Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 63


__ADS_3

"Papi...!!" pekik Aisyah melihat papi Askar sedang menunggu di parkiran Stasiun Kereta Api.


Aisyah dapat melihat penampilan papi Askar tampak lebih elegan dari biasanya. Ia dapat melihat yang dikenakan papi Askar bukan lah barang-barang murah seperti biasa keadaan mereka yang sederhana.


Berlari menuju kearah papi Askar dan berhambur dalam pelukan. Senyuman yang terus terpancar indah di wajah Aisyah dapat dilihat papi Askar bila putri kecilnya baik-baik saja bersama pria bule yang sudah berdiri di hadapan nya.


"Sepertinya kamu bertambah gemuk," celetuk papi Askar membuat Aisyah mengurai pelukan dengan memasang wajah cemberut.


Aisyah langsung menoleh ke belakang menatap Malvyn. "Apa aku gemuk, Vyn?"


Malvyn hanya menggeleng saja dan itu membuat Aisyah tersenyum senang. Ketiganya masuk ke dalam mobil pemberian Malvyn kalau itu.


Malvyn lah yang mengendarai mobil tersebut dan membiarkan ayah dan anak saling melepas rindu.


Sebenarnya, sedari tadi Malvyn merasakan gugup hendak bertemu papi Askar. Bertemu untuk ke dua kali setelah sekian lama tidak bertemu dan dalam keadaan yang berbeda.


"Gimana kuliah kamu, Ais?" tanya papi Askar kepada Aisyah.


"Kuliah Ais lancar dan ada kemajuan dengan nilainya," bukan Aisyah yang menjawab melainkan Malvyn langsung mendapat tatapan sengit oleh papi Askar melalui kaca spion tengah yang terdapat dalam mobil tersebut.


"Saya tidak bertanya kepada anda," sungut papi Askar membuat Malvyn menelan saliva nya.


Untuk pertama kali Malvyn merasa ragu dan takut berhadapan dengan orang lain selain opa Qenan. Bahkan papi Edzard masih dapat ditangani nya.


Aisyah melihat keadaan yang kurang kondusif membuatnya meringis. Benar dugaan nya bila papi Askar belum menerima Malvyn.


"Pi, yang dikatakan suami Ais itu benar. Kenapa papi marah?" tanya Aisyah namun papi Askar memalingkan wajah.


Bagaimanapun seorang ayah akan mengalami rasa cemburu ketika sang anak membela pria lain dihadapan nya. Walau ia tahu jika yang dibela anaknya itu adalah bergelar suami.


Apalagi mendengar Aisyah menyebut pria itu dengan sebutan 'suamiku' yang dapat diartikan secara tidak langsung anaknya memberitahukan hubungan mereka baik-baik saja.


Sebagai seorang ayah tentu saja papi Askar menjadi lebih tenang. Tetapi tetap saja ia merasa cemburu.


"Papi kenapa?" tanya Aisyah merasa khawatir bila papi Askar akan marah kepada Malvyn.


Entahlah. Aisyah merasa sangat takut jika papi Askar tidak menyukai Malvyn. Bahkan sampai kini belum dapat mengartikan perasaan nya kepada suaminya itu.


Yang pasti, Aisyah selalu merasa nyaman dan terlindungi bila selalu berada di dekat Malvyn.


"Enggak apa-apa."


Aisyah menghela nafas panjang tanpa menjawab lagi karena tidak ingin ada keributan di dalam mobil.


Sementara Malvyn sedang konsentrasi menyetir karena medan jalan yang mereka lewati tidak seperti saat berada di kota.


Kalau tahu begini, aku akan mengajak Mario. Ah, pasti dia sedang bersama istrinya. Sial!! ini sangat melelahkan sekali.


Apalagi Malvyn belum tidur selama perjalanan karena begitu menikmati memandang wajah dan kenyamanan ketika Aisyah tidur dalam dekapan nya.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai dan di sambut hangat oleh mami Adzilla. Sania juga berada disana sedang menatap wajah tampan Malvyn.


Aisyah masih berdiri terpaku di samping mobil memandangi rumah nya yang telah di renovasi. Rumah yang dahulunya sangat sederhana yang dibeli papi Askar setelah menikahi mami Adzilla sekarang berubah menjadi rumah yang sangat besar bila dibandingkan rumah-rumah yang ada di kampungnya.


