
Aisyah tersenyum memandangi tetesan hujan yang terkena jendela kaca Kereta Api sepanjang jalan. Jemari lentiknya lincah membentuk tulisan secara acak di jendela kaca tersebut.
Kebahagiaan terlihat jelas dari mimik wajah Aisyah dan disadari Malvyn. Rasa rindu itu kian membuncah dan tak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
Sementara Malvyn merasa gugup walau tidak terlihat dari gerak-gerik ataupun mimik wajah. Padahal jantung nya berdebar kencang karena akan bertemu papi Askar kembali dalam kondisi yang berbeda.
Jelas saja berbeda! Ketika melamar dan menikahi Aisyah, dengan angkuhnya dirinya berhadapan dengan papi Askar. Tetapi sekarang, jika ketahuan istrinya itu maka bisa berabe.
"Kamu ngantuk?" tanya Malvyn ketika memerhatikan Aisyah menguap berulang kali.
Aisyah menoleh ke arah Malvyn lalu mengangguk. Dengan sigap pria itu langsung merengkuh dan membiarkan sang istri bersandar dalam dadanya.
Begitu juga dirinya ikut memejamkan mata untuk sekedar melepas kebosanan berada di Kereta Api selama lebih dari lima jam.
Sebenarnya Malvyn sudah memberi saran agar menggunakan mobil setiba di Medan menuju kampung halaman Aisyah. Namun agaknya, istri dari Malvyn Carlson Abraham tersebut ingin menikmati perjalanan lebih lama lagi.
__ADS_1
Malvyn hanya bisa pasrah karena melihat Aisyah tersenyum dan tampak bahagia jauh lebih penting baginya.
Beberapa saat kemudian Aisyah terbangun karena merasa lapar. "Aku lapar," katanya nyengir hingga menampakkan gigi putih berbaris rapi pada tempatnya.
Malvyn tersenyum seraya mengacak rambut Aisyah karena gemas. Hanya itu yang dapat dilakukan nya karena saat ini berada di tempat umum.
"Sabar ya," kata Malvyn kemudian menoleh kebelakang melihat staf Kereta Api di pintu gerbong, memberi isyarat agar mendekat.
Aisyah melihat staf wanita itu nampak senyum-senyum dan memerhatikan wajah bule Malvyn langsung cemberut. Tetapi, mengingat nasihat Oma Nadira dan mami Ivy membuatnya urung merajuk.
Melihat perlakuan Aisyah yang berbeda, Malvyn memerhatikan arah pandang istrinya itu. Ia pun senang dengan apa yang dilakukan istrinya itu.
Staf Kereta Api seakan mengerti langsung menunduk. "Baik, tuan."
Malvyn tersenyum melihat Aisyah seperti ini. Agaknya Aisyah yang dilihat seperti itu membuatnya melepaskan rangkulan dan berusaha bersikap biasa saja walau dilanda gugup.
__ADS_1
"Apa?" tanya Aisyah tetapi pertanyaan itu membuat Malvyn terkekeh.
Malvyn mengecup dahi Aisyah kemudian menatap istrinya kembali. "Aku suka kamu yang posesif begini," ungkapnya membuat Aisyah mencebik bibir.
"Harus. Aku gak mau ada pelakor diantara kita," terang nya membuat Malvyn menangkup wajahnya.
Malvyn menarik pelan tubuh Aisyah ke dalam pelukan nya. "Maaf, sayang. Aku sungguh menyesali masalalu ku. Andai akan tahu setelah aku menyelamatkan mu kita bertemu bahkan sampai menikah begini pasti aku akan setia menunggumu tumbuh dewasa," terangnya.
Aisyah hanya diam saja dan mencoba mengerti. Sepertinya gadis kecil itu sudah menjadi wanita yang beranjak dewasa dan mengerti keadaan.
"Aku ngerti. Sudah jangan pikirkan, aku lagi mikirin kemana saja kita akan pergi selama di kampung aku," ucap Aisyah girang karena sangat merindukan kampung halaman.
Bayangan dimana Malvyn akan di kerumuni para penduduk pasti sangat menyenangkan baginya. Apalagi melihat wajah Malvyn yang datar dan selalu menatap tajam ke lawan bicara.
Aisyah tersenyum penuh arti dan membuat Malvyn curiga.
__ADS_1
"Apa yang kamur rencanakan, Ais?" tanya Malvyn curiga karena sudah sangat lama istrinya itu tidak membuat ulah.