Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 95


__ADS_3

Semenjak kepergian Aisyah, Malvyn tak lagi bersemangat menjalani harinya. Tidak ada lagi yang membuatnya ingin segera pulang. Tidak ada lagi yang membuat ulah saat dirinya masih bekerja.


Rambut nya sudah acak-acakan akibat dirinya. Kerinduan dan penyesalan telah menggerogoti Malvyn. Jejak Aisyah tidak ditemukan, yakin bila kedua pengawal itu yang menyembunyikan.


Jesica sudah kembali dari Rumah Sakit, dirawat sebelumnya selama dua hari. Wanita itu menempati kamar tamu di apartemen nya. Membawa ke kamar nya tempo hari karena kepanikan dan ketidaksengajaan pula.


*


*


Di apartemen Malvyn, Jesica baru saja membersihkan diri dan keluar dari kamar. Wanita itu tak menyangka bisa tinggal satu atap dengan pujaan hatinya. Mengingat dahulu selalu dirinya yang mendatangi, jika tidak maka tidak akan bertemu.


Ia menatap daun pintu kamar Malvyn yang tertutup rapat. Pandangan nya mengedar melihat pelayan yang selalu berada disana. Dilihat tidak ada, ia memberanikan diri masuk ke dalam kamar Malvyn.


Setelah kembali dari Rumah Sakit, Malvyn melarangnya untuk masuk ke dalam kamar utama.


Jesica membuka kamar utama tersebut. Dilihat begitu mewah dan lebih nyaman. Senyuman miring terukir memikirkan Aisyah telah berhasil disingkirkan dan tak akan lama lagi dirinya lah yang akan menjadi istri Malvyn.


Elusan diperut ratanya terasa nyaman. Ia beruntung berhasil merayu Malvyn malam itu dan sekarang telah hamil.


Mata nya teralih melihat walk in closet, kakinya pun melangkah ke arah ruang tersebut. Lemari kaca yang besar dan menampakkan barang-barang mewah disana.


Decakan terdengar nyaring ketika matanya melihat barang-barang wanita yang mewah. "Kau gak pantas memakai barang mewah seperti ini, gadis kampung." Cela Jesica lalu dirinya mendekati lemari pakaian wanita.


Di ambil satu persatu pakaian Aisyah lalu dijatuhkan ke lantai lalu di injaknya menggunakan sendal yang dipakainya. "Aku gak akan mau melihat apapun yang berhubungan denganmu, gadis kampung. Kamu sudah merebut Malvyn ku. Dan sekarang gak akan aku izin kan lagi," hardik nya kepada pakaian-pakaian yang diinjaknya seakan itu Aisyah.


Setelah pakaian Aisyah sudah berserakan di lantai, matanya tak sengaja melihat sebuah kotak berukuran sedang. Rasa penasaran membuatnya mengambil kotak tersebut.


Dibuka dan dilihat isi dalam kotak tersebut. Matanya terbelalak melihat alat tes kehamilan dan sebuah foto USG. "Jadi dia hamil juga?"


"Gak akan aku biarkan," gumamnya seraya meremas foto tersebut.


Jesica keluar dari kamar Malvyn masih membawa kotak berukuran sedang itu. Dilihat pelayan yang diketahui namanya ialah Lala, ia pun mendekat. "Bereskan dan buang pakaian wanita itu. Ini juga kamu buang. Jangan sampai calon suamiku tahu," kata Jesica berang dan memberikan kotak tersebut dengan kasar ke tangan Lala kemudian ia keluar dari apartemen.


*

__ADS_1


*


Bi Lala melihat kepergian Jesica dengan wajah datar. Sikap wanita itu sangat berbanding terbalik dengan Aisyah yang selalu sopan dan memperlakukan dirinya sebagai orang tua meski masih kekanak-kanakan.


Mengingat Aisyah, membuat bibi Lala sedih. Bahkan Malvyn tidak mengatakan apapun. Padahal ketika Aisyah akan menempati Apartemen ini, Malvyn begitu antusias mempersiapkan kedatangan gadis itu. Bahkan ia sangat direpotkan harus membersihkan apartemen ini berulang kali.


Bibi Lala meletakkan kotak berukuran sedang itu ke atas meja lalu masuk ke dalam kamar Malvyn dan mengambil benda-benda milik Aisyah yang telah diberantaki oleh Jesica.


Hati bibi Lala merasa sakit melihat barang Aisyah berserakan. Ia pun segera membawa barang-barang tersebut dan mencuci pakaian itu lalu akan di simpan nya.