Bahkan rumah orang tuanya jauh lebih besar daripada rumah Kepala Desa.


"Apa kamu suka?" bisik Malvyn membuat Aisyah menoleh kearahnya.


Aisyah mengerti setelah mendengar pertanyaan Malvyn, bahwa pria disamping nya inilah dalang dari perubahan rumah orang tuanya.


"Makasih, suamiku!" katanya sembari menampilkan senyuman indahnya.


Malvyn hanya diam menatap Aisyah dengan tatapan penuh cinta. Selama menikahi Aisyah, Malvyn selalu mengirim uang bulanan untuk mertua nya itu. Ia tidak tega melihat papi Askar masih saja berjualan burger dan kebab.


Awalnya memang papi Askar selalu menolak atas apa yang diberikan nya namun seakan tidak kehabisan akal, Malvyn memerintahkan anak buah nya untuk segera merenovasi rumah dan memindahkan keluarga mertua nya itu ke rumah yang sudah di sewanya selama pembangunan.


"Vyn," cicitnya saat menyadari bila suaminya melamun sembari menatapnya.


Malvyn tersenyum kemudian mengecup dahi Aisyah yang langsung terpejam merasakan ketenangan disetiap perlakuan suaminya ini.


"Berterimakasih lah seperti biasa, sayang." Bisik Malvyn membuat Aisyah mencebik.


Demi menghindari Malvyn yang sudah berubah menjadi suami mesum nya, Aisyah mendekati mami Adzilla yang sudah menunggu nya di teras rumah.

__ADS_1


Aisyah terkekeh geli karena mami Adzilla mencium wajah nya gemas. "Geli, mi!" kekehnya membuat Malvyn tersenyum.


"Mami rindu," ucap mami Adzilla memeluk Aisyah.


Berbeda dengan ibu dan anak yang sedang melepas rindu. Sania sedari tadi memerhatikan gerak-gerik pria yang masih dikaguminya hingga kini. Apa yang ada pada Malvyn tak luput dari pandangan Sania. Gadis itu begitu mengagumi suami adiknya. Pria yang menjadi cinta pertama nya.


Aisyah sudah berdiri di hadapan Sania. Namun agaknya kakak nya itu belum menyadari karena masih fokus memandangi wajah Malvyn yang berdiri di belakang Aisyah.


Aisyah mencebik melihat Sania sedang memandang suaminya. Ia pun menoleh ke belakang melihat Malvyn sedang melihat ke arah nya.


Syukurlah, gumam Aisyah dalam hati merasa tenang karena Malvyn tidak memandang sang kakak.


Aisyah pun menepuk lengan Aisyah pelan. "Jangan dipandangi terus, kak. Dia suamiku loh!" kelakar nya membuat Sania terperanjat dan malu sekaligus.


Sania memeluk Aisyah. Mau bagaimanapun ia sangat menyayangi sang adik. Hanya saja tidak dapat mengendalikan diri ketika melihat Malvyn.


Bahkan setelah mendengar Aisyah dan Malvyn akan berkunjung, Sania rela menghabiskan uang untuk ke salon agar terlihat cantik di hadapan Malvyn.


"Gimana kabar kamu?" tanya Sania kepada Aisyah.


"Aku baik dan bahagia, kak."


"Sudah ngobrolnya di dalam saja," tutur mami Adzilla karena di depan rumah nya mulai ramai anak-anak seperti menonton sesuatu karena menantu bule nya datang berkunjung.


Aisyah meraih tangan Malvyn lalu menggenggam nya. Ia sangat tahu bila suaminya itu kelelahan.


Malvyn sendiri sangat senang karena Aisyah berinisiatif untuk menggenggam tangan nya lebih dulu.


Berbeda dengan pasangan suami istri itu, Sania cemburu melihat kerukunan mereka. Padahal saat menikah keduanya tidak menunjukkan kemesraan seperti ini.


"Bawalah suami kamu istirahat, Ais. Kamu juga istirahat," titah mami Adzilla dan diangguki oleh Aisyah.


"Bawa adikmu ke kamar barunya, Sania!" kata mami Adzilla.


Sania mengantarkan Aisyah dan Malvyn ke kamar yang sudah dibuat khusus untuk pasangan suami istri itu.


Sania sedikit iri karena kamar Aisyah jauh lebih luas daripada kamarnya. Tetapi mencoba mengerti karena rumah ini yang merenovasi adalah Malvyn.


