Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 94


__ADS_3

"To-tolong. To-tolong selamatkan anakku," kata Aisyah kepada seorang wanita yang terlihat terburu-buru hendak masuk ke lobby apartemen.


Setelah mengatakan hal itu, dunia tampak gelap dan Aisyah tak sadarkan diri.


Wanita yang dimaksud Aisyah untuk dimintai tolong menjadi panik dan memanggil orang-orang yang ada di sekitar agar dibopong masuk ke dalam mobilnya.


"Tolong, pak. Gadis ini pingsan, saya akan membawanya ke Rumah Sakit."


"Apa mbak kenal dengan gadis ini?" tanya salah satu orang yang membantu membopong Aisyah.


"Kenal dan saya Dokter. Saya akan bawa adik ini ke Rumah Sakit terdekat," kata wanita itu, Dokter Anita.


Setelah Aisyah di bopong masuk ke dalam mobil, Anita. Wanita itu segera melajukan mobil ke Rumah Sakit terdekat dengan kecepatan di atas rata-rata. Kepanikan tercetak jelas di wajah setelah matanya tak sengaja melihat darah mengalir dari dalam sana.


"Astaga. Apa dia hamil?" gumamnya seraya mengatur posisi mobil di parkiran Rumah Sakit.


Anita keluar dari mobil dan berlari meminta pihak medis segera membawakan tandu dan mengikutinya ke mobil kembali. Diangkat Aisyah yang sudah tak sadarkan diri ke ruang Unit Gawat Darurat.


*


*


Malvyn membawa Jesica ke Rumah Sakit karena teman yang dimaksud Adrian, dokter kandungan itu tak kunjung datang.


Rasa tanggung jawab terhadap calon anak nya itu sudah tertanam dalam diri Malvyn meski hatinya sedang tidak karuan memikirkan keberadaan Aisyah yang belum ditemukan.


John dan Johan sudah tak lagi bekerja dengan nya malam itu juga. Semua fasilitas yang disediakan oleh nya telah dikembalikan. Hatinya semakin remuk mengetahui bila Aisyah pergi tanpa bersama kedua pengawal itu.


Begitu juga Mario yang tak ingin lagi mencampuri dan mengikuti perintah Malvyn di luar pekerjaan Perusahaan.


Sahabat sekaligus Asisten pribadi nya itu tak ingin melaksanakan hal-hal pribadi Malvyn lagi. Apalagi mengenai Jesica. Mario juga

__ADS_1


Padahal rencana nya setelah Jesica melahirkan, ia akan mengambil hak asuh dan merawat anak itu bersama Aisyah. Tentu saja tahu jika keputusan nya akan menyakiti istrinya, tetapi tak mungkin menelantarkan anak itu.


"Kamu temani aku, ya?" pinta Jesica kepada Malvyn yang tengah melamun di ruang inap nya.


Malvyn menoleh ke arah Jesica dengan air muka yang datar. Siapa bilang jika dirinya tidak membenci wanita itu?


Pria itu sangat membenci Jesica. Hanya saja kehadiran janin itu membuatnya tak ingin berbuat apapun.


"Ya," jawab Malvyn datar pula.


*


*


"Aku sangat khawatir dengan nyonya. Dia sedang apa ya?" tanya John kepada Johan yang tengah berada di sebuah club' malam.


Johan menatap lurus memerhatikan banyak wanita seksii sedang menari-nari meliukkan badan di sana. "Aku enggak tahu. Kita harus mencariny, John. Aku merasa nyonya sedang gak baik," katanya jujur.


Beruntung ATM yang diberikan Johan diterima oleh Aisyah sehingga membuat John dan Johan dapat melacak keberadaan nyonya muda mereka.


Sesampainya di apartemen, Johan langsung memeriksa pengeluaran rekeningnya. Matanya terbelalak melihat alamat dimana Aisyah mengeluarkan sejumlah uang cukup banyak.


"Kita harus ke Rumah Sakit, John. Nyonya sedang dalam bahaya," kata Johan bangkit dari duduk langsung menyambar kunci mobil diikuti John. Wajah mereka menjadi tegang memikirkan apa yang telah terjadi kepada Aisyah.


40 menit kemudian mobil mereka baru tiba dan bergegas masuk Rumah Sakit. "Ruangan Aisyah Malvyn Abraham, ada dimana?" tanya John setelah berada di meja resepsionis.


"Sebentar, tuan." Suster tersebut mencari nama yang disebut oleh John.


Suster tersebut menatap John sekilas lalu menatap layar monitor kembali. "Maaf, tuan. Nama yang anda sebut tidak ada dirawat disini."


John dan Johan saling pandang. Johan mengeluarkan ponsel melihat data pribadi dari Aisyah. "Aisyah Hadirah Nazifa. Tolong carikan nama itu, sus."

__ADS_1


Suster tersebut memeriksa nama dari yang dimaksud. "Ada di Ruang Anggrek nomor 03 lantai dua, tuan."


Ada rasa lega mendengar bila nama Aisyah ada disini walau tetap saja kekhawatiran lebih dominan dirasakan. Usai mengucapkan terimakasih, kedua pria dewasa itu bergegas ke ruangan yang dimaksud suster tersebut.


Johan mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar suara pekikan seseorang mempersilahkan masuk. Terlihat Aisyah terkulai lemah dengan wajah pucat sedang diperiksa oleh Dokter.


"Apa kalian keluarga pasien?" tanya Anita kepada John dan Johan.


"Ya. Kami pengawal beliau," jawab John dan diangguki oleh Anita.


"Bisa ikut saya ke ruangan? ada yang harus saya sampaikan," lanjut Anita lagi.


Johan mengangguk. "Biar aku saja yang pergi. Kamu disini jaga nyonya," katanya dan disetujui oleh John.


Johan mengikuti Anita masuk ke dalam ruangan. Ia duduk setelah dipersilahkan juga.


"Kandungan Aisyah sangat lemah. Selain usia nya masih sangat muda, Aisyah juga pernah mengalami keguguran sebelumnya." Anita menerangkan apa yang terjadi.


Johan mendengarkan dengan seksama. Kemarahan dalam diri muncul mengingat bagaimana perlakuan Malvyn kepada Aisyah.


"Jadi, apa yang harus dilakukan agar kandungan nyonya kami tetap selamat, Dok?" tanya Johan.


"Aisyah harus istirahat total selama dua Minggu kedepan. Hindarkan dari stres, tuan."


Johan mengangguk mengerti. Ia juga bertanya seputar kehamilan. Setelah selesai, bergegas kembali ke ruangan Aisyah.


Langkahnya memelan melihat seseorang yang dikenalnya. Tangan nya terkepal melihat pemandangan itu.


*Aku bersumpah! Tidak ada kebahagiaan menyertai kalian.


❤️*

__ADS_1



__ADS_2