Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 61


__ADS_3

Kurang lebih 5 hari pasangan suami istri itu di rawat dan mereka sudah diperbolehkan pulang hari ini. Mereka sudah bersiap dan juga sudah di jemput mami Ivy.


Aisyah sendirian masih tampak canggung bila berada di dekat mami Ivy karena diakuinya, wanita paruh baya ini terlihat tegas walau tanpa menyembunyikan kelembutan nya.


"Kita makan siang di Mansion. Semua sudah berkumpul disana. Kamu jangan takut, ya. Jangan sungkan," kata mami Ivy yang dibalas hanya anggukan oleh Aisyah.


Malvyn merangkul lengan Aisyah dan meminta agar kepalanya bersandar pada dadanya. "Jangan sungkan, oke! keluarga ku baik."


Sesampainya di Mansion sudah terlihat sangat ramai. Aisyah sangat bersyukur disambut hangat oleh keluarga Malvyn.


"Jangan ganggu istriku. Dia harus istirahat," kata Malvyn saat mengetahui Calista hendak mengajak Aisyah berkumpul bersama saudara nya yang lain.


"Dasar suami posesif. Sana deh," gerutu Calista kemudian ia mendekati suaminya sedang menemani anak nya yang sudah berusia 10 tahun, Jerolin Rodriguez.


Malvyn mengajak Aisyah untuk masuk ke dalam lift menuju lantai tiga dimana kamarnya berada.


Aisyah sendiri merasa gugup berhadapan dengan keluarga besar suaminya dan juga benar-benar merasa orang kampung berada di Mansion bak istana raja.


Malvyn yang tak tahan melihat kecemasan wajah Aisyah langsung menyerang Aisyah dengan serangan bertubi-tubi menggunakan bibirnya yang terus memperdalam ciuman.


"Eungh..," lenguhan terdengar saat serangan Malvyn turun ke leher.


Pintu lift terbuka membuat Malvyn terpaksa menghentikan nya. Inilah yang disuka nya, Aisyah begitu penurut jika dirinya sudah menginginkan istrinya itu.


"Suamiku.. Disini masih ramai, nanti kalau kedengeran gimana?" tanya Aisyah panik merasa takut bila suara luknut nya akan terdengar hingga ke lantai dasar.


Malvyn tertawa mendengarnya seraya menggendong Aisyah ala bridal style, berjalan menuju kamar pribadinya. Dengan perlahan merebahkan tubuh sang istri lalu membuka kaos dan celana nya. Membiarkan celana dalaam masih menutupi aset berharganya.


"Kamar kamu bagus, Vyn. Sangat besar, kayak lapangan bola di kampung ku," ungkap Aisyah tidak menyadari bila Malvyn sudah hampir polos karena memerhatikan sekeliling kamar Malvyn yang sangat mewah baginya.


Malvyn merangkak naik dan mengukung tubuh Aisyah hingga istrinya itu terkejut. Ia merapikan anak rambut sang istri dengan lembut.


Aisyah memejamkan mata merasakan kelembutan dan hembusan nafas Malvyn yang terasa hangat di pipinya.


"Aku merindukanmu," bisiknya dan terjadilah peperangan yang saling memuaskan dahaga yang sudah tertahan hampir dua Minggu.


*

__ADS_1


*


"Malya.. Pinjam satu dres mu untuk istriku," kata Malvyn ketika sudah berada di ruang tamu lantai dasar dimana keluarganya berkumpul.


Semua orang menoleh ke sumber suara dan menjadi mengerti makna dari kalimat yang terucap dari mulut Malvyn.


Malya segera bangkit dan berjalan mendahului Malvyn menuju kamar nya. Di dalam kamar, Malya langsung menuju ruang ganti memilihkan dres yang menurutnya cocok untuk kakak iparnya.


Malya menyerahkan sebuah dres rumahan berwarna hijau tosca kepada Malvyn.


"Aku dengar, kak Leon akan menikah!" kata Malvyn mendapat kabar saat masih di rawat.


Malya menatap Malvyn menipiskan bibir disertai anggukan. "Aku sudah dengar. Kak Leon sendiri yang kabari aku, Vyn."


Malvyn menghela nafas panjang. Dipeluk saudari kembarnya itu sejenak. "Jangan berpura-pura kuat. Carilah kebahagiaanmu, pilih lah negara mana yang akan menjadi dunia baru mu. Kamu gak akan bisa lupain Mario kalau setiap hari bertemu dengan nya," tutur Malvyn membuat tatapan saudara kembar itu bertemu.


