
Sedari tadi Aisyah diam saja dengan air mata yang terus menetes. Tangan kiri nya sudah terpasang jarum infus. Grace juga menemani dan sudah mengetahui kehamilan nya.
Hatinya sangat sakit apalagi sudah mengetahui acara yang digelar Malvyn dan Jesica. Ia tidak tahu acara itu tujuan nya apa, tak diyakini mereka berdua adalah bintang utama dan pasti menyangkut kehamilan Jesica.
Tangisan nya semakin pecah mengingat anak nya tidak akan mengetahui siapa ayah nya.
"Jangan menangis lagi, Ais. Ingat, kesehatan anak kamu lebih pernyik sekarang."
Aisyah menoleh menatap Grace yang terlihat khawatir padanya. Dilihat juga pria yang membuatnya pingsan sedang duduk di sofa tengah melihat nya juga.
Pria itu bangkit dan berjalan mendekati brankar membuat Aisyah mengepal tangan erat. Antara benci dan takut.
"Akhirnya kamu sadar juga," ucap pria itu berdiri tepat di samping brankar Aisyah.
"Pergi. Aku mohon jangan sakiti aku lagi. Kalian semua penjahat!" sentaknya membuat Grace bangkit mendekati.
"Ais. Aku mohon jaga emosimu," kata Grace menenangkan Aisyah.
"Gak bisa kah kalian menjauh dari hidupku, Om? apa kalian belum puas sudah merampas kebahagiaan ku? belum puaskah kalian sudah membunuh orang tua ku?" cecar Aisyah histeris membuat Grace dan Jerolin panik.
Ya, pria itu adalah Jerolin. Seorang mafia yang memiliki bisnis yang berlimpah. Bukan hanya di dunia gelap.
Alasan Jerolin belum membalas perbuatan Jesica ialah bisnis nya masih membutuhkan pertanggung jawaban. Selama di luar negeri, ia memerintahkan anak buah nya mencari keberadaan Aisyah yang selama ini di sembunyikan dua pengawal handal itu. Tetapi, takdir sedang berpihak padanya, tanpa dicari sudah bertemu dengan pujaan hatinya.
Tetapi, mendengar Aisyah hamil membuatnya patah hati.
"Ais!!!" pekik Jerolin ketika jarum infus terlepas hingga membuat darah mengalir deras.
Jerolin langsung mendekap erat tubuh Aisyah yang masih terguncang. Tidak perduli bila darah dari tangan pujaan hatinya itu sudah mengenai kemeja yang dikenakan.
Jerolin mengelus punggung Aisyah sangat lembut, membiarkan wanita muda itu menangis dalam dekapan nya.
Grace melihat darah terus mengalir segera keluar memanggil Dokter yang bertugas. Gadis itu masih syok dengan apa yang terjadi. Bermula ketika kedatangan Jerolin, Aisyah yang ketakutan melihat bos nya itu hingga kejadian barusan.
Pradugaa terus menghampiri, apalagi baru saja mengetahui kenyataan bahwa Aisyah tengah mengandung. Mengingat hal itu keyakinan nya ialah yang menghamili teman baru nya adalah Jerolin.
Memikirkan itu semakin membuat Grace iba kepada Aisyah yang masih sangat muda.
***
__ADS_1
"Tolong jangan buat pasien banyak pikiran. Apalagi memiliki riwayat keguguran," terang Dokter setelah memeriksa keadaan Aisyah.
Perawat juga telah memasang jarum infus telah dipasang kembali. Aisyah juga masih terlelap.
Jerolin mengangguk mengerti. Ia pun menjabat tangan dan mengucapkan terimakasih kepada sang Dokter. Kemudian langkahkan kaki mendekati Aisyah yang berbaring tanpa perduli kan Grace yang masih ada disana.
Grace sendiri memilih keluar karena merasa tidak dibutuhkan lagi. Ia begitu takjub dengan perlakuan Jerolin begitu lembut kepada Aisyah. Padahal, selama dirinya bekerja paruh waktu di Kafe pria itu sangat kejam karena tak segan memecat karyawan yang melakukan kesalahan baik itu sengaja ataupun tanpa sengaja.
Gadis itu juga bersyukur jika memang Jerolin sudah berada di samping Aisyah maka tak akan lagi bekerja mengingat sedang mengandung.
***
"Kenapa kamu belum pergi juga?" tanya Aisyah ketus kepada jerolin setelah dua jam terlelap. Ketika bangun, ia tidak menemukan Grace melainkan Jerolin.
Jerolin bangkit dengan ponsel Aisyah ditangan nya. "Tadi ponsel kamu terus berdering," katanya menyerahkan ponsel kepada Aisyah.
Aisyah menerima dan melihat siapa yang telah menghubunginya. Matanya mendelik ketika ratusan kali panggilan tak terjawab dari dua pengawal nya.
