Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 103


__ADS_3

Sudah empat hari Aisyah di rawat dan siang ini sudah di perbolehkan pulang. Selama itu pula Jerolin terus berada di sisinya membuat Grace juga sungkan.


"Gak usah ikut ke rumah aku, bisa?" tanya Aisyah kesal kepada Jerolin.


Jerolin yang sedang memasukkan pakaian Aisyah ke dalam koper hanya menatap sekilas lalu melakukan hal itu lagi.


Sebenarnya sebelum pria itu yang memasukkan pakaian nya, Aisyah lebih dulu ingin melakukan itu tetapi Jerolin melarang. Ia bertanya seperti ini juga lantaran merasa sungkan kepada Jerolin.


"Enggak bisa, Ais. Aku akan mengantarmu," jawab Jerolin tak merasa sakit hati dengan perlakuan Aisyah kepadanya.


Jerolin sendiri masih merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa Aisyah. Sungguh, sesal dalam diri telah menuruti semua permintaan Jesica sehingga tak menyadari bila kasih sayang nya telah membuat adik angkat nya itu menjadi monster wanita.


"Kamu gak takut sama tuan Jero?" bisik Grace kepada Aisyah yang memang duduk di sebelah teman nya itu.


"Enggak!" jawab Aisyah singkat. Andai Grace tahu jika orang di depan itu adalah orang yang sangat berbahaya.


Grace tak ikut mengantar sampai Apartemen karena harus bekerja. Sehingga hanya Jerolin saja yang mengantar, sepanjang perjalanan Aisyah tak ada membuka suara.


"Aku tahu kesalahan ku banyak, Ais. Kasih aku kesempatan untuk menebus rasa bersalahku," kata Jerolin menoleh ke arah Aisyah.


Aisyah sempat melirik sekilas. Ia memang marah. Tetapi, kepolosan dan kebaikan nya membuat tak tega. Memilih diam saja karena memang tubuhnya masih sangat lemah. Karena bosan, ia memilih memejamkan mata saja.


Jerolin menghela nafas panjang setelah melihat Aisyah memejamkan mata. Ia menggenggam erat setir mobil merasakan kegugupan berada di dekat wanita muda itu. Benar-benar bukan seperti dirinya yang selalu tampak berwibawa dan terkesan kejam.


Sepertinya, pesona Aisyah mampu meruntuhkan yang ada pada diri Jerolin.


Sesampainya di basement Apartemen, Jerolin masih diam saja memandangi Aisyah yang tengah terlelap. Pipi bulat terakhir kali bertemu saat bulan madu sudah tak terlihat karena pipi itu berubah menjadi tirus.


"Aku janji akan membalas penderitaan mu, Ais. Kamu jangan khawatir," gumam nya.


Setelah menunggu cukup lama, Jerolin memberanikan diri menepuk pelan pipi Aisyah.


Aisyah mengerjapkan mata langsung terkejut melihat Jerolin berada di dekatnya. Usai sadar baru dirinya memasang wajah datar lagi. Ia keluar dari mobil diikuti pria itu dengan menarik koper.

__ADS_1


"Biar aku saja yang bawa," terang Jerolin tegas ketika Aisyah hendak merebut koper dari tangan nya.


Aisyah menghela nafas panjang dan memilih berjalan saja meski diikuti terus oleh Jerolin.


"Pelan-pelan, Ais. Kamu sedang hamil," kata Jerolin panik berjalan cepat gegas mencekal tangan Aisyah. Hampir saja pujaan hati nya itu terpeleset karena memang sudah ada papan peringatan lantai sedang basah.


Aisyah masih diam dalam keadaan syok. Hampir saja mencelakai kandungan nya. Nafasnya memburu merasa takut terjadi sesuatu pada anak nya.


"Te-terimakasih," kata Aisyah lirih menatap Jerolin.


Jerolin mengangguk langsung merangkul bahu Aisyah memasuki lift menuju lantai 5 dimana Apartemen tujuan mereka.


***


Jesica menyeringai menatap ponsel nya. Wanita itu baru saja melihat berita online mengenai acara pertunangan mereka kemarin. Banyak yang mengucapkan kata selamat dan turut bahagia atas hubungan dan kehamilan nya.


Ternyata keberuntungan masih berpihak padanya meski cinta Malvyn utuh untuk Aisyah, tetapi keadaan mendukung nya.


