
"Mi.. Apa papi dulu begitu?" tanya Aisyah seraya memejamkan mata merasakan pijatan dan gesekan koin di tubuhnya.
Setelah Aisyah mengatakan apa yang dirasakan nya pada Malvyn, seperti biasa mereka akan menikmati pagi yang cukup dingin, berbeda sekali dengan cuaca di ibukota.
Selesai berperang di atas ranjang dan membersihkan diri, Malvyn membuka iPad karena harus bekerja walau sedang pulang ke kampung halaman sang istri.
Sementara Aisyah yang tidak ingin mengganggu Malvyn, ia mendatangi mami Adzilla dan minta dipijit sekalian kerokan koin di punggung nya karena merasa tidak enak badan.
PLAK
Mami Adzilla menimpuk punggung Aisyah mendengar pertanyaan sang anak. "Kamu ini nanya nya ada-ada saja," cebik beliau.
"Mami, ih! Ais tanya serius. Suami Ais itu tenaga nya gak habis-habis. Heran Ais," curahan hati nya kepada sang mami.
Mami Adzilla hanya menggeleng mendengar apa yang diceritakan sang anak. "Ya tentu gak habis-habis, Ais. Wong badan suami kamu gede begitu," celetuk beliau membuat Aisyah terkekeh.
Aisyah menghentikan ucapan nya mengenai suaminya karena ada Sania yang baru saja masuk ke dalam kamar sang mami. Rasanya tidak rela bagian pribadi suaminya diceritakan di hadapan gadis lain.
"Di Lapangan ada pasar malam. Kapan kita nonton kesana?" tanya Sania. Walau ia mengagumi suami adiknya, jauh dalam lubuk hatinya sangat menyayangi Aisyah.
Aisyah baru saja selesai mengenakan pakaian kembali. Wajahnya terlihat antusias mendengar apa yang baru saja diucapkan Sania.
"Gimana kalau malam Minggu?" tanya nya girang dan disetujui oleh Sania.
*
*
"Boleh ya, suamiku?" bujuk Aisyah sedari pagi hingga sore kepada Malvyn namun tidak juga diizinkan oleh suaminya itu.
"Besok malam saja, ya. Malam ini aku sedang banyak pekerjaan, besok malam kamu boleh naik apapun sepuas kamu!" bujuk Malvyn berharap Aisyah mengerti. Malam ini ia benar-benar sangat sibuk dan harus segera menyelesaikan pekerjaan malam ini juga sendirian karena Mario sedang patah hati ditinggal pergi oleh Malya.
"Gimana kalau aku pergi berdua saja dengan kak Sania?" tanya nya tidak ingin mengerti Malvyn. Bukan ingin melawan, ia juga tidak ingin Malvyn ikut dan akan menjadi pusat perhatian disana.
Rencana ingin mengerjai Malvyn ketika sampai di kampung halaman diurungkan karena tak rela suaminya di peluk-peluk wanita lain persis saat di Pasar.
__ADS_1
Malvyn menatap Aisyah pias. Rasa khawatirnya tidak dipikirkan oleh Aisyah. "Jam 9 harus sudah pulang atau aku akan menghancurkan tempat itu," ancamnya tegas membuat Aisyah mematung beberapa saat.
Malvyn menarik Aisyah hingga duduk kepangkuan nya lalu melabuhkan kecupan lembut dibibir istrinya itu. "Kamu dengar? jam 9 malam harus sampai di rumah atau aku akan menghancurkan tempat itu rata seperti tanah," bisik nya dan diangguki dengan cepat oleh Aisyah.
Aisyah bangkit berjalan menuju lemari pakaian nya dan itu tak luput dari pengawasan Malvyn.
"Jangan coba-coba sentuh dres dan daster itu, Ais."
Aisyah mencebik kemudian mengambil set baju olah raga berwarna hitam. "Aku pakai ini puas?" sewot nya dan diacungi jempol oleh Malvyn.
Malvyn kembali serius pada pekerjaan nya tanpa memerhatikan Aisyah yang sedang berganti pakaian tidak jauh dari tempat duduknya. "Ambil uang nya yang lebih, sayang. Jangan terlalu hemat," kata Malvyn saat Aisyah membuka laci nakas hendak membuka dompet miliknya.
Aisyah terkekeh kemudian mengambil 5 lembar uang pecahan seratus ribuan lalu dimasukkan ke dalam tas selempang nya.
