
Aisyah bersandar pada dinding apartemen orang lain ketika berjalan di lorong gedung itu. Ringisan terdengar lirih merasakan nyeri di perutnya.
Kepala Aisyah menggeleng kecil disertai usapan kasar di pipinya agar tak ada lagi air mata. Ia harus kuat karena sudah tak ada lagi yang menjaga nya disini. John dan Johan sudah ia larang untuk menjaganya lagi. Bukan karena tak mampu menggaji, tetapi ia tak ingin lagi berhubungan dengan orang-orang disekitar Malvyn.
Ketika sudah berada di luar gedung apartemen, tubuh Aisyah mematung tatkala melihat Adrian berjalan cepat ke arahnya.
"Ais. Siapa yang sakit? Malvyn menelepon ku terdengar sangat khawatir. Apa kamu sakit lagi?" tanya Adrian terlihat khawatir memindai penampilan Aisyah.
Tenggorokan Aisyah tercekat mendengar pertanyaan Adrian yang memberitahu Malvyn sangat khawatir ketika menelepon. Ia yakin, Malvyn menelepon Adrian karena Jesica merasa kesakitan akibat dorongan suaminya tadi? Lalu bagaimana dengan dirinya yang sedang menahan sakit sekujur tubuhnya karena perutnya semakin terasa sakit.
"Malvyn juga meminta ku untuk memanggilkan Dokter kandungan, apa kamu sudah hamil?" tanya Adrian semakin membuat hati Aisyah remuk.
Aisyah hanya menggeleng tanpa menatap mata Adrian. "Enggak. Aku permisi dulu, Dok."
Adrian hanya mengangguk dan memerhatikan Aisyah berjalan menjauh seperti menahan sakit. Ia pun mengedikkan bahu merasa ada sesuatu tapi tidak tahu hal itu.
*
*
Adrian baru saja tiba di apartemen Malvyn. Ia melihat sahabatnya itu tampak berantakan. Namun, belum ingin bertanya mengenai hal pribadi. "Apa kamu sakit lagi, Vyn?" tanyanya basa-basi.
Malvyn menggeleng seraya mempersilahkan Adrian masuk. "Bukan," ia mengajak Adrian untuk masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Adrian sempat terkejut melihat Jesica tergeletak di tempat tidur dengan wajah pucat.
"Jesica hamil, Rian. Tadi dia terjatuh. Tolong periksa dia," kata Malvyn masih terdengar khawatir.
Mendengar penjelasan Malvyn membuat Adrian mengerti. Ia hanya diam dengan wajah datar memeriksa Jesica.
"Aku bukan jatuh, Vyn. Tapi anak kecil itu yang mendorongku," protes Jesica marah karena Malvyn menutupi kesalahan Aisyah.
Adrian menatap Jesica dengan tatapan tajam. Ingin sekali ia mencekik wanita ular di depan nya ini.
"Tadi saya sudah meminta teman saya, dokter kandunga agar datang kesini. Lebih baik teman saya saja yang memeriksa jalaaang anda, tuan!"
Malvyn menatap Adrian dengan tatapan pias. Sementara Adrian sendiri menatap Malvyn dengan tatapan permusuhan.
Adrian juga menghubungi teman nya yang akan memeriksa Jesica agar segera datang. Tetapi, nomor ponsel tersebut tidak dapat terhubung.
"Jesica hamil karena aku gak sengaja melakukan nya. Jangan berpikiran begitu, Adrian."
Adrian menatap Malvyn dengan tajam. "Saya tidak perduli, tuan. Dan saya juga akan mengundurkan diri sebagai Dokter pribadi keluarga anda," setelah mengatakan itu, Adrian dengan cepat keluar dari sana guna mencari Aisyah dan berharap wanita muda itu belum terlalu jauh.
Ketika sudah berada di luar gedung apartemen, Adrian tidak dapat menemukan Aisyah. "Apa dia sudah pergi jauh? aku merasa Ais sedang menahan sakit tadi. Ya ampun. Semoga kamu baik-baik saja."
*
__ADS_1
*
Malvyn tidak lagi masuk ke dalam kamar dan berada di ruang tamu sepanjang malam. Ia mengingat kejadian tadi dan merasa bersalah telah berlaku kasar kepada Aisyah.
Lampu yang sengaja telah dipadamkan agar tak ada yang tahu bila dirinya menangisi kebodohan nya.
Malam itu, kesalahan fatal telah diperbuatnya. Ia meninggalkan Aisyah di Villa sementara dirinya sedang memadu kasih bersama Jesica.
Awalnya Jesica setuju untuk melupakan kejadian itu dengan uang yang diberikan nya. Tetapi, beberapa hari lalu wanita itu datang padanya dan memberikan alat tes kehamilan yang terlukis dua garis merah.
Malvyn tidak percaya dengan benda itu. Karena ingin membuktikan kehamilan Jesica benar atau tidak, hari ini ia membawa Jesica pergi periksa ke Rumah Sakit.
Mendengar detak jantung janin yang ada di perut Jesica membuatnya bergetar. Rasa kecewa setelah mengetahui Aisyah tak ingin memiliki anak darinya telah terobati.
Ia tidak menyangka akan menjadi seorang ayah terlepas siapa ibu nya dan bagaimana masalalunya.
Karena itu pula ketika melihat Aisyah mendorong Jesica membuatnya tanpa sadar mendorong Aisyah. Niat awal untuk membicarakan tentang kehamilan Jesica menjadi urung justru menyakiti istrinya.
Sudah berulang kali ia menghubungi ponsel Aisyah dan kedua pengawal itu. Namun, agaknya mereka tak ingin menjawabnya.
❤️
__ADS_1