
"Aahh, sakit." Pekik Aisyah. Ia baru saja mengantarkan Dominic dan Lucas ke sekolah. Ketika akan kembali masuk ke mobil, tangannya ditarik seseorang. Betapa terkejutnya Aisyah pelaku tersebut adalah Malvyn. Ia pun mencoba memberontak tapi cekalan tangan itu begitu erat.
"Apa-apaan kamu Malvyn?" Bentak Aisyah ketika tangannya berhasil terlepas. Keduanya sedang berada di belakang sekolah.
Malvyn sendiri baru saja mengantarkan Jeslyn, keponakannya. Tidak sengaja melihat Aisyah dan ia yakin bila anak mantan istrinya itu juga bersekolah disini.
Malvyn diam saja menatap Aisyah begitu intens. Ada amarah bergemuruh di dada tetapi begitu sulit diungkapkan ketika sudah berada di hadapan Aisyah.
"Dimana anak kita, Ais?" Tanya Malvyn dengan suara lemah.
Pertanyaan Malvyn membuat Aisyah membeku. Ia sudah menduga akan tiba waktunya Malvyn mengetahui semuanya. "Dia sehat. Kamu gak perlu khawatir. Gak ada terjadi sesuatu setelah kamu mendorongku dulu," kata Aisyah telak membuat hati Malvyn sakit mendengarnya.
"Ais. Aku gak tahu kalau kamu sedang hamil waktu itu. Maafin aku," kata Malvyn dengan suara berat menahan tangis membela dirinya.
Aisyah tersenyum miris mendengar pembelaan Malvyn. Memang benar dahulu Malvyn tidak mengetahui kalau dirinya dalam keadaan hamil. Namun, apa dibenarkan mendorong istri sah dihadapan selingkuhan suami?
"Jangan jadikan ketidaktahuan kamu membenarkan tindakan yang sudah kamu lakukan padaku, Vyn." Ungkap Aisyah mencoba menekan emosi yang telah terbendung sejak beberapa tahun lamanya.
Aisyah melangkah menjauhi Malvyn tapi pria itu kembali menghalangi. "Dimana anak kita, Ais?" Tanya Malvyn menahan Aisyah agar tidak pergi.
Tatapan keduanya terkunci. Pancaran mata keduanya menyiratkan kesakitan yang luar biasa. Aisyah berpikir, luka hatinya telah terobati dengan sempurna. Ternyata, ia tidak sanggup menahan air matanya di hadapan Malvyn. Bahkan kini, ia menangis dalam pelukan mantan suaminya itu.
"Maafin aku, Ais. Aku gak pernah tahu kalau kamu hamil. Aku baru tahu kalau kamu hamil semalam. Andai dari awal aku tahu kamu hamil, aku pasti mencarimu dan memperbaiki pernikahan kita." Jantung Malvyn berdetak cepat sekian lama tidak pernah bersentuhan dengan Aisyah lagi. Darahnya berdesir mendapati Aisyah menerima pelukan nya meski tidak membalasnya.
"Ka-kamu juga sudah punya anak dengan Jesica," cicit Aisyah masih menahan sesak di dada.
Malvyn mengurai pelukan dengan kedua tangan berada di lengan atas Aisyah. Menatap wanita yang masih dicintainya hingga sekarang. "Enggak, sayang. Jesica keguguran dan kami gak pernah menikah. Memang kami bertunangan dulu."
Aisyah terpejam manakala jemari Malvyn mengusap air mata di pipinya dengan lembut. Mendengar penjelasan Malvyn, ia menyadari bahwa selama ini sudah salah paham. Jika begini, ia harus berbuat apa?
****
__ADS_1
Aisyah dan Malvyn tersenyum melihat Dominic berjalan lebih dahulu diikuti Lucas dan Jeslyn. Aisyah juga sudah mengetahui bila Jeslyn yang ia kira adalah anak Malvyn, ternyata anak dari Mario dan Malya.
Aisyah juga sudah memberitahu Dominic adalah anak mereka. Tapi, ia belum memberitahukan Jerolin sebagai suaminya sebab ingin mempertemukan mereka secara langsung.
Malvyn mengajak Aisyah dan ketiga anak itu ke sebuah Restoran dekat sekolah. Pria itu tampak sangat antusias sekali ingin segera berkenalan dengan Dominic.
Sesampainya di Restoran dan memesan beberapa menu makanan. Aisyah menatap Malvyn yang masih memandang wajah Dominic. Bagai pinang dibelah dua melihat dua wajah beda generasi itu.
"Dom. Apa ngerasa mirip dengan teman Mom, gak?" Tanya Aisyah kepada Dominic.
Malvyn mendengar pertanyaan Aisyah yang menyebutnya adalah seorang teman. Andai Aisyah tahu, dirinya bagai patung hidup selama ini.