Masih berbaring setengah duduk, Aisyah merapikan rambutnya. Tetapi, melihat seragam pasien yang menutupi tubuhnya membuat nya bingung. Jerolin yang mengerti membawakan selimut yang tadi dibawakan oleh Grace. Diselimuti tubuh Aisyah hingga ke leher meski wanita muda itu memasang wajah garang terhadapnya.
Aisyah sempat melirik sebelum akhirnya menyapa Johan dengan senyum yang dipaksakan. "Hai, paman."
"Katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi?" tanya John terdengar khawatir*.
Aisyah tak dapat membendung tangisan nya. Lagi-lagi dirinya menangis karena Malvyn.
"Aku salah apa, Paman? kenapa sangat sakit? Dosa apa yang telah aku buat dimasa lalu? Aku akui dulu sering bolos belajar disekolah. Tapi kenapa hukuman untukku begitu menyiksa? Mereka sudah bersama, kan? Mereka gak akan ambil keluarga ku lagi, kan?" cecar nya. Tangisnya pecah, ia menutup wajahnya dengan satu telapak tangan.
Jerolin bangkit melihat Aisyah menangis. Tetapi urung karena mendapat tatapan tajam dari sang pujaan hati.
Diseberang telepon John dan Johan hanya dapat diam memerhatikan Aisyah yang menangis. Tak pula lupa menenangkan agar tetap semangat demi buah hati.
****
Jerolin bangkit mendekati Aisyah yang masih menangis meski panggilan video itu telah terputus. "Maaf," ucapnya lirih, duduk di sebelah brankar.
"Apa maaf dapat mengembalikan orang tua dan anak pertama ku?" tanya Aisyah membuat Jerolin bungkam.
"Aku tahu, kamu sangat membenci ku karena ikut andil dalam masalah kalian. Jesica adalah adik angkat ku, adik kandung ku bernama Jelena. Awal nya kami mengira, Jelena meninggal bunuh diri karena cinta nya di tolak Malvyn. Tapi, nyatanya salah. Jesica membunuh Jelena karena merasa iri mendapat perhatian lebih dari kami juga tak ingin Malvyn dimiliki oleh orang lain. Maafkan aku yang sangat memanjakan Jesica sampai-sampai membiarkan apa saja yang dilakukan nya. Tapi aku bersumpah demi apapun, Ais. Aku gak pernah tahu dan terlibat atas apa yang dilakukan Jesica selain dahulu saat kamu masih kecil."
__ADS_1
Aisyah hanya diam membisu. Rasanya begitu sulit untuk mempercayai orang lain. Terlebih Jerolin adalah kakak dari dalang penghancur hidupnya.
Jerolin memberikan iPad nya kepada Aisyah. "Aku punya bukti-bukti atas kelakuan Jesica dan aku enggak ikut andil disana karena aku berada di Italia mengurus pekerjaan ku. Aku juga tidak tahu kalau kamu bekerja di Kafe ku," terangnya membiarkan Aisyah melihat gambar-gambar rekaman CCTV juga.
Aisyah menyerahkan iPad itu padahal belum semua kejahatan Jesica dilihat nya. Rasanya tak sanggup lagi.
"Aku gak tahu harus percaya kamu atau gak."
****
"Sudah saat nya kita membalas kesakitan Ais, Johan."
Johan mengangguk lalu di teguk lagi minuman keras itu, di tuang lagi dan di teguk lagi. Rasanya sudah tak tahan melihat Aisyah menderita seorang diri disana.
Apalagi setelah melihat bagaimana keadaan Aisyah dari panggilan telepon tadi. Mata merah, sembab, dan bengkak. Wajah yang pucat semakin membuat John dan Johan meradang.
*Aku akan membalasmu, Jesica.
❤️
Assalamualaikum..
Siang kesayangan.
Oh iya, aku mau minta maaf sebelumnya karena alur cerita aku ubah sedikit, ya. Maaf kalau udah buat kalian kecewa.
Dari sini aku bisa lihat mana pembaca setia ku.
Oh iya, mau minta tolong kalau udah bosen baca cerita Malvyn itu Jangan buat Rate karya aku rendah ya.. cukup di bintangi 5 aja. Kalau gak mau kasih bintang 5, Tolong Jangan kasih bintang apapun 🙏
Berkarya gak seenak jidat asal nulis, seenggak nya hargai karya seseorang walaupun gak suka.
Dan satu lagi.. Untuk novel Gadhing dan Nasya pengumuman tanggal 1 Februari.
Ada lagi satu lagi, Insyaallah bulan puasa aku mau bagi angpao untuk pembaca setia. 2 orang yang beruntung.
Ingat ya, pembaca setia.
Terimakasih sekali lagi*..
__ADS_1