
Malvyn masuk ke dalam kamar mereka. Melihat di dalam ruangan itu tidak mendapati Aisyah membuatnya panik. Ia pun bergegas menuju kamar mandi tetapi tidak ada juga tanda-tanda seseorang disana.
Ia semakin panik dan mencoba mencari kembali ke dalam walk in closet. Matanya terbelalak melihat Aisyah duduk di pojokan ruangan dengan memeluk kedua lutut disertai kepalanya bersembunyi diantara nya.
"Sayang.. Kamu ngapain disini?" tanya Malvyn ikut berjongkok di depan Aisyah.
Aisyah menggeleng dan masih tetap menyembunyikan wajah nya. Ia sangat takut akan di rudung kembali. Sepertinya, istri Malvyn itu trauma dengan apa yang telah dialami.
"A-aku enggak mau kuliah," kata Aisyah terbata-bata. Tubuhnya tampak gemetar dan berkeringat dingin.
Hal itu semakin membuat Malvyn merasa khawatir. Di gendong tubuh mungil Aisyah dan dibawa ke atas tempat tidur.
Ia pun merangkak naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Aisyah. "Jangan takut.. Besok malam kita akan pergi, oke."
Malvyn benar-benar menenangkan Aisyah hingga terlelap. Ada rasa lega melihat istrinya itu tidur pulas dengan damai begini.
"Maafkan aku.. Cintaku menyakiti hidupmu," gumam Malvyn merasa bersalah atas apa yang telah terjadi kepada Aisyah.
__ADS_1
*
*
"Aku takut keluar," tolak Aisyah lirih saat Malvyn memintanya bersiap agar ikut ke Kantor hari ini.
Malvyn ragu meninggalkan Aisyah sendiri di rumah. Ia harus memastikan sendiri keselamatan istrinya karena tak ingin kejadian yang lalu-lalu.
Malvyn mendekati Aisyah dan bersimpuh dihadapan istrinya itu yang sedang duduk di tepi tempat tidur. "Ikut, ya. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja. Enggak akan ada yang berani merudung kamu lagi," kata Malvyn menengadah menatap wajah Aisyah.
"Suamiku... Emang boleh ke kantor pakai baju olahraga begini?" tanya Aisyah melihat pakaian olahraga sekaligus sepatu dan kaus kaki nya.
Malvyn sedang mengancingkan kemeja di depan cermin gegas menoleh ke sumber suara. "Enggak apa-apa, sayang. Pakailah," katanya lembut dan masih memerhatikan istrinya berganti pakaian.
Alasan mengapa dipilihkan pakaian olahraga, tentu saja karena Malvyn tidak ingin pria lain melihat kecantikan Aisyah. Rasanya sungguh tidak rela bila istrinya dipandang kagum oleh pria lain.
Malvyn tersenyum melihat Aisyah yang berdiri di kursi rias dihadapan nya. "Kamu belum sisiran sudah memakaikan dasi untukku," kata Malvyn membuat Aisyah tersenyum.
__ADS_1
Malvyn merapatkan tubuhnya dengan tubuh Aisyah kemudian mengecup bibir istrinya. "Jangan pernah meninggalkan aku, Ais."
Tatapan keduanya bertemu dan pada akhirnya kedua bibir mereka saling beradu. Tidak tahu siapa yang lebih dahulu menubruk bibir di hadapan nya.
Setelah merasa pasokan udara di dada menipis, pakaian yang dipakai rapi akhirnya tampak sedikit kusut atas ulah jemari Aisyah.
"Maaf," ucap Aisyah lirih tak enak hati dengan Malvyn.
"Jangan minta maaf. Yang terpenting kamu terus bersama ku sampai akhir. Aku mencintaimu, Ais."
Aisyah memeluk Malvyn erat kemudian segera menyisir rambut dan memoles pelembab kulit ke wajah lalu memberi lipgloss ke bibir.
"Kamu sangat cantik dan terlihat kuat," kata Malvyn membuat pipi Aisyah bersemu merah.
Keduanya sudah sarapan lebih dahulu sebelum bersiap tadi. Sudah beberapa hari ini Aisyah meminta sarapan di kamar saja karena takut bertemu orang lain.
"Maafkan aku, Vyn. Seharusnya aku bisa hadapi masalah ini."
__ADS_1