Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 54


__ADS_3

Aisyah merasa bersyukur karena malam ini bertemu Gio di tempat acara opa Qenan karena dapat mengalihkan kesedihan hatinya.


Aisyah juga diajak Gio untuk berkenalan dengan ayah pemuda itu. Malam ini ia mengetahui fakta bila Gio anak semata wayang dari keluarga Hasan Pratama.


Ibu Gio sudah lama meninggal kecelakaan bersama kedua orang tua Meta. Karena itulah Meta dibesarkan oleh ayah Hasan. Tetapi semenjak kuliah, gadis itu tinggal di apartemen sendiri.


"Ais. Kita duduk disana, yuk!" ajak Gio menunjuk sebuah kursi panjang terbuat dari bahan kayu berada di bawah pohon rindang.


Aisyah tersenyum kemudian pandangan nya mencari Malvyn berada dan ternyata masih bersama Jesica. Ia menarik nafas dan mencoba terus tersenyum walau dipaksakan disertai anggukan.


"Kamu datang sendiri?" tanya Gio setelah mereka sudah duduk bersebelahan. Sampai sekarang ia masih penasaran siapa orang tua Aisyah hingga sampai dikawal dua orang sekaligus.


Aisyah menatap Gio sekilas. "Ya," jawabnya singkat, berusaha menekan rasa sakitnya karena pertanyaan Gio menjurus kesakitan nya malam ini.


"Kedua pengawal kamu kemana?" tanya Gio yang selalu menciptakan obrolan diantara keduanya.


Aisyah terkekeh mendengar pertanyaan itu. Ia pun membayangkan sedang apa kedua pengawalnya itu saat ini.


Gio seakan mengerti melihat dan mendengar kekehan Aisyah. "Kamu kabur lagi?"tanyanya dan diangguki Aisyah dengan cepat.


Gio ikut tertawa dan menepuk-nepuk pucuk kepala Aisyah. "Kenapa kamu sangat menggemaskan, Ais?" tanyanya membuat Aisyah tertawa.


"Kalau begini terus, aku semakin suka padamu." Ucap Gio membuat tawa Aisyah berhenti seketika.


Aisyah menatap Gio lekat lalu menggeleng lemah. "Jangan sukai aku lebih dari teman, kak. Kakak nggak tahu keadaanku sebenarnya," ingin sekali mengutarakan apa yang dirasakan nya.


Aisyah butuh tempat untuk bercerita sekarang ini. Tetapi kepada siapa?


Siapa yang akan mempercayai nya?


Bukankah selama ini pasangan Malvyn dan Jesica digadang-gadang merupakan pasangan serasi dan saling mencintai karena sudah berhubungan 10 tahun lamanya.


Gio tersenyum miris mendengar jawaban Aisyah yang menolaknya. Ia memberanikan diri menggenggam kedua tangan gadis itu.


Aisyah sendiri tampak terkejut namun sungkan bila melepaskan nya.


"Kamu takut dimarahin papi kamu? kakak akan berusaha untuk meyakinkan papi kamu saat bertemu," ungkap Gio membuat Aisyah mematung.


Rasanya sangat sulit membohongi orang-orang baik disekitarnya. Tetapi Aisyah bisa apa?

__ADS_1


"Ta-tapi kak,-.."


Gio menggeleng. "Gak perlu dijawab, Ais. Kamu hanya perlu menerima perlakuanku. Aku akan berusaha membuatmu menyukaiku lebih dari seorang teman ataupun kakak," kata Gio lagi membuat Aisyah memaksakan senyum.


"Kak.. Aku ke kamar mandi sebentar, ya." Aisyah bangkit dan melangkah dengan cepat menuju kamar mandi yang berada di belakang panti asuhan.


Gio yang khawatir juga mengikuti Aisyah. Bukan maksud jahat, ia benar-benar khawatir karena letak kamar mandi itu di belakang.


*


*


Melihat suaminya bersama wanita lain di acara keluarga mertuanya dan menerima pernyataan cinta seorang pemuda, sungguh membuat dada Aisyah sesak.


Rasanya tak sanggup menjalani dua profesi berbeda. Hatinya tak sekuat itu menanggung semua ini.


Aisyah yang masih belia seakan terbebani dan merasa terpenjara oleh takdir yang memaksa. Ingin rasanya pergi dari kehidupan Malvyn dan kembali pulang kampung agar kehidupan nya tentram seperti kehidupan nya sebelum ke Jakarta.


