
"Pak. Mereka ngomong apaan?" tanya Aisyah pelan kepada kedua pengawalnya serta pandangan nya ke arah Malvyn yang sedang berbicara dengan dua pria dewasa berpenampilan yang sama dengan suaminya.
Aisyah bingung karena Malvyn menggunakan bahasa asing yang tidak diketahuinya.
"Mereka ngomong pakai bahasa Spanyol, nyonya. Masalah pekerjaan," kata Johan menjelaskan kepada Aisyah.
Bekerja dengan Malvyn memang diharuskan memiliki skill bahasa asing lebih dari dua bahasa.
Aisyah mengangguk mengerti dan terpana melihat Malvyn sangat fasih berbicara bahasa Spanyol di hadapan dua pria dewasa tersebut. Dengan ketampanan penuh karismatik membuat siapa saja akan jatuh hati kepada pria itu.
"Nyonya.. Segera habiskan makan siang nya agar minum obat," kata John memang perhatian kepada Aisyah.
Wajah yang tadi nya sumringah berubah menjadi muram durja karena mulai merasa jengah melihat obat-obatan itu. "Aku sudah sembuh, pak. Simpan saja obat nya," kata Aisyah lirih.
"Di minum biar nyonya muda sehat dan bisa hamil lagi. Harus semangat! Jangan mau kalah dengan wanita itu," kata Johan membangkitkan semangat Aisyah yang sudah redup akhir-akhir ini.
Aisyah langsung menatap Johan tanpa mengeluarkan suara. Entah mengapa perkataan salah satu pengawalnya ini terasa menyentil hati nya yang mulai goyah.
"Aku takut, pak. Aku cuma gadis kampung yang jarang pakai sosial media. Aku awal nya enggak tahu penyebab perudungan itu. Ternyata fans suamiku dan dia," jawab Aisyah lirih.
"Jangan sedih, nyonya muda. Ayo semangat! tunjukkan istri sah lebih berkuasa. Nyonya mau kami gimana? kami turuti," John memberikan semangat kepada Aisyah karena tak ingin nyonya muda mereka terpuruk lagi.
"Dan segeralah lahirkan pewaris untuk keluarga Abraham agar tidak ada yang berani mencelakai nyonya," sambung Johan agar Aisyah mau minum obat.
Aisyah tersenyum disertai anggukan. Ia bersyukur masih dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
Aisyah menerima beberapa butir obat dan segelas air minum. Dalam hati ia membenarkan apa yang diucapkan kedua pengawal nya bahwa istri sah lebih berkuasa dan harus segera lahirkan pewaris keluarga Abraham.
__ADS_1
*
*
"Ayo ikut aku, sayang!" kata Malvyn bersimpuh di hadapan Aisyah yang tengah duduk.
Sedari tadi Malvyn terus memerhatikan Aisyah yang sedang membaca buku setelah minum obat. Ada rasa syukur karena istrinya sudah kembali kuliah walau secara online.
Ia bisa saja menuruti Aisyah yang tidak ingin kuliah lagi karena merasa cukup membiayai kehidupan istrinya. Tetapi, janji nya kepada papi Askar untuk tidak menghalangi pendidikan Aisyah membuatnya bertanggung jawab atas ini semua.
Aisyah menoleh ke arah Malvyn. "Kemana?" tanya nya karena ini masih jam kerja.
"Ke Restoran. Ada pertemuan dengan klien," jawab Malvyn jujur tetapi melihat Aisyah diam saja, ia mengerti ada keengganan disana.
"Jangan takut. Mereka sudah tahu kalau aku sudah punya istri dan gak akan merudung kamu," ungkap Malvyn seraya mengecup punggung tangan Aisyah.
"Ck.. Kamu ini! iya kita ajak mereka," decak Malvyn karena selalu saja mengingat dua pengawal istrinya itu.
"Sayang!" kata Malvyn lagi cemberut dan hal itu justru membuat Aisyah merasa bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Aisyah menyadari perubahan wajah Malvyn.
"Kenapa kamu ingat John dan Johan terus, sih? apa mereka lebih tampan dari pada aku?"
Aisyah mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Malvyn. Sumpah demi apapun, wajah suaminya itu justru terlihat sangat menggemaskan baginya.
Entah keberanian dari mana setelah kejadian perudungan kala itu, Aisyah mengecup pipi Malvyn dan tentu saja membuat pria itu bahagia tak terhingga.
__ADS_1
Mata mereka bertemu dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu yang berbeda. Tapi yang pasti, kedua nya merasakan ada kebahagiaan yang menyertai mereka kembali.
"Kamu satu-satunya, Vyn. Pak John dan pak Johan sudah aku anggap seperti ayah ku sendiri. Mereka menyayangi ku dan aku menyayangi mereka. Jangan menaruh cemburu kepada mereka," kata Aisyah jujur ada nya dan membuat hati Malvyn menghangat.
Sangat jarang sekali Aisyah mengungkapkan perasaan nya kepada Malvyn.
Malvyn tersenyum dengan satu tangan nya bergerak dan menangkup salah satu pipi Aisyah. Di kecup bibir ranum milik istrinya kemudian segera bangkit. Jika tidak, akan terjadi sesuatu bila tetap berada dalam keheningan menyiratkan gairah yang terpendam.
Sudah tiga Minggu Malvyn menahan hasrat nya karena Aisyah mengalami keguguran dan perudungan. Ia tidak mungkin memaksakan diri demi kepuasan sementara Aisyah dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Aku ganti pakaian. 5 menit!" Aisyah berlari kecil menuju kamar mandi membawa paperbag yang sudah disediakan Malvyn sebelumnya.
Aisyah merasa beruntung karena kebutuhan nya selalu disediakan Malvyn sebelum dirinya mengatakan hal itu. Suaminya itu seakan mengerti semua tentang hidupnya.
"Pak John dan pak johan benar. Aku harus bertahan karena Malvyn bahagia bersamaku," kata Aisyah di dalam kamar mandi.
Aisyah keluar dari kamar mandi sudah menggunakan dres nuansa putih dengan motif bunga-bunga. Sangat pas di tubuh Aisyah yang mungil ditambah tas branded LV berwarna merah yang baru saja di berikan oleh Malvyn.
"Kamu cantik," kata Malvyn mendekati dan menarik pinggang Aisyah hingga kedua tubuh mereka saling melekat.
Walau sudah berulang kali berdekatan dengan Malvyn, jika sudah dalam keadaan seperti ini tetap saja membuat Aisyah menjadi gugup.
Aisyah masih menyembunyikan wajah di dada bidang Malvyn, tidak berani menengadah menatap mata suami nya itu.
Malvyn meraih dagu Aisyah kemudian mengecup bibir istrinya berulang kali. "Sudah ayo pergi. Aku enggak tahan dekat kamu berduaan begini," bisik nya membuat pipi Aisyah bersemu merah.
__ADS_1
Tentu saja Aisyah mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan Malvyn. "Ayo," katanya seraya merangkul lengan Malvyn yang kokoh keluar ruang kerja tersebut.