
"Apa aku boleh memeluk perut kamu, Ais?" tanya Jerolin pelan takut Aisyah tersinggung atas permintaan nya.
Aisyah yang tengah menikmati es krim langsung menoleh menatap Jerolin. Keduanya baru saja memeriksa kandungan dan jalan-jalan keliling taman kota. Sesuai perkataan Dokter bahwa Aisyah harus banyak mengkonsumsi makanan sehat agar berat badan sang bayi bertambah.
Aisyah mengangguk dengan senyuman. "Boleh. Tapi benar peluk, ya? Jangan modus," terang nya kepada Jerolin membuat pria itu terkekeh.
"Aku serius, Jero!" kata Aisyah cemberut.
"Iya." Jerolin bersimpuh di hadapan Aisyah dan perlahan mendekatkan wajah nya pada perut Aisyah yang membuncit. Di elus pelan perut itu dan keduanya saling menatap ketika janin di dalam perut buncit itu bergerak-gerak aktif.
"Lihat, Mom. Dia pasti merasa terganggu tidur nya karena aku membangunkan nya," pekik Jerolin menggunakan bahasa Inggris sehingga orang-orang yang berada di tempat itu menoleh ke arah nya.
Aisyah tertawa melihat kehebohan Jerolin seraya meringis merasakan gerakan calon anak nya itu sudah sangat kuat. Semenjak hamil, Aisyah mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Pantaslah mendiang mami Adzilla selalu berharap dan berdoa agar kedua anak perempuan nya selalu di dampingi suami ketika sedang hamil. Ternyata seperti ini, ia sering kesulitan untuk bangkit karena bawaan hamil yang sering sakit di pinggang dan bokong.
"Hai, boy. Jangan nakal-nakal, kasihan Mommy. Jangan kuat-kuat tendang nya, ya. Mommy pasti kesakitan kalau kamu begitu," bisik Jerolin di samping perut buncit Aisyah ketika mendengar ringisan dari kekasihnya itu.
__ADS_1
Jerolin sendiri setiap bertemu dengan Aisyah selalu meminta izin agar dapat bercerita di depan perut buncit itu. Tekadnya sudah bulat, setelah Aisyah melahirkan, ia akan benar-benar berhenti dari dunia hitam itu.
"Aku gak apa-apa, kok. Aku sangat menikmati prosesnya. Jangan khawatir," terang Aisyah tersenyum dan membiarkan Jerolin bercerita, memeluk, dan mencium perutnya.
Bagi Aisyah, ini akan terjadi atas dirinya mengambil keputusan untuk menerima Jerolin. Ia tahu pria ini besar di negara bebas. Tapi, selama ini Jerolin belum pernah meminta izin untuk menciumnya selain perut buncitnya.
"Kamu pengen apa, Ais?" tanya Jerolin sudah kembali duduk di sebelah Aisyah.
"Pengen tidur tengkurap," jawab Aisyah enteng. Sebab memang benar, selama hamil ia sangat menginginkan tidur tengkurap.
Aisyah menggeleng cepat.
"Ayo kita, pulang. Hari mulai malam," kata Jerolin dan di setujui oleh Aisyah.
Dengan setia Jerolin menggenggam tangan Aisyah dan membantu ibu hamil itu berdiri. Jika mereka yang melihat pasti akan dinilai sebagai pasangan serasi dan suami yang sangat mencintai istrinya.
__ADS_1
"Capek?" tanya Jerolin khawatir pada Aisyah karena berjalan sangan pelan dan berkeringat.
"Bokongku sakit," cicit Aisyah membuat Jerolin panik.
Jerolin langsung menggendong Aisyah ala bridal style menuju mobilnya.
Melihat sang bos tampak khawatir, Nick yang sedang berada di grobak es krim anak buah nya langsung gegas menyusul. Benar, Jerolin selalu memerintahkan anak buah nya menjadi penyamar jualan apa saja yang diinginkan Aisyah.
"Kita pulang saja," bisik Aisyah menahan nyeri di bokong nya. Meremas lengan Jerolin kuat demi tersalurkan rasa sakit itu.
Jerolin menunduk menatap Aisyah dengan seksama. "Tapi kamu kesakitan, Ais."
Aisyah tersenyum menanggapi nya.
"Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir."
__ADS_1