Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 96


__ADS_3

"Apa maksud kamu, nak?" tanya mami Ivy menatap Aisyah dengan intens. Tentu saja wanita paruh baya itu menangkap setiap ucapan dari menantunya.


Pandangan Aisyah mengarah pada mami Ivy. Sekuat tenaga menahan tangis karena tak ingin terlihat lemah. "Ais titip ini untuk Malvyn," katanya menggeser amplop cokelat menyerahkan amplop itu kepada sang mami mertua.


Mami Ivy membuka amplop dan mengeluarkan selembar kertas berisi pengajuan surat perceraian. Aisyah telah menggugat cerai Malvyn.


Oma Nadira juga penasaran langsung mengambil kertas tersebut. "Kenapa kamu menggugat cerai maly, sayang?" tanya beliau membuat Aisyah menghela nafas panjang.


Sedangkan papi Edzard dan opa Qenan hanya diam memerhatikan Aisyah.


Aisyah memberanikan menatap para orang tua tersebut. "Ais menyerah. Ais enggak sanggup harus berbagi suami. Mungkin Ais menerima Malvyn sudah berhubungan dengan Jesica sebelum kami menikah, tapi bukan berarti setelah menikah mereka bebas berhubungan."


Mami Ivy mulai mengerti dengan penjelasan yang diberikan Aisyah. "Benar kalau Malvyn masih berhubungan dengan Jesica?"


Aisyah memberanikan diri menatap mami Ivy. Sekuat tenaga dirinya menggigit bagian dalam bibir bawah nya. Tetapi, air mata itu tak terbendung lagi hingga menetes di pipinya. "Bahkan Jesica sudah hamil dan tinggal di apartemen Malvyn, mi. Maaf, Aisyah menyerah."


"Apa?!!"


Papi Edzard dan Opa Qenan terperanjat atas menjelaskan dari Aisyah. Oma Nadira tampak lemah dan tak sadarkan dini.


"Mi Amor!!"


"Mom!"


"Oma!"


Keadaan semakin kacau ketika Oma Nadira tak sadarkan diri. Semua orang panik begitu juga dengan Aisyah.


Mereka termasuk Aisyah pergi ke Rumah Sakit terdekat. Tidak ada yang membahas masalah tersebut karena fokus pada keselamatan Oma Nadira.


***

__ADS_1


"Panggil anak itu kesini," kata opa Qenan dingin menyiratkan emosi yang tertahan.


Papi Edzard mengangguk dan segera menghubungi Malvyn.


Aisyah hanya diam duduk di kursi tunggu dengan John dan Johan duduk disisi kanan dan kiri. "Apa Pak John bawa jus lemon Ais?" tanya nya pelan kepada John.


John mengangguk lalu membuka botol minum berisi jus lemon dan diserahkan kepada Aisyah.


Semenjak hamil Aisyah selalu muntah disetiap pagi hari dan mual sepanjang hari. Meminum air lemon demi mengurangi rasa mual.


"Pesawat akan terbang dua jam lagi," kata Johan mengingatkan.


Aisyah mengangguk mengerti. "Aku harap sebelum satu jam ke depan, Oma sudah sadar. Aku hanya ingin melihat keadaan nya dulu, pak."


Kedua pengawal itu mengangguk mengerti. Bagi mereka, kesehatan dan kebahagiaan Aisyah lebih utama. Semoga setelah ini tak ada lagi drama yang menghambat perpisahan mereka.


35 menit kemudian. Tampak Malvyn berjalan cepat terburu-buru.


Aisyah bangkit. "Kita pergi, pak?" Katanya tak ingin melihat kedua orang itu. Rasanya sakit masih sama. Di setiap langkahnya, ia melantunkan harapan agar kehidupan baru nya tak lagi bertemu dengan mereka.


"Jaga kesehatan. Jangan banyak buat ulah. Ingat, nyonya sedang hamil!" kata Johan kepada Aisyah yang masih diam saja ketika dalam perjalanan.


Aisyah menatap Johan dari kaca spion tengah. "Iya, pak. Aku akan ingat itu, aku akan jaga anak ini. Aku janji," sahutnya sembari mengelus perut yang masih rata.


John dan Johan merasa lega mendengar sahutan dari Aisyah. Harapan mereka sama besar seperti Aisyah.


Sesampainya di Bandara ketiganya jalan bersama memasuki tempat itu. Aisyah bersyukur ada kedua pengawalnya sehingga dapat melakukan keberangkatan ini. Senyuman nya terukir mengingat kedua kakak nya di kampung halaman telah mengizinkan dirinya pergi.


"Jaga dirimu nyonya disana," kata John ketika panggilan pesawat kepada para penumpang.


Aisyah mengangguk disertai senyuman. Matanya kembali berkaca-kaca menatap kedua pengawalnya. "Ais pasti akan sangat merindukan kalian," katanya lalu memeluk Johan dan John juga memeluknya.

__ADS_1


"Hati-hati. Segera hubungi kami," kata Johan dan diangguki oleh Aisyah.


"Aku tunggu kedatangan nya saat aku melahirkan," kata Aisyah memaksakan senyum.


****


PLAK


Bug


"Malvyyynn," pekik Jesica melihat Malvyn tersungkur dilantai akibat dari pukulan dan tamparan papi Edzard. Sebelumnya, mami Ivy juga telah memberi tamparan.


Jesica begitu khawatir hingga ikut berlutut bersama Malvyn. "Kamu gak apa-apa?" tanya nya khawatir.


Apa yang dilakukan Jesica semakin membuat keluarga Malvyn semakin naik pitam. Begitu juga Malvyn menjadi kesal karena sebenarnya tak ingin mengajak wanita itu tapi memaksa untuk ikut.


Papi Edzard melemparkan sebuah amplop berwarna cokelat kehadapan Malvyn. "Cepat tanda tangani itu dan segera pergi dari keluargaku," kata beliau dingin.


"Dan kamu! selamat telah menjadikan anak saya pria berengsek. Wanita muraahan!" sentak mami Ivy. Sementara Jesica hanya diam menunduk.


Malvyn membuka amplop berwarna cokelat yang diberikan papi Edzard. Matanya terbelalak, detak jantung nya seakan terhenti ketika baru saja membaca selembar kertas di dalam amplop tersebut.


Tangan nya bergetar membaca nya. "Apa Ais datang kesini, Pi?" tanya nya dengan bibir bergetar. Inilah yang ditakutinya selama ini.


"Karena kebodohan mu membuat istri saya terbaring disini. Cepat pergi dari hadapan ku dan bawa wanita mu itu. Saya tidak menerima keturunan diluar nikah!!"


❤️


Untuk buat salah satu pembaca ku, kak Ratna Dadank selamat ulang tahun. Sehat selalu dan tetap bahagia.


Mampir di karya temen aku juga ya..

__ADS_1



__ADS_2