Setelah selesai, Bi Lala mengambil kotak yang tadi diberikan oleh Jesica di atas meja. Di bawanya bersama sampah lain nya dari dapur.


Sudah menjadi kebiasaan bibi Lala membawa sampah itu sendiri ke bagian pembuangan sampah Apartemen tersebut yang letaknya di belakang gedung.


Ketika ditempat pembuangan sampah, bibi Lala meletakkan kantung sampah bersarna hitam itu disana. Kemudian melempar kotak yang dipegang nya. Dahinya berkerut melihat benda-benda yang tercecer keluar dari kotak.


Karena penasaran, Bibi Lala mengambil kotak dan isinya kembali. Dilihat alat tes kehamilan dan foto USG. "Apa ini punya nyonya Ais?" seketika ia menutup mulutnya karena syok.


Dirogoh kantung baju nya dan menghubungi seseorang agar bertemu siang nanti.


*


*


"Maaf saya terlambat datang, pak!" Ucap bibi Lala tampak terburu-buru disertai menaruh kotak tadi di atas meja.


"Kami juga tidak bisa lama karena nyonya muda sedang tidur, La. Ada perlu apa? apa kamu diperintahkan tuan untuk mencari tahu tentang nyonya?" tanya John menatap curiga bibi Lala.


Bibi Lala menggerakkan kedua telapak tangan. "Tidak, pak. Saya tidak akan memberi tahu tuan dimana nyonya berada. Justru saya ingin memberitahukan ini," kata wanita itu menggeserkan kotak tadi dihadapan John dan Johan.


John dan Johan saling pandang karena tahu kotak itu milik Aisyah. "Dari mana kamu dapat kotak ini?"


"Nona Jesica menyuruhku membuang kotak ini dan mengatakan jangan sampai tuan muda tahu," jawab Bibi Lala sekaligus menceritakan apa saja yang telah diperbuat oleh Jesica.


John dan Johan menjadi geram.

__ADS_1


"Baiklah. Kami akan menjaga nyonya muda. Kamu segeralah kembali," kata John dan diangguki oleh Bibi Lala.


*


*


Sudah dua Minggu Aisyah di rawat tanpa ada yang tahu selain dua pengawal dan pelayan apartemen. Ia juga sudah diperbolehkan untuk jalan sendiri, tidak melulu di atas tempat tidur.


John juga sudah mengatur keberangkatan Aisyah ke suatu tempat sesuai permintaan wanita itu. Namun, sebelum pergi Aisyah harus kesuatu tempat.


Aisyah menatap nanar selembar kertas ditangannya. Sekuat tenaga tidak mengeluarkan air matanya walau sangat sulit. Matanya sudah menganak sungai membuatnya memasukkan kembali selembar kertas tersebut ke dalam amplop cokelat.


"Kita akan baik-baik saja," gumamnya dalam hati sembari mengelus perutnya yang masih rata.


Kejadian dua Minggu lalu membuatnya tersadar dan membenci Malvyn. Apalagi pria itu lah yang hampir membunuh anak mereka.


"Bukan. Ini hanya anak ku," tangan Aisyah terkepal mengingat Malvyn mendorong nya hingga terjatuh.


Aisyah menatap pagar Mansion menjulang tinggi dan tak berapa lama terbuka. Mobil mereka memasuki pelataran Mansion yang begitu luas dan asri. Di usap air matanya dengan kasar setelah mobil yang dinaikinya telah berhenti.


"Aku turun sebentar, pak. Kalian tunggu disini saja. Aku gak akan lama," kata Aisyah dan disetujui oleh John dan Johan.


Aisyah keluar dari mobil dan menghela nafas sesaat lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam Mansion. Senyuman nya terbit melihat keluarga dari Malvyn berada disana. Hanya Malvyn yang tak ada, yakin bila pria itu berada di Apartemen bersama Jesica.


"Ais. Kamu datang, nak!" kata Oma Nadira ketika Aisyah masih berdiri diambang pintu.


Aisyah mengangguk di sertai senyuman. Ia melangkah mendekati keluarga harmonis tersebut.


"Malvyn kemana, nak? kenapa sendiri?" tanya mami Ivy membawa Aisyah duduk disebelah nya.


Aisyah menggigit bibir bawahnya karena sangat sulit menyembunyikan kesedihan nya.


"Oma.. Mami.. Ais kesini ingin menitipkan ini kepada kalian untuk Malvyn. Maafin Ais gak bisa meneruskan pernikahan ini. Ais gak sanggup harus berbagi suami dengan wanita lain."


❤️

__ADS_1


__ADS_2