. Jangan bilang kalau kamu belum siap karena sedang kuliah. Kamu harus ingat, adanya anak membuat ikatan cinta dan kadar cinta kalian bertambah. Bukan seperti yang dikatakan papi kamu yang selalu meminta mami puji biar kadar cintanya bertambah," mami Adzilla memberi nasihat dan langsung di resapi oleh Aisyah.


Melihat wajah sendu Aisyah, Malvyn memilih mengatakan sesuatu yang membuat kedua wanita beda usia itu merasa tenang. "Bukan Aisyah yang menunda, mi. Tapi aku yang meminta Aisyah fokus untuk belajar lebih dulu," terangnya tenang.


Sangat jarang sekali Malvyn merendah dan bertutur lembut kepada orang lain, tetapi demi Aisyah rela melakukan diluar kebiasaan nya.


"Kamu dengar, Ais? jadi pikirkan. Kamu mau suami kamu direbut wanita lain yang bisa kasih anak?"


Sontak pertanyaan mami Adzilla membuat Aisyah menggeleng cepat. Tentu saja ia tidak rela bila ada wanita lain di antara mereka.

__ADS_1


"Pikirkan. Sudah dulu, mami mau tidur."


*


*


Cukup lama mereka berdiam diri setelah sambungan telepon dari mami Adzilla terputus. Aisyah memikirkan ucapan mami dan sedang menimbang keputusan.


Sementara Malvyn merasa tersentil karena ucapan mami Adzilla. Sedari awal sudah ada wanita diantara dirinya dan Aisyah. Tetapi, tidak bermaksud untuk mendua kan Aisyah.


Malvyn menghela nafas panjang memikirkan bagaimana reaksi Aisyah jika mengetahui ada Jesica diantara mereka.


Memikirkan saja sudah membuat hatinya sakit. Apalagi Aisyah mengetahui dan memutuskan untuk meninggalkan nya.


Malvyn memeluk Aisyah bagai bantal guling di atas tempat tidur membuat gadis itu merasa sesak dan terkejut.


"Kamu kenapa?" tanya Aisyah yang mulai memahami bagaimana Malvyn jika sedang tidak baik-baik saja.


"Apa kamu akan meninggalkanku, Ais?"

__ADS_1


__ADS_2