Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 105


__ADS_3

Jerolin membolak-balik kemasan daging ayam fillet yang di pegangnya lalu mengganti kemasan lain dan di lihat-lihat kembali. Entah apa yang dicari pria itu membuat Aisyah bertanya-tanya dan merasa tak sabar.


"Semua daging ayam itu sama, Om. Mau cari yang gimana?" tanya Aisyah mulai tak sabar melihat Jerolin yang terus seperti itu.


"Harus pilih yang lebih segar, Ais. Ibu hamil harus makan makanan sehat dan pasti nya harus segar," terang Jerolin lalu memasukkan satu kemasan ayam fillet tanpa menatap Aisyah yang berada di belakang troli.


Jerolin juga memasukkan bawang merah, bawang putih, tepung kanji, telur, lada bubuk, baking powder ke dalam troli. Senyuman nya terukir ketika bahan membuat pentol sudah tersedia.


Pria itu mengambil alih mendorong troli dan Aisyah mengikuti dari samping tanpa mengucapkan apapun.


Aisyah sendiri masih berpikir apakah Jerolin benar-benar ingin membuat pentol untuknya? sementara tadi hanya menjawab asal saja. Jika benar, ada rasa haru hadir dalam dirinya karena baru kali pertama orang lain perduli pada kehamilan nya selain John dan Johan.


Aisyah mengeluarkan beberapa lembar mata uang Pound Sterling hendak membayar belanjaan nya. Namun, Jerolin mencegah. Pria itu memberikan kartu sakti kepada sang kasir.

__ADS_1


Setelah itu, Jerolin membawa semua belanjaan mereka mengikuti Aisyah yang sudah berjalan mendahului. Rupanya ibu hamil itu belum ingin berbicara banyak kepadanya.


Tetapi, bagi Jerolin jauh lebih baik daripada harus dihantui rasa bersalah terus-menerus kepada Aisyah. Ketika sudah masuk ke dalam Apartemen, ia tersenyum melihat bunga Aster nya dijadikan pajangan oleh Aisyah.


"Ais.. Aku pinjam dapur kamu, ya."


Aisyah menatap Jerolin sejenak. "Terserah," cicitnya ketus kemudian pergi dari dapur setelah sebelumnya menyusun belanjaan ke tempat biasanya.


Jerolin tersenyum meski Aisyah seperti itu. Di gulung lengan kemeja panjangnya hingga ke siku. Membuat peragaan seakan petinju yang akan adu jotos di atas ring lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seperti hendak bertempur melawan musuh.


Jerolin menghaluskan daging ayam lebih dahulu, usai itu melanjutkan langkah-langkah berikutnya.


Aisyah menonton televisi tetapi pikiran nya berada di dapur. Memikirkan apa yang dilakukan pria itu disana. Sebenarnya, selama tinggal di Manchester tak pernah menonton televisi siaran lokal. Memang sedari dulu begitu selain drama Korea.

__ADS_1


Apalagi semenjak sosial media menghujat nya sebagai penghalang hubungan Malvyn dan Jesica. Semenjak pesta yang diduga pernikahan mereka, tak pernah lagi Aisyah membuat aplikasi sosial media di ponselnya.


Hati aisyah belum sekuat itu untuk siap melihat kebahagiaan mereka. Sementara dirinya berjuang hidup sendiri di Negara orang lain. Tanpa pengalaman, tanpa pengawasan, tanpa dukungan dari orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas hidupnya.


Bahkan di Manchester, ia dikenal sebagai Ais. Bukan Aisyah.


Dua jam kemudian Aisyah terbangun setelah sekian lama duduk menunggu Jerolin. Dilihat televisi masih menyala gegas dimatikan nya. Waktu sudah menunjukkan lewat pertengahan hari, pantas saja ia merasakan sangat lapar.


Aisyah bangkit dari duduk nya melangkah pelan menuju dapur. Matanya terbelalak melihat keadaan dapur yang sudah sangat berantakan.


"Kenapa berantakan begini? Apa om gak tahu kalau bersihkan semua ruangan itu capek? Lihat itu tepung nya tumpah ke lantai. Ini lagi air nya.. Ya ampun, Om. Kamu itu, ya!" Sentak Aisyah persis seperti seorang ibu memarahi anaknya.


Jerolin menelan saliva nya dengan kasar. Ia menunduk dengan mata melirik kesana dan kesini melihat keadaan dapur yang memang sudah sangat berantakan seperti kapal pecah.

__ADS_1


Oh Tuhan.. Pantas Ais marah. Kenapa jadi berantakan begini?


__ADS_2