Malvyn tidak ingin mandi diluar kamar lagi seperti saat acara lamaran dan pernikahan.


"Ini kamar kalian," kata Sania menatap Malvyn, bukan Aisyah.


Aisyah yang melihat itu hanya dapat memendam rasa cemburu nya. Ia tidak suka suaminya dipandangi seperti itu.


"Hem," kata Aisyah langsung menarik Malvyn agar segera masuk ke dalam kamar disertai koper yang sedari tadi di bawa Malvyn.


"Kamu kenapa?" tanya Malvyn menahan senyum melihat Aisyah yang cemberut.


"Enggak apa-apa," jawab Aisyah cemberut.


Malvyn menaruh koper mereka di sudut kamar kemudian mendekati Aisyah sedang duduk di tepi tempat tidur seraya memandangi seisi kamar.


"Ka-kamu mau apa, Vyn?" tanya Aisyah panik melihat Malvyn sedang membuka jaket, kaos, dan menyisakan celana saja.


Aisyah juga dapat melihat pancaran gairah dari tatapan Malvyn padanya. "V-vyn," katanya lagi.


"Berterimakasih lah dengan benar, sayang. Aku menagihnya," ungkapnya menekan gairah nya karena ingin melumpuhkan pertahanan Aisyah lebih dahulu.


Aisyah merangkak naik ke atas ranjang dan mundur setiap kali Malvyn mencoba mengikis jarak diantara mereka.


"Ki-kita harus istirahat, Vyn." Tampaknya Aisyah masih mencoba mempertahankan kewarasan saat Malvyn sudah mengecup setiap jengkal kaki nya.


Malvyn tidak kehabisan akal saat Aisyah mencoba menolak ketika hendak dicium. Seperti saat ini, Malvyn memulai penyerangan dari kaki Aisyah.


Walau Aisyah menolak, tidak ada kekasaran disana sehingga Malvyn tidak tersulut emosi.


Suara lenguhan berasal dari mulut Aisyah terdengar merdu di telinga Malvyn. Suara itulah yang ditunggunya yang dapat mengartikan jika istrinya telah terpengaruh atas sentuhan nya.


Malvyn selalu dapat membangkitkan gaiirah Aisyah walau hanya sekedar sentuhan-sentuhan kecil darinya. Usia yang terpaut jauh tentu saja membuat keahlian kedua nya berbeda.


Tetapi, Malvyn begitu puas atas yang diberikan oleh Aisyah. Apalagi ketika pusaka keturunan Amerika miliknya sudah berada dalam rumah pemiliknya.


Kedutaan-kedutaan seakan memijat miliknya yang perkasa. Bahkan ia tak dapat menahan diri bila sudah menyatu.

__ADS_1


Malvyn dengan cepat membungkam Aisyah menahan jeritan dengan sentuhan hangat dari bibirnya yang lembab. Tatapan keduanya bertemu kemudian memejam menikmati deburan ombak menyejukkan dahaga.


Kedua tubuh yang polos itu tampak mengkilap dan licin karena sudah berkeringat di atas tempat tidur. Rasa perih dipunggung Malvyn yang tercipta dari hasil tancapan kuku Aisyah sebagai tanda bahwa ia sangat menikmati permainan yang tercipta. Keduanya begitu menikmati siang panas penuh kobaran api disana.


Diluar kamar papi Askar dan mami Adzilla yang mendengar suara luknut dari dalam kamar Aisyah langsung pergi menuju dapur dan Sania masuk ke dalam kamar.


Saat merasakan puncak kenikmatan akan segera sampai, Malvyn mempercepat pacuan nya dan sesekali membungkam bibir Aisyah saat suara luknut itu mulai terdengar nyaring.


Kedua suara syahdu beradu ketika merasakan pelepasan bersamaan. Aisyah memejamkan mata disertai senyuman kala merasakan begitu hangatnya cairan masa depan yang memenuhi rahim nya.


Malvyn belum melepas penyatuan karena masih menikmati pemandangan yang selalu disukainya setelah mereka mencapai puncak kenikmatan.


Ya, Malvyn menyukai ekspresi Aisyah setelah pelepasan. Mata terpejam dengan senyuman tipis, anak rambut menutupi dahi yang sudah basah berpelu keringat.


Kecantikan Aisyah bertambah ketika dalam keadaan seperti ini.