Dominic menoleh ke arah Malvyn dan memandangi pria bule itu sangat intens membuat Malvyn salah tingkah. Pria itu seakan merasa ditatap oleh dirinya sendiri.
"Mom. Siapa om bule ini?" Bisik Lucas kepada Aisyah dan Aisyah hanya dan tersenyum saja.
"Dia mirip sepertiku, Mom." Dominic mengatakan yang dilihatnya. "Persis seperti Lucas dan Papi," lanjutnya lagi.
Aisyah merapatkan duduk disebelah Dominic. Digenggam kedua tangan putra sulungnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga kiri Dominic. "Sayang. Sebelumnya Mom minta maaf padamu. Jangan pernah marah atau kecewa pada Daddy dan Mommy, ya. Kami sama-sama sangat menyayangi kamu. Tapi, takdir membuat kami harus berpisah dan Mom menikah dengan Papi Jero." Wanita hamil itu berbicara dengan suara bergetar menahan tangis.
Aisyah menatap Dominic tampak mata berkaca-kaca. Hatinya semakin sakit melihat itu.
"Jadi ini penyebab mata Dom berbeda dengan Papi dan Lucas, Mom?" Tanya Dominic mengungkapkan rasa penasaran selama ini.
Tatapan Malvyn dan Aisyah menjadi pias mendengar pertanyaan Dominic barusan. Aisyah memeluk Dominic. "Memang wajah dan darah kamu berbeda dengan Papi dan Lucas. Tapi percayalah, Papi sangat menyayangi Dom. Papi yang selalu ada untuk Dom dan Lucas, kan?" Ia mengelus punggung Dominic yang tengah menangis.
Sakit sekali. Dominic memang jarang sekali menangis. Ternyata alasan ini yang membuat sang anak menjadi lebih banyak diam.
"Lucas juga sayang kakak," seru Lucas berdiri dihadapan Aisyah dan Dominic.
***
__ADS_1
"Tuan. Anda sudah terlalu banyak minum," Nick mencegah Jerolin agar tidak minum wine terlalu banyak.
Jerolin terkekeh di tengah mabuknya. "Lihat mereka, Nick. Mereka seperti keluarga bahagia. Sementara aku? Aku hanyalah pria pengganti sementara.
Jerolin beranjak dari duduknya lalu mendekati jendela kaca apartemennya. Sebenarnya Jerolin sudah kembali ke Indonesia dua hari lalu. Tetapi, setelah menerima informasi dari anak buahnya yang menjaga istri dan anak-anaknya membuat ia urung pulang ke Mansion.
Ditambah siang ini mendapat informasi bahwa Aisyah membawa Dominic bertemu dengan Malvyn semakin membuatnya sakit hati. Apalagi hingga sampai saat ini Aisyah belum menceritakan pertemuan dengan Malvyn. Hal itu membuat keyakinannya bahwa Aisyah tidak pernah mencintainya.
"Hutang budi," cicit Jerolin semakin menghimpit dadanya. Ia tertawa keras diakhiri punggung yang bergetar menandakan pria itu tengah menangis.
****
Hari demi hari telah terlewati. Aisyah selalu mengizinkan Malvyn menemui Dominic di waktu sekolah saja sebelum Jerolin kembali. Dominic juga perlahan mulai membiasakan diri atas kehadiran Malvyn.
Agaknya, kelahiran anak ketiga Aisyah lewat dari prediksi. Sekian lama Jerolin tidak memberi kabar membuat Aisyah uring-uringan.
Malvyn sendiri merasa senang atas sikap Aisyah yang tidak menghindar padanya. Apapun alasan dibalik sikap Aisyah, ia berharap hubungannya dengan Dominic semakin dekat. Ia juga tahu keadaan Jerolin sungguh menyedihkan. Ia yakin bila Jerolin tahu fakta saat ini.
Aisyah beranjak dari duduknya. "Dom. Mom harus pergi sebentar, ya. Tetap disini bersama Dad kamu," terang Aisyah setelah menerima sebuah pesan dari Jerolin menunjukkan alamat sebuah tempat yang membuat darahnya mendidih.
"Apa terjadi sesuatu?"
Aisyah menggeleng. "Tolong jaga Dom dan Lucas untukku, Vyn. Sebentar lagi pengasuh mereka akan menjemput."
Aisyah langsung memasuki mobil dan diantar Sopir menuju tempat itu. Setelah sampai dan melihat Jerolin sudah tampak rapi duduk di kursi tunggu.
"Jerolin Marley!!!" Pekik Aisyah ketika sudah dekat dan berdiri tidak jauh dari Jerolin.
Ketika Jerolin berdiri. Aisyah melayangkan tamparan kepada pria itu.
PLAK
__ADS_1
"Kamu kira aku boneka, hah?!!"