Mata Malya berkaca-kaca mendengar nya. Rasanya begitu sulit untuk menerima takdir yang di berikan emak author eh salah! diberikan Tuhan untuknya.


"Jangan menangis. Aku akan melindungimu. Sekarang, turunlah dan hapus air matamu!" titah Malvyn kemudian keluar kamar itu lebih dulu menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Malvyn melihat Aisyah sedang menyisir rambut dan mengenakan handuk dengan wajah yang cemberut.


"Dasar mesum," katanya lalu menerima dres yang diberikan Malvyn.


Sebenarnya pakaian Aisyah sudah tersedia disana. Tetapi bagi Malvyn itu terlalu ketat dan menonjolkan bagian tubuh Aisyah yang dapat menarik perhatian pria lain.


Alasan itulah Malvyn meminjam dres Malya karena yakin akan kebesaran di tubuh Aisyah yang notabane nya tubuh istrinya lebih kecil.


Malvyn mendekati Aisyah yang tengah mengenakan dres di hadapan nya. "Sudah gak malu-malu lagi, sekarang?" bisiknya membuat Aisyah mencebik bibir.


"Terpaksa dan sudah sah juga," sungutnya lalu menarik tangan Malvyn agar segera keluar dari kamar. Jika tidak, akan ada suara-suara luknut terulang kembali.


Setiba di ruang makan, Aisyah kembali merasa canggung karena keluarga Malvyn sudah berkumpul dan menunggu kedatangan mereka.


"Maaf Ais lama," kata Aisyah benar-benar gugup.


Mami Ivy tersenyum. "Jangan khawatir. Ayo kita mulai makan nya," katanya lalu mulai melayani papi Edzard.

__ADS_1


Aisyah melihat para istri melayani suaminya. Seketika ia menelan saliva dengan kasar. Selama menikah dengan Malvyn, dirinya lah yang dilayani bukan sebaliknya.


Malvyn yang mengerti dengan kebingungan Aisyah langsung menggenggam dan mengelus punggung tangan Aisyah dengan ibu jari seraya mengangguk pelan setelah tatapan keduanya bertemu.


Perlahan Aisyah mengikuti apa yang dilakukan para istri disana. "Cukup?" tanyanya dan diangguki oleh Malvyn membuatnya tersenyum.


Setelah para suami sudah terlayani, para istri mengambilkan makan untuk anak masing-masing dan untuk diri sendiri.


"Ais.. Untuk permintaan maaf kami yang nggak datang saat pernikahan kalian, Opa memberikan tiket bulan madu untuk kalian ke Maldives bulan depan," kata opa Qenan membuat semua orang berdecak kagum.


Aisyah hanya diam saja menatap opa Qenan dan pria tua itu mengerti. "Apa kamu menginginkan sesuatu?"


"O-opa.. Ais rindu papi dan mami. Bolehkah Ais pulang?" tanya Aisyah pelan tetapi membuat Malvyn panik.


"Kamu gak niat ninggalin aku kan?" tanya Malvyn panik tanpa bisa ditutupinya.


Aisyah hanya diam justru membuat Malvyn semakin takut.


"Aku ikut!!"


*


*


Gio menghela nafas panjang berulang kali berharap sesak di dada nya berkurang karena memikirkan kenyataan yang di terima nya.


Ia tak menyangka bila Aisyah telah menikah dan lebih parahnya ialah menikah dengan pria dewasa serta bukan orang sembarangan.


"Lina.. Baru saja aku menemukan gadis yang mirip denganmu, ternyata dia istri orang!" gumamnya mengingat cinta pertamanya yang telah meninggal dunia dua tahun lalu karena kecelakaan.


Gio menghela nafas lagi. "Haruskah aku menjadi pelindung Ais karena suaminya punya wanita lain?"


"Siapa yang gak mengenal Malvyn dan Jesica yang digadang-gadang sebagai pasangan paling serasi disetiap tahun nya?"


"Lina... Hatiku merasa gak rela kalau Ais diperlakukan gak adil," katanya lagi.


Matahari yang mulai terbenam di ufuk Barat terlihat indah dapat mengurangi sedikit patah hatinya.

__ADS_1


❤️


Like, komen, gift, dan rate 5 ya gaess..


__ADS_2