Sial! Kau sangat mudah terbangun," gerutu Malvyn dalam hati saat merasakan miliknya nya kembali bangun.


Aisyah sendiri merasakan miliknya kembali penuh di dalam sana. Tetapi ia heran mengapa Malvyn melepaskan penyatuan mereka.


Aisyah juga melihat milik Malvyn sudah berdiri tegak. Ia pun duduk dan mendekati Malvyn yang tengah duduk di tepi ranjang.


"Kenapa gak diteruskan?" bisik Aisyah menyandarkan dada polosnya ke punggung Malvyn.


Apa yang dilakukan Aisyah membuat kobaran keinginan menyentuh sang istri semakin membara. "Aku gak mau kamu capek, Ais." Malvyn mengatakan sejujurnya.


Aisyah memegang kedua bahu Malvyn agar kearahnya. Memberanikan diri untuk bermain di bibir Malvyn walau masih terasa sangat kaku.


Malvyn merasa terkejut atas keberanian Aisyah bahkan lebih terkejut ketika istrinya itu berani duduk di pangkuan nya atas inisiatif sendiri.


"Sayang," cicit Malvyn tak dapat menahan diri, namun tetap melawan ego karena tak ingin Aisyah kelelahan akibat ulahnya.


Kedua pasang mata mereka bertemu dan saling menatap penuh gaiirah. "Aku yang akan bekerja," bisik Aisyah tepat ditelinga Malvyn membuat semakin ingin melakukan lebih.


Walau masih terasa kaku, Aisyah tidak menyerah untuk mempraktekkan apa yang pernah dilihatnya dalam video edukasi cara menyenangkan suami.


Hal itu dilakukan karena usulan dari Oma Nadira dan mami Ivy agar Malvyn akan ketagihan dengan tubuhnya.


Jangan tanyakan bagaimana malu nya Aisyah saat ini, tetapi demi menjadi istri yang dapat menyenangkan suami, Aisyah rela melakukan nya.


Usulan ini juga agar Malvyn tidak mengingat Jesica lagi.


Malvyn berbaring, menengadahkan kepala dengan mata terpejam menikmati setiap gerakan yang dilakukan Aisyah diatas tubuhnya.


Ia tidak menyangka Aisyah melakukan ini dan membuatnya semakin menggila. Tangan nya tak tinggal diam untuk tidak menikmati dua aset yang menggantung bak buah pepaya di hadapan nya.


Tangan nya lincah menjajahi setiap jengkal diberikan nya semakin membuat suara Aisyah kian merdu di telinga Malvyn.


Malvyn mengubah posisi menjadi duduk bersandar pada headboard dan membantu Aisyah meliuk-liuk di pangkuan nya.


PLAK


Aisyah melotot mana kala bokong nya mendapat timpukan dari Malvyn. "Vyn," katanya terdengar seperti desahaan.


"Aku gemas," katanya kemudian merebahkan tubuh Aisyah tanpa melepas penyatuan. Di hentak kuat dan cepat karena pelepasan akan menghampiri lagi.


"Makasih sayang," kata Malvyn setelah mengecup dahi dan menikmati bibir Aisyah sekilas.


Malvyn ambruk di samping tubuh Aisyah dengan nafas yang tersengal. Malvyn terpejam menikmati sisa percintaan begitu juga Aisyah.


Aisyah merasa enggan menatap Malvyn karena merasa malu atas kelakuan nya yang nakal barusan.


Berbeda dengan Malvyn yang begitu senang di layani sangat baik oleh Aisyah. Inilah yang diinginkan nya, Aisyah cukup melayani setiap fantasi liarnya saja dan dapat mendamaikan hati nya agar tetap merasa tenang.


Tidak harus melulu tentang menyediakan makan dan minum seperti istri pada umumnya karena dirinya sendiri bisa memasak ataupun memesan melalui aplikasi.


Malvyn merubah posisi miring ke arah Aisyah lalu di peluk istrinya itu. "Makasih untuk kebahagiaan ini, sayang. Aku suka kenakalan kamu," bisiknya membuat Aisyah membuka mata lelu menyembunyikan wajah pada dada bidang Malvyn karena sangat malu.


Akhirnya keduanya tertidur dalam keadaan yang sama polosnya.


❤️


Dari tadi di tolak Mulu 🤭

__ADS_1


__ADS_2