
Dua wanita berbeda usia itu baru saja selesai bersiap. Oma Nadira dan Mami ivy sudah tampak cantik dengan penampilan sederhana namun tetap tampak elegan.
Oma Nadira masih tampak bugar karena sering olahraga bersama mami Ivy agar tetap sehat dan tampil cantik di depan suami.
Mereka berangkat menuju ke suatu tempat bersama John dan Johan, sesuai alamat yang diberikan Gio.
Kedua pengawal itu sangat berterima kasih kepada Gio yang telah memberikan alamat itu dan tidak bermaksud lain.
Satu jam kemudian mobil mereka telah sampai di sebuah gedung apartemen tidak terlalu mewah seperti apartemen Malvyn.
Karena sudah mengantongi alamat yang benar, kedua wanita itu melangkah masuk ke dalam lift setelah meminta izin untuk datang ke apartemen tersebut.
Pintu lift terbuka namun mereka dikejutkan dengan seorang pemuda sedang membopong Aisyah masuk ke dalam lift dan diikuti seorang gadis.
Karena mengetahui itu, Oma Nadira dan mami Ivy tidak jadi keluar dari lift dan segera mengikuti mereka.
"Naik mobil kami saja," kata mami Ivy dari belakang Gio dan Meta karena seperti orang bingung mencari kenderaan.
Selama ini, Aisyah tinggal bersama dengan Meta. Gio tidak mungkin mengajak Aisyah tinggal bersamanya dan juga sang ayah.
Selama dua hari pula Aisyah demam dan saat tadi Gio ingin menjenguk, gadis itu sudah tak sadarkan diri.
Inilah yang dikhawatirkan Gio karena sedari demam Aisyah tidak ingin dirawat di Rumah Sakit dengan alasan takut bila ketahuan dua pengawalnya dan diajak pulang.
Oma Nadira dan Mami Ivy memerhatikan bagaimana Gio sangat terlihat khawatir dengan Aisyah.
Mami Ivy menghela nafas panjang kemudian menghubungi sang suami untuk mempersiapkan kebutuhan Aisyah.
Beberapa waktu kemudian mobil mereka telah sampai dan seperti semula Gio menggendong Aisyah segera membawa ke ruang Unit Gawat Darurat.
"Terimakasih, nyonya."
Mami Ivy tersenyum. "Gak perlu berterimakasih. Kamilah yang sudah seharusnya mengucapkan terima kasih pada kalian yang sudah mau menjaga dan menerima menantu keluarga kami," tutur nya mempertegas status Aisyah.
__ADS_1
"Setelah pemeriksaan selesai, kami ingin menjemput Aisyah dan di rawat bersama suaminya. Mohon pengertian nya," ungkap mami Ivy dengan senyum lebar.
Mami Ivy melakukan ini karena tak ingin akan ada hati yang tersakiti. Apalagi usia pernikahan anak nya baru sebentar.
Gio mendengar ucapan mami Ivy langsung terpaku. Menantu?
*
*
Malvyn menatap langit-langit ruang rawat inap nya. Tubuhnya terasa lemah atas kehilangan Aisyah, padahal baru satu Minggu.
"Mungkin aku benar-benar hancur kalau kamu benar-benar pergi, Ais."
Pintu ruang rawatnya terbuka dan menampakkan Malya masuk ke dalam ruangan itu. Mario yang juga berada di ruangan tersebut menatap Malya sejenak kemudian memilih keluar dari sana.
"Hai, Vyn. Gimana kabarmu? kau seperti bukan saudara kembar ku," kelakar Malya membuat Malvyn berdecak.
"Kau akan begini saat kehilangan cintamu, Malya. Jangan menggodaku, aku sedang malas bicara!"
"Aku tahu. Aku akan buktikan bahwa aku pasti bahagia," kata Malya.
Tak berapa lama pintu ruang rawat inap Malvyn kembali terbuka dan membuat pria itu memicing melihat mengapa pasien lain di bawa masuk ke dalam ruangan nya ditambah Oma Nadira dan mami Ivy juga ikut masuk ke dalam mengurusi pasien yang tergeletak lemah itu.
Malvyn yang penasaran mencoba untuk duduk dengan dibantu Malya. Matanya melebar ketika mengetahui siapa pasien itu.
Secepat kilat Malvyn turun dari brankar seakan tubuhnya sudah pulih kembali dari gejala tipes yang di deritanya.
"Sshh," ringis Malvyn ketika jarum infus yang menancap di punggung tangan nya terlepas sehingga menjadi berdarah dan itu berhasil membuat semua orang yang berada disana memekik panik.
"Ya Tuhan, Malvyn...," pekik Mami Ivy.
Tubuh Malvyn limbung, beruntung Malya cekatan menangkap tubuh kembaran nya. "Kau berat sekali," keluhnya tetapi tetap membantu Malvyn mendekati brankar Aisyah.
__ADS_1
Malvyn duduk di samping brankar dan menatap wajah Aisyah yang tampak sangat pucat.
Mereka yang berada disana melihat Malvyn hanya diam memandangi Aisyah memilih keluar karena mengerti bila butuh privasi untuk keduanya.
Malvyn meraih tangan Aisyah yang bebas dari infus kemudian dikecupnya dengan terus menggumamkan kata maaf.
Dengan tubuhnya yang masih lemah, Malvyn berusaha naik ke atas brankar Aisyah, menggeser tubuh Aisyah, kemudian ikut baring disebelah istrinya.
Malvyn memeluk tubuh Aisyah dengan erat. "Bangun, sayang. Ayo hukum suamimu ini tapi jangan pernah pergi lagi," bisiknya dan berhasil.
Tak beberapa lama Aisyah terbangun dan bersamaan itu pula pintu ruang rawat inap mereka terbuka, Adrian masuk dengan dua perawat mengikuti.
"Hei, Vyn. Segera kembali ke brankar mu sendiri," titah Adrian namun Malvyn menggeleng polos.
Sementara Aisyah masih mematung karena sedang mengenali tempat dan orang-orang yang berada disana.
"Lepas. Aku susah bernafas," kata Aisyah membuat Malvyn mengalah.
"Maafin aku, Ais."
"Kembali ke brankarmu. Jangan membuat orang lain sesak.".
Malvyn menyerah dan hendak turun namun tiba-tiba Aisyah menariknya.
Aisyah melihat Adrian sedang bersiap untuk menyuntikkan jarum ke arahnya. "Aku takut, Vyn,"
Tetapi Adrian harus menyuntikkan cairan yang ada disuntikan tersebut . Malvyn sendiri merasa senang karena dirinya seperti terbang ke atas langit karena dibutuhkan oleh Aisyah.
Malvyn membelai rambut Aisyah dengan sayang agar istrinya menjadi tenang sehingga Adrian mudah menyuntikkan cairan yang berada di suntik.
"Sudah. Gak sakit kan?" tanya Malvyn memastikan.
Aisyah menggeleng. Sementara Adrian yang memasang infus di punggung tangan Malvyn hanya dapat pasrah karena tahu hal unik adalah kesalahan nya.
__ADS_1
"Maafin aku."