
Setelah menabrak bahu Jesica, Aisyah tampak banyak diam. Dan itu tak luput dari perhatian Malvyn, Gio, dan Meta.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Gio lembut membuat Aisyah menatap Gio dan Meta bergantian.
Aisyah memaksa senyum demi tak dicurigai oleh kedua teman nya. "Nggak kok. Tenang saja," jawabnya kemudian memakan steak yang di pesan nya.
Beruntung semenjak Aisyah bertengkar dengan pramuniaga kala itu membuat tumbuhnya semangat untuk belajar makan ala orang kaya. Beruntung ada kedua pengawal dan bibi Lala yang bersedia menjadi guru nya.
"Kamu tahu nggak, siapa pria bersama wanita yang kamu tabrak tadi?" tanya Meta berbisik karena duduk di sebelah Aisyah, sedangkan Gio duduk dihadapan mereka.
Aisyah yang sebenarnya penasaran tetapi hatinya masih terasa sakit hanya dapat menggeleng saja.
"Dia itu Malvyn Carlson Abraham ahli waris dari Abraham Group. Bukan hanya punya banyak Hotel tapi juga makanan ringan. Kamu tahu outlet-outlet Raja Pisang yang banyak di pinggir jalan?"
Aisyah berpikir keras dan memang banyak ia jumpai outlet-outlet dengan spanduk Raja Pisang. Apalagi daerah tempat tinggalnya di Medan.
"Ya, aku pernah nampak."
"Nah, itu milik keluarga Abraham yang tak lain sudah di wariskan untuk Malvyn. Pria itu," bisik Meta membuat mata Aisyah membulat.
Tapi seketika keterkejutan itu padam dan tak ada rasa bangga sama sekali. Mungkin karena dia kaya, gak ingin mengakui kalau sudah punya istri miskin kayak aku.
Aisyah beranggapan seperti itu dan mengingat awal pertemuan hingga berakhir dalam pernikahan rahasia ini.
Tanpa memikirkan bagaimana Malvyn sekarang, Aisyah mengajak Meta dan Gio untuk menonton di bioskop.
"Kamu yakin, kita nonton film horor?" tanya Meta ketika mereka sudah berada di depan pintu masuk.
Aisyah menatap Gio dan Meta secara bergantian. "Iya. Aku pingin yang menguji adrenalin. Ayo kita masuk," jawab nya sekaligus menarik tangan Gio dan Meta bersamaan masuk ke dalam Bioskop.
Film pun dimulai dan mulai menampakkan keseraman yang tersaji di dalam alur film tersebut.
Disaat para penonton berteriak histeris karena kaget ataupun ketakutan, Aisyah justru menangis dengan menahan suara agar tidak terdengar oleh yang lain.
__ADS_1
Gio memerhatikan Aisyah yang tengah menangis. Seketika kekhawatiran itupun datang dalam dirinya.
"Kamu kenapa?" tanya Gio panik.
Tatapan mereka bertemu dan Aisyah segera menunduk disertai gelengan. Permintaan untuk menonton film horor hanya untuk tempat ia leluasa menangis tanpa harus memberi penjelasan kepada mereka.
Gio memeluk Aisyah dan semakin membuat tangisan itu semakin pecah. "Kamu takut? apa kita keluar saja?" tanyanya beruntun tetapi Aisyah tetap menggeleng.
"Di-sini saja," kata Aisyah dengan bibir bergetar.
Gio mengangguk dan mengelus pundak Aisyah. Ia berharap pelukan nya dapat menenangkan gadis itu dari rasa takut karena film horor yang mereka tonton.
Meta juga merasa iba dan tak menyangka bila Aisyah akan setakut itu.
Beberapa waktu berlalu. Mereka telah usai menonton dan Aisyah masih dirangkul oleh Gio dan sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu sudah baikan?" tanya Gio masih merasa khawatir dengan keadaan Aisyah.
Aisyah memaksakan senyum. "Sudah. Makasih, kak!" ungkapnya tulus.
"Anda tidak apa-apa?" tanya John lebih khawatir dan di angguki oleh Aisyah.