Tetapi, apa yang harus ia katakan kepada orang tua dan kedua kakak nya?


Aisyah segera mencuci tangan dan muka karena telah menangis di dalam kamar mandi. Berulang kali pula menghela nafas agar meresahkan sesak di dada nya.


Setelah tenang, Aisyah keluar dari kamar mandi dan berencana untuk pamit ke keluarga suaminya pulang lebih awal.


Langkahnya memelan saat mendengar suara seorang wanita dari area kamar mandi khusus pria.


"Aku akan buktikan kalau kamu gak akan bisa menolakku," desis seorang wanita.


Aisyah melotot saat mendengar itu. Ia pun memutar badan ingin mengintip siapa yang sedang mesum di kamar mandi pria.


Aisyah terperanjat ketika mengetahui pelaku mesum di kamar mandi pria itu adalah Malvyn dan Jesica.


Ia tak sanggup melihat itu langsung berbalik dan bersandar pada dinding pembatas tepat dibalik dinding itu Malvyn dan Jesica sedang bercumbu.


Nafas Aisyah memburu, dadanya terasa sesak, air matanya telah membanjiri pipi nya. Tangan nya menepuk-nepuk dada nya perlahan karena tak sanggup menahan sakit hatinya.


Ia tak menyangka Malvyn tega menduakan nya. Ucapan dan janji akan mengakhiri hubungan nya dengan Jesica hanya ucapan belaka.


Kepercayaan nya telah patah.

__ADS_1


Aisyah mengusap air matanya dengan kasar. Cengkraman pada tali tas selempang nya semakin erat. Ia memberanikan diri melihat adegan mesum itu lagi.


"Kalau berbuat mesum itu di Hotel. Jangan di tempat umum," kata Aisyah menekan rasa sakitnya.


Malvyn dan Jesica tampak terkejut dan sama-sama menoleh ke arah Aisyah.


Posisi Malvyn yang bersandar di dinding segera mendorong Jesica begitu saja melihat Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ck. Anak kecil, tahu apa kamu? sana pergi," usir Jesica dan diangguki oleh Aisyah.


Aisyah segera berlari dengan derai air mata. Impian seorang wanita ketika sedang marah ataupun sedih akan dikejar dan ditenangkan oleh pria yang dicintainya hanya angan-angan.


Ini bukan sinetron,Ais. Ini bukan drama yang sering kamu tonton. Ini kenyataan yang tak pernah kamu inginkan!!


"Ais.. Kamu kenapa?" tanya Gio yang memang menunggunya sejak tadi dan langsung khawatir melihat Aisyah berlari juga menangis.


Aisyah berhenti dan menatap Gio sejenak. Tanpa berpikir panjang, Aisyah memeluk pemuda itu begitu erat dan menangis hingga membuat kemeja Gio basah karena ulahnya.


"Kamu kenapa? apa ada yang jahat sama kamu di dalam?" tanya ya sekhawatir itu kepada Aisyah.


Aisyah menggeleng. Dihatinya masih berharap Malvyn mengejarnya, namun sekian lama menangis berada dalam pelukan Gio, suaminya itu tak kunjung datang.


"Ba-bawa aku pergi," cicitnya membuat gio melonggarkan pelukan.


"Kamu mau pulang?" tanya Gio dan Aisyah menggeleng.


"Bawa aku pergi, kak. Ku mohon," mohon Asiyah membuat gio merasa bingung.


"Tapi gimana dengan papi kamu?" Gio tak ingin terlihat menjadi pria berengsek yang telah membawa anak gadis orang.


"Jangan pikirkan itu. Papi ku ada di Medan, kak. Tolong bawa aku pergi dari sini," hati Aisyah begitu sakit diperlakukan seperti ini kepada Malvyn.


Gio merangkul Aisyah menuju mobilnya. Di dalam mobil, pemuda itu memberikan jaket nya agar dipakai Aisyah.


"Terimakasih, kak."


Gio mengangguk kemudian melajukan mobil menuju suatu tempat. Sementara Aisyah memejamkan matanya dengan air mata yang masih menetes seolah menandakan hatinya benar-benar sangat sakit sekali.


Aku sakit, Vyn!

__ADS_1


__ADS_2