
Sepanjang hari berada di Kantor Malvyn terus saja tersenyum. Bahkan para pegawai Kantor nya merasa heran dan sedikit horor atas kelakuan Malvyn yang berbeda.
Karena mereka tidak pernah melihat Malvyn tersenyum begitu walau sedang bersama Jesica sekalipun.
Begitupun Mario sedari tadi duduk di hadapan Malvyn tampak sesekali melirik dan memerhatikan Tuan muda nya itu sangat berbeda.
Bahkan Mario bergidik ngerih. "Berhentilah senyum-senyum begitu! kau nampak menyeramkan," gerundel Mario hingga membuat Malvyn melirik tajam.
"Jangan seolah kau hidup dengan benar, Rio!" sentak Malvyn kemudian bangkit meninggalkan Mario sendiri di ruang kerjanya.
Sepertinya hubungan mereka belum juga baik-baik saja. Semua itu bermula karena Malvyn merasa kecewa terhadap Mario yang telah menyembunyikan sesuatu berakibat fatal.
Mario hanya dapat menghela nafas berat mendapati sikap Malvyn masih marah kepadanya diluar pekerjaan.
Malvyn sudah berada di depan gerbang kampus Aisyah. Ia juga sudah menghubungi Johan dan memberitahukan bila Aisyah tidak lama lagi akan selesai berkuliah.
Lagi-lagi Malvyn tersenyum mengingat ucapan Aisyah pagi tadi.
"*Aku ingin punya anak."
Malvyn terkejut, beruntung pisau yang dipegangnya tidak memotong salah satu jemari nya. Ia meletakkan pisau kemudian mendekati Aisyah.
"Boleh aku mendengar ucapan kamu barusan, sekali lagi?" tanya Malvyn ingin memastikan sekali lagi. Hatinya sudah berbunga tetapi tetap saja tidak ingin terjatuh lebih dalam.
Aisyah tersenyum melihat betapa antusiasnya Malvyn setelah mendengar ucapan nya. Lalu? tega kah ia mencabut ucapan nya jika sudah begini?
"Aku ingin punya anak, suamiku. Biar ada teman nya kalau kamu kerja, pulang juga malam-malam."
__ADS_1
"Sayang, istriku!" belum selesai Malvyn melanjutkan ucapan nya, senyuman nya melebar melihat pipi Aisyah bersemu merah karena ucapan nya sebelumnya.
"Kamu kenapa?" tanya Malvyn lagi tetapi Aisyah menggeleng.
"Kenapa kamu ingin punya anak? kalau hanya karena ucapan mami Adzilla kemarin, lebih baik di tunda sampai kamu benar-benar siap, sayang. Aku gak akan maksa," lanjut Malvyn lagi.
Aisyah memberanikan diri menatap Malvyn kemudian menggeleng pelan. "Bukan karena mami. Tapi aku merasa ingin membuatmu selalu bahagia saat bersamaku, apa kamu juga begitu?"
Malvyn mengangguk cepat. "Tentu, sayang." Ia langsung memeluk Aisyah dan memberi kecupan-kecupan di pucuk kepala sang istri.
"Jadi, kapan kita buat anaknya?" tanya Aisyah polos membuat Malvyn tergelak lagi.
"Nanti malam," bisik Malvyn kemudian memberi kecupan ditelinga Aisyah yang menjalarkan rasa geli*.
*
*
"Nyonya muda kita terlalu polos dan banyak tanya," keluh John kepada Johan yang sedang menyesap kopi nya.
John dan Johan sedang berada di Kantin Kampus seraya menunggu waktu habis pelajaran sang nyonya muda.
"Wajar! Nyonya muda masih 18 tahun, sementara tuan muda 27 tahun sebentar lagi 28 tahun. Di tambah lagi gak pernah pacaran," terang Johan yang memahami nyonya muda mereka.
"Aku juga tahu kalau itu, Johan. Tapi masalahnya, pertanyaan nya sangat sensitif untuk ditanyakan kepada pria dewasa seperti kita!" kelakar John langsung mendapat timpukan di kepala dari Johan.
Sekali lagi John mendapat timpukan dari Johan dikepalanya. "Sakit, woy."
__ADS_1
"Jangan coba-coba pedang mu itu bangun. Kalau mau pedang mu itu di rebus tuan Malvyn," ancam Johan membuat John menutup pedang nya yang terbungkus celana dengan kedua tangan. Kepalanya menggeleng cepat begitu sadar bila sang tuan tidak pernah main-main dalam berucap.
"Iya aku janji gak akan bangun," John bergidik ngerih saat bayangan pedang nya di rebus.
*
*
"Ais. Minggu depan ada acara, gak?" tanya Gio saat Aisyah tengah bermain ponsel.
Aisyah menoleh ke arah Gio. "Belum tahu, kak. Memangnya ada apa?"
Gio menjadi salah tingkah karena sangat gugup ditatap secara intens oleh Aisyah. "Kakak mau ajak kamu jalan-jalan. Bukan kita berdua kok. Aku ajak Meta juga," tuturnya takut bila Aisyah akan dimarahi orang tua gadis itu karena jalan hanya berdua.
Aisyah tersenyum disertai anggukan. "Tapi bawa pak John dan pak Johan, ya."
Ingin rasanya Gio melompat girang karena Aisyah menerima ajakan nya. Walau belum terlalu dekat, ia ingin Aisyah merasakan perhatian nya sangat tulus.
"Meta kemana, ya?" tanya Aisyah celingukan mencari sahabatnya.
"Dia sedang membeli cemilan dan memanggil kedua pengawal kamu."
Aisyah hanya mengangguk saja kemudian menatap layar ponsel nya dan melanjutkan membaca novel online yang belum selesai dibacanya.
Aisyah membaca novel berjudul Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA dengan penulisnya memiliki nama pena Windii Riya FinoLa.
Mengapa ia membaca ini? itu karena kisahnya hampir sama dengan apa yang terjadi padanya.
__ADS_1