Tentu saja banyak yang mendukung nya karena hubungan nya dengan Malvyn sudah sangat lama dan sekarang sedang hamil.


Tangan nya mengelus perut nya yang mulai menonjol. Ia sudah tak sabar menanti ke datangan Malvyn untuk menjenguknya.


Malvyn masuk ke dalam Apartemen membawa sebungkus rujak pesanan Jesica. Wajahnya yang terkesan datar dan dingin, meletakkan bawaan nya di depan Jesica.


"Makasih, honey. Anak kita pasti akan sangat bahagia melihat Daddy nya sangat perhatian," kata Jesica kemudian membuka bungkusan rujak tersebut.


Sementara Malvyn menatap Jesica dengan tatapan datar, pergi ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun.


Di dalam dapur, Bi Lala mengusap air mata nya setelah tadi tak sengaja melihat Malvyn membawa pesanan Jesica sebagaimana wanita itu sedang mengidam. Pikiran nya melayang dimana Aisyah berada jauh dimata hidup sendirian dalam keadaan hamil.


Ingin sekali bibi Lala berhenti dari pekerjaan, tapi John dan Johan meminta untuk tetap berada disini agar dapat mengetahui apa saja rencana Jesica selanjutnya.


Di dalam kamar, Malvyn duduk di sofa dengan tatapan pias. Matanya memandangi seisi kamar yang tampak sepi. Biasanya akan ada rengekan manja dari Aisyah saat menyambut dirinya pulang kerja.

__ADS_1


Biasanya bila malam menjelang, Aisyah akan meminta bantuan untuk mengerjakan tugas kuliah atau sekedar mengajaknya menonton drama Korea.


Hembusan nafas panjang meminimalisir sesak di dada karena sangat merindukan Aisyah.


****


Keesokan hari Malvyn pulang ke Apartemen lebih awal karena merasa tidak enak badan. Setelah kepergian Aisyah memang membuat selera makan nya berkurang. Kesukaan nya memasak juga tak pernah dilakukan nya lagi.


Ketika baru saja masuk, kening Malvyn berkerut melihat pintu kamar nya terbuka padahal sebelum pergi kerja pagi tadi sudah di tutupnya.


Tangan nya terkepal mengingat siapa yang berani masuk ke dalam kamar nya tanpa izin. Bahkan bibi Lala hendak membersihkan kamar saja harus atas izin nya.


"Jangan, Nyonya. Nanti Tuan muda marah," kata bibi Lala ketika Jesica membuka isi lemari Aisyah dan membongkar perhiasan milik nyonya muda yang sebenarnya.


"Kamu diamlah. Anak kecil itu sudah tidak ada lagi disini. Jadi semua perhiasan ini menjadi milik ku," terang Jesica.


Malvyn mendengar itu menjadi berang. Guci di atas meja tepat berada di samping nya seketika terbanting pecah atas ulah nya membuat dua wanita berada di depan lemari Aisyah terlonjak kaget.


"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke dalam kamar ku dan menyentuh barang-barang Ais?" tanya nya berang.


Dua wanita itu bergidik ngerih melihat Malvyn yang sedang marah.


"Siapa yang mengizinkan mu masuk ke dalam kamarku dan menyentuh barang-barang Ais?" sentak Malvyn tepat di hadapan Jesica.


Bibi Lala melihat pertengkaran itu langsung undur diri tanpa pamit.


PLAK


Tubuh Jesica terhuyung ke kanan karena tamparan dari Malvyn. Ia tak menyangka pria itu mampu berbuat kasar padanya. Ia menatap Malvyn dengan mata berkaca-kaca dengan satu tangan masih berada di pipi bekas tamparan tadi.


"Vyn. Kamu tega sama aku yang sedang mengandung anak kamu? Hanya karena perhiasan ini?" Jesica menangis menerima perlakuan kasar Malvyn.


"Yang kamu ucapkan hanya perhiasan ini justru lebih berharga dari kamu, Jes. Sudah aku katakan kalau aku hanya bertanggung jawab atas anak itu, bukan kamu!!" Tegas Malvyn lalu menarik tangan Jesica menuju pintu kamar.

__ADS_1


Di buka pintu lalu di dorong tubuh Jesica agar keluar dari kamar nya. "Bersikap patuh jika kamu masih mau aku tampung disini!"


❤️


__ADS_2