"Ponsel jangan lupa dibawa dan selalu aktifkan agar aku tahu kamu dimana," ucap Malvyn seperti memperingati anaknya hendak pergi berkencan.
"Iya-iya," sahut Aisyah mulai merasa jengah.
"Kemarilah," titah Malvyn memberi isyarat menggunakan tangan nya agar Aisyah mendekat dan duduk di pangkuan nya.
Malvyn mencebik bibir menerima penolakan dari Aisyah. Rasanya masih merasa kesal jika istrinya menolak panggilan nya. "Kemarilah atau kamu gak jadi pergi, nyonya muda Abraham!"
Aisyah mencebik dan menuruti apa yang dititahkan Malvyn agar diperbolehkan pergi tanpa pengawasan dari suaminya itu.
Ingin rasanya Aisyah merutuki dirinya karena selalu saja tidak dapat menyembunyikan kegugupan jika sudah berada dekat dengan Malvyn.
Degub jantung nya semakin bertalu-talu mana kala Malvyn mendekap erat tubuhnya. Matanya terpejam ketika kepalanya disandarkan di dada bidang suaminya itu.
Degub jantung nya sama denganku. Apa Malvyn juga gugup?
"Apa badan kamu sudah enakan, sayang?" tanya Malvyn lembut karena tahu Aisyah kurang sehat sejak pagi tadi.
"Sudah mendingan. Tadi sudah di pijat mami," ungkap Aisyah jujur.
"Nanti malam aku pijatin, ya?" tawar Malvyn langsung di tolak Aisyah mentah-mentah.
__ADS_1
"No!! Bahaya kalau aku minta pijat kamu, Vyn. Aku enggak mau kejadian di Mansion terjadi lagi," tolak Aisyah membuat Malvyn tertawa.
Hal itu karena Aisyah pernah minta pijat oleh Malvyn dan yang terjadi adalah pria itu akan memancing gaiirah nya sehingga kembali terjadi penyatuan yang sangat nikmat.
"Tapi setelah itu kamu langsung sembuh, kan?" tanya Malvyn mengingat setelah penyatuan, tubuh Aisyah kembali bugar keesokan hari nya.
Aisyah hanya mencebik tanpa menjawab pertanyaan itu, ia pun mengecup kedua pipi Malvyn. "Aku pergi ya. Aku akan selalu aktifin ponsel dan akan mengabarkan satu jam sekali," ungkap Aisyah ingin segera pergi karena waktu nya bermain terbatas.
Malvyn mengecup pipi Aisyah dan mengangguk. "Hati-hati. Jangan ngebut," lagi-lagi ia memperingatkan istrinya itu.
"Oke. Bye suamiku.."
Aisyah keluar dari kamar dan Sania sudah menunggu di teras rumah. Keduanya juga sudah berpamitan dengan kedua orang tua mereka.
Aisyah dan Sania menaiki sepeda motor matic dan tak lupa memakai helm. Untuk sesaat keduanya kembali hangat seperti sebelum Aisyah menikah.
"Kamu mau naik yang mana saja, dek?" tanya Sania karena dari dahulu keduanya suka naik wahana pasar malam.
"Aku mau naik kora-kora, ombak banyu, tong setan, biang lala, dan rumah hantu. Ayo kak!" Aisyah menarik Sania ke arah loket penjual tiket kora-kora.
Tidak ada yang aneh selama mereka menikmati wahana pasar malam. Baik Aisyah maupun Sania sangat menikmati kebersamaan mereka.
Aisyah tersenyum bahagia menatap bangunan di depan nya. Yaitu rumah hantu yang akan menjadi wahana terakhir yang akan mereka kunjungi malam ini.
"Ayo kak!" ajak Aisyah menarik tangan Sania agar segera masuk ke rumah hantu tersebut.
Sama seperti para wanita lain ketika masuk ke rumah hantu dan akan ditakuti hantu palsu disana.
"Aisyah,," pekik Sania saat mereka terpisah.
Sania sangat khawatir apalagi ketika mendengar sesuatu terjatuh dan jeritan yang tak asing baginya langsung berlari.
Betapa terkejutnya Sania melihat Aisyah sudah dikerumuni banyak pengunjung. "Ais..," matanya menangkap sesuatu disana.
Darah!
__ADS_1