"Maafin saya, pak. Saya tidak tahu kalau Ais takut nonton film horor sampai menangis di dalam," kata Gio merasa bertanggung jawab atas apa yang dialami Aisyah. Padahal, Aisyah yang mengajak mereka menonton film horor.
John diam dengan satu alis keatas. Tetapi, Johan yang paham langsung mengangguk. "Terimakasih telah menjaga Ais. Kami pamit, sudah waktunya untuk pulang."
John dan Johan mengajak Aisyah segera pulang tanpa adanya protes. Sepanjang jalan, di dalam mobil juga tampak diam saja karena merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi siang tadi.
"Apa yang anda lihat, tidak seperti apa yang sebenarnya, Nyonya. Tuan muda terpaksa melakukan itu," terang John melihat nyonya muda nya hanya diam membisu menatap gemerlap malam di ibu kota itu.
Aisyah memejamkan mata seraya helaan nafas terdengar kasar. "Aku tahu posisiku, pak. Tolong jangan bahas apapun dan jangan ganggu aku sampai besok. Aku ingin sendiri. Aku sedang kecewa, termasuk pada kalian!" ucap nya tanpa ingin menatap kedua pengawalnya itu. Sesekali mengusap pipi yang terasa basah akibat air matanya yang mengalir.
John dan Johan hanya dapat pasrah atas apa yang diucapkan Aisyah. Ada rasa sesal dan bersalah karena menyembunyikan kebenaran, tetapi mereka bisa apa yang hanya berprofesi sebagai bawahan.
__ADS_1
Sesampainya di Apartemen, Aisyah melihat Malvyn duduk disana.
Malvyn terlihat berantakan dan tampak frustasi. Pria itu bangkit setelah melihat Aisyah baru saja masuk.
"Sayang?!" panggil Malvyn membuat langkah Aisyah berhenti sejenak.
Tetapi beberapa saat kemudian, Aisyah kembali melanjutkan langkahnya dan diikuyi Malvyn.
"Dengarkan dulu penjelasan ku, Ais. Kamu salah paham," kata Malvyn semakin memelas. Ia pun merasa sakit saat tidak mengakui Aisyah di depan khalayak terutama di depan Jesica.
Aisyah balik badan menghadap Malvyn. Ia mengangguk-angguk mengerti. "Iya aku salah paham. Aku salah karena pernah berharap kalau kita bisa bertemu dan saling sapa saat di luar. Aku lupa kalau aku hanya istri rahasia, ahh bukan-bukan. Teman ranjang lebih tepatnya," sarkas Aisyah kemudian masuk ke dalam kamar mengambil bantal dan selimut kemudian keluar dari kamar mereka yang masih diikuti Malvyn terus mengucapkan kata maaf.
"Katakan berapa lama aku menjadi teman ranjang mu untuk melunasi kaca mobil mu yang aku pecahkan. Setelah itu aku gak akan mengganggu mu lagi," ucap Aisyah kemudian menutup pintu kamar dengan kasar.
BRAK
"Sayang... Kamu salah paham," kata Malvyn seraya mengetuk pintu kamar berulang kali tetapi tidak ada jawaban dari dalam sana.
"Aarrgghh...," erang Malvyn mengacak rambutnya.
Tubuhnya luruh bersandar pada pintu kamar itu. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Aisyah di luar hari ini.
Malvyn terpaksa menuruti permintaan Jesica untuk menemani makan siang bersama karena sudah lama tidak pergi bersama.
Ingin rasanya jujur, tetapi mengetahui Aisyah belum ingat siapa dirinya akan membuat kesehatan istrinya itu terganggu.
Malvyn tidak ingin hal itu.
Di dalam kamar, Aisyah juga sedang duduk memeluk kedua kaki, bersandar di daun pintu. Ia tidak tahu hatinya sakit karena kejadian siang tadi atau karena sikapnya yang begini telah menyakiti Malvyn.
Kamu tega buat aku begini, ternyata sangat sakit. Papi.. Mami.. Ais pingin pulang.
Malam itu, sepasang suami istri itu kembali bertengkar. Istri yang masih sangat muda tentu sulit menerima apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
❤️
BERSAMBUNG...