Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 119


__ADS_3

"Aku bingung harus pilih yang mana lagi, semua ini terlalu menggemaskan." cicit Aisyah menatap barang-barang kebutuhan untuk calon anaknya.


Jerolin melihat Aisyah seperti itu menjadi tersenyum. Keluhan pinggang sakit, bawaan badan selalu gerah, jika sudah kebanyakan berjalan lalu duduk dan hendak bangkit lagi maka bokong nya terasa sangat sakit. Ngilu seperti ditusuk jarum.


"Kita beli semua saja, Ais." Jerolin berusaha memberi masukan kepada Aisyah.


Kedua tangan Aisyah bergerak tanda tidak setuju. "Jangan. Nanti sayang, kebanyak gak dipakai karena bayi cepat besar nya." Aisyah ingat tetangga di kampung ketika hamil membeli pakaian bayi dalam jumlah sedikit.


Pakaian bayi yang di pilihnya saja masih satu lusin masing-masing sesuai model. Bukan hanya pakaian bayi. Celana, pakaian, dalaman, topi, popok, kaos kaki, dan sepatu sudah lebih dari cukup. Bak mandi bayi, keperluan mandi, dan selambu kecil juga sudah di beli nya. Beruntung ada supermarket Asia disini. Jika tidak, pasti sangat sulit mendapat barang-barang yang mudah di dapati di Tanah Air.


Ah, Aisyah lupa jika tabungan nya tidak sebanyak itu. Ia pun tak lagi melihat-lihat pakaian bayi yang di gantungkan itu.


"Sudah selesai?" tanya Jerolin yang setia berdiri di belakang Aisyah melihat ibu hamil itu mengembalikan baju-baju yang dipilih sebelumnya.

__ADS_1


"Aku harus banyak nabung, om. Anak kamu ini bukan orang kaya," kelakar Aisyah membuat Jerolin mencekal pergelangan tangan nya ketika hendak berjalan ke kasir guna membayar semua biaya yang telah di belanjakan.


"Pilih sesuka hati kamu atau aku akan membeli toko dan seisinya untuk calon bayi kitabitu. Ingat! aku papi nya," terang Jerolin tegas membuat Aisyah mendelik lucu.


"Pemaksa."


Jerolin hanya terkekeh dan kembali berjalan di belakang Aisyah yang terus bergerak kesana-kemari memilih pakaian bayi dan anak itu.


Puas berbelanja, keduanya berjalan menuju kasir. Tidak ada pegangan tangan atau rangkulan. Keduanya masih sungkan melakukan itu dan tak memiliki hubungan yang serius.


"Ck. Kenapa kamu ngeyel banget, sih. Biar aku saja yang bayar. Uang tabungan kamu di simpan untuk keperluan kalian nanti. Sudah jangan membantah lagi," terang Jerolin menggunakan bahasa Indonesia.


Penjaga toko melihat mereka menjadi tersenyum karena perdebatan dengan bahasa asing bagi mereka itu terlihat lucu.

__ADS_1


Lagi-lagi Aisyah hanya bisa pasrah yang terus memaksa tetapi ia tak masalah karena tabungannya tidak akan berkurang.


Setelah usai membayar belanjaan Jerolin dan Aisyah kembali ke apartemen dengan membawa dua makanan untuk mereka makan karena sudah telat waktu makan siang.


Mengapa makan di apartemen bukannya di restoran? itu karena Aisyuah sudah mengeluh punggungnya terasa sakit akibat kebanyakan bergerak.


Sesampainya di Apartemen, Aisyah mempersilahkan Jerolin masuk dan ia melangkahkan kaki menuju dapur menyiapkan makan siang mereka dan salad buah.


Di tengah makan nya bersama Jerolin, Aisyah membuka ponsel dan tak sengaja membaca artikel itu. Ia pun memaksakan senyum dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian menatap Jerolin yang selama in begitu baik padanya. Pria siaga yang selalu menjaganya. Teringat permintaan pria itu membuat nya menarik nafas dalam-dalam.


Permintaan yang sangat sulit untuk dikabulkan.

__ADS_1


Aku bebas, Ais.